Banjir Lima Hari di Pasirsari: Warga Mendesak Perbaikan Tanggul Sungai Bremi
Banjir di wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan masih belum surut setelah tanggul Sungai Bremi jebol sejak Rabu, 25 Maret 2026. Hingga Senin, 30 Maret 2026, air masih menggenangi permukiman warga di empat wilayah terdampak, terutama di daerah Pasirsari. Warga yang terdampak mengeluhkan lambatnya penanganan dari pemerintah dan otoritas terkait, karena perbaikan tanggul selama ini hanya dilakukan secara darurat dan belum menyentuh solusi permanen.
Banjir Berkepanjangan di Pekalongan dan Dampaknya
Kejadian jebolnya tanggul Sungai Bremi ini menyebabkan banjir yang bertahan selama lima hari berturut-turut, menggenangi rumah-rumah warga dan lahan pertanian di sekitar sungai. Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari akses ke sekolah, tempat kerja, hingga distribusi kebutuhan pokok yang menjadi terhambat.
Empat wilayah terdampak utama yang mengalami banjir cukup parah adalah Pasirsari, serta beberapa desa di Kota dan Kabupaten Pekalongan. Air yang merendam kawasan ini mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur jalan dan fasilitas umum, memperburuk kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Keluhan Warga atas Penanganan yang Lambat dan Darurat
Sejumlah warga Pasirsari menyampaikan kecewa dan frustasi karena tanggul yang jebol hanya diperbaiki secara darurat menggunakan material sementara. Mereka menilai langkah tersebut tidak cukup untuk mencegah banjir susulan dan tidak memberikan jaminan keamanan jangka panjang bagi permukiman mereka.
"Kami sudah lima hari terendam banjir, tapi perbaikan tanggul masih sebatas tambal-sulam. Kami butuh tindakan serius agar banjir tidak terus-menerus terjadi," ujar salah satu warga terdampak.
Warga juga mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera menggelar perbaikan tanggul secara permanen dan melakukan mitigasi bencana yang lebih baik agar kejadian serupa tidak terulang.
Sejarah dan Pentingnya Perbaikan Tanggul Sungai Bremi
Sungai Bremi merupakan salah satu sumber aliran utama yang melintasi wilayah Pekalongan, yang selama ini telah menjadi vital bagi irigasi pertanian dan pengendalian banjir. Namun, tanggul yang ada sudah menunjukkan kerusakan dan keausan akibat faktor alam dan minimnya perawatan berkala.
Menurut para pakar lingkungan dan infrastruktur, perbaikan tanggul yang dilakukan secara permanen akan melibatkan penguatan struktur tanggul, sistem drainase yang lebih baik, serta penataan kawasan rawan banjir di sekitar sungai. Ini penting untuk menjaga keselamatan warga dan keberlanjutan ekonomi daerah.
Langkah Pemerintah dan Respons Terbaru
Pemerintah daerah telah mengerahkan tim tanggap darurat dan alat berat untuk memperbaiki tanggul secara temporer. Namun, hingga saat ini belum ada rencana konkret yang diumumkan terkait perbaikan permanen atau pembangunan tanggul baru yang lebih kuat.
Menurut laporan RRI Semarang, warga berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis agar bencana banjir tidak menjadi masalah tahunan yang merugikan berbagai sektor.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kejadian banjir berkepanjangan akibat jebolnya tanggul Sungai Bremi ini bukan hanya persoalan teknis semata, melainkan juga cerminan dari lemahnya pengelolaan sumber daya air dan mitigasi bencana di daerah Pekalongan. Penanganan darurat yang hanya bersifat sementara menunjukkan kurangnya perencanaan jangka panjang yang memadai.
Jika pemerintah tidak segera melakukan tindakan perbaikan permanen dan peningkatan kapasitas tanggul serta sistem pengendalian banjir, maka risiko kerusakan infrastruktur dan kerugian sosial ekonomi yang dialami warga akan semakin memburuk. Selain itu, ketidakpastian penanganan juga berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Ke depan, penting bagi pemerintah untuk melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli lingkungan, insinyur sipil, dan masyarakat lokal, dalam merancang solusi yang komprehensif. Perbaikan tanggul Sungai Bremi harus menjadi prioritas untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan warga Pekalongan. Warga dan pemangku kepentingan juga harus terus memantau perkembangan penanganan banjir agar upaya mitigasi benar-benar efektif.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0