Harga Emas Ambruk 14% di Maret, Terburuk dalam 17 Tahun Terimbas Konflik Timur Tengah
Harga emas mengalami penurunan tajam sebesar 14,6% sepanjang Maret 2026, mencatat rekor penurunan bulanan terburuk dalam 17 tahun terakhir. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Oktober 2008 ketika harga emas ambruk 16,9%. Namun, dalam beberapa hari terakhir, harga emas kembali menguat akibat meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah.
Harga Emas Menguat Akibat Konflik Timur Tengah
Harga emas tercatat menguat di tengah ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah. Konflik yang belum menunjukkan tanda penyelesaian ini mendorong investor beralih ke emas sebagai aset pelindung nilai. Menurut data dari Refinitiv, harga emas ditutup pada posisi US$ 4510,24 per troy ons pada Senin, 30 Maret 2026, naik 0,39% dan memperpanjang reli selama dua hari berturut-turut dengan kenaikan sebesar 2,9%.
Namun, pada perdagangan Selasa (31/3/2026) pagi, harga emas sedikit melemah menjadi US$ 4507,66 per troy ons, turun sekitar 0,6%. Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyatakan:
"Perang masih berlangsung panas dan belum ada tanda-tanda penyelesaian, sehingga mendorong harga emas naik karena permintaan safe haven. Fokus pasar jangka pendek akan pada perang, harga minyak mentah, imbal hasil obligasi, dan indeks dolar AS."
Ketegangan ini semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika negara tersebut tidak membuka Selat Hormuz, setelah Teheran menolak proposal damai AS dan meluncurkan gelombang rudal ke Israel.
Penurunan Harga Emas Terparah Sejak Krisis 2008
Meski terjadi penguatan dalam dua hari terakhir, harga emas di bulan Maret mencatat penurunan yang sangat dalam, mencapai 14,6%. Ini merupakan koreksi terbesar sejak krisis keuangan global pada 2008. Penyebab utama penurunan ini adalah lonjakan harga energi yang meningkatkan kekhawatiran inflasi serta mendorong pasar untuk menilai ulang ekspektasi suku bunga global.
Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Namun, karena emas tidak menghasilkan imbal hasil seperti bunga, saat suku bunga tinggi, minat investor terhadap emas cenderung berkurang.
Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, menyatakan bahwa bank sentral akan menunggu dampak perang Iran terhadap ekonomi dan inflasi sebelum mengambil keputusan kebijakan suku bunga lebih lanjut. Saat ini, suku bunga acuan AS dipertahankan di kisaran 3,50%–3,75%.
Data Ekonomi AS Jadi Faktor Penentu Selanjutnya
Data ekonomi penting AS yang akan dirilis pekan ini, seperti lowongan kerja, penjualan ritel, laporan ketenagakerjaan ADP, dan data nonfarm payrolls, akan menjadi faktor kunci yang mempengaruhi pergerakan harga emas ke depan.
Analis pasar Fawad Razaqzada dari City Index dan FOREX.com memandang bahwa harga emas harus mampu menembus level US$ 4.700–US$ 4.750 per troy ons agar pemulihan jangka pendek dapat terkonfirmasi. Ia menambahkan:
"Jika emas tidak mampu menembus level tersebut, maka kenaikan ini berisiko kembali melemah seperti yang terjadi sebelumnya."
Harga Perak Ikut Menguat Seiring Reli Emas
Senada dengan emas, harga perak juga menunjukkan penguatan. Harga perak ditutup di posisi US$ 69,74 per troy ons pada Senin (30/3/2026), naik 0,56% dan memperpanjang reli dua hari berturut-turut sebesar 2,87%. Namun, pada Selasa pagi (31/3/2026), harga perak melemah tipis sebesar 0,34%.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penurunan drastis harga emas sepanjang Maret 2026 mencerminkan ketidakpastian tinggi di pasar global akibat kombinasi konflik geopolitik dan dinamika suku bunga. Meskipun emas adalah aset safe haven, kenaikan suku bunga dan ekspektasi inflasi yang bergejolak membuatnya kurang menarik bagi investor jangka pendek yang mencari imbal hasil.
Ke depan, pergerakan harga emas sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan keputusan kebijakan moneter bank sentral, khususnya Federal Reserve AS. Jika ketegangan terus meningkat, emas berpotensi kembali naik karena permintaan safe haven meningkat. Namun, jika suku bunga kembali naik secara agresif, tekanan pada emas dapat berlanjut.
Masyarakat dan investor harus memantau dengan cermat data ekonomi AS serta dinamika geopolitik terbaru. Pilihan investasi dalam emas sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan jangka panjang dan kesiapan menghadapi volatilitas pasar yang tinggi.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini, Anda dapat membaca laporan aslinya di CNBC Indonesia serta mengikuti perkembangan berita dari portal berita terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0