BPBD Agam: 100 KK Pengungsi Banjir Sudah Kembali ke Rumah Kamis Pagi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengonfirmasi bahwa sebanyak 100 Kepala Keluarga (KK) dengan total sekitar 300 jiwa yang sempat mengungsi akibat banjir di Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, telah kembali ke rumah mereka pada Kamis pagi, 2 April 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, menyampaikan bahwa banjir yang terjadi akibat hujan deras pada Rabu sore, 1 April sekitar pukul 17.30 WIB, menyebabkan ratusan warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat dan warga sekitar demi keselamatan.
"100 KK sudah kembali ke rumahnya setelah banjir sudah menyusut pada Kamis (2/4) pagi," ujar Rahmat Lasmono di Lubuk Basung.
Penyebab dan Dampak Banjir Berulang di Jorong Labuah
Menurut Rahmat, banjir tersebut terjadi karena meluapnya air Sungai Batang Kumayo yang dipicu oleh pendangkalan badan sungai. Pendangkalan ini merupakan akibat dari banjir bandang yang pernah melanda daerah tersebut pada November 2025 lalu.
"Ini merupakan bencana banjir berulang apabila curah hujan cukup tinggi, setelah badan sungai terjadi pendangkalan," tambahnya.
Banjir yang melanda tersebut merendam sekitar 10 rumah warga dengan ketinggian air mencapai 50 centimeter. Selain itu, banjir juga menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan TK Labuah, yang dindingnya sempat jebol karena terjangan air.
Upaya Penanggulangan dan Antisipasi Banjir Susulan
Untuk mengantisipasi banjir susulan, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang telah melakukan normalisasi aliran Sungai Batang Kumayo pada akhir tahun 2025. Namun, Rahmat menegaskan bahwa normalisasi ini hanya bersifat sementara.
"Jika curah hujan masih tinggi, material bebatuan dari hulu akan turun sehingga kembali terjadi pendangkalan," jelasnya.
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Agam telah mengusulkan pembangunan sabo dam di hulu sungai sebagai solusi jangka panjang. Sabo dam ini berfungsi untuk menahan material bebatuan agar tidak terbawa ke hilir, sehingga mengurangi risiko banjir di sepanjang aliran sungai.
"Kita telah mengusulkan pembangunan sabo dam ke Balai Wilayah Sungai Sumatera V Padang," kata Rahmat.
Konsekuensi dan Harapan Masyarakat
Banjir yang berulang di daerah ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian material dan trauma bagi warga terdampak. Dengan adanya usulan pembangunan sabo dam, diharapkan risiko banjir dapat diminimalisir dan warga bisa lebih tenang menjalani kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pemerintah dan masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan ketika memasuki musim hujan, serta mendukung upaya-upaya normalisasi dan mitigasi bencana yang sedang dilakukan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kejadian banjir berulang di Agam ini menyoroti pentingnya pendekatan mitigasi bencana yang berkelanjutan dan terintegrasi. Normalisasi sungai yang bersifat sementara memang bisa meringankan dampak, namun tanpa pengelolaan hulu yang efektif seperti pembangunan sabo dam, potensi banjir bandang dan pendangkalan sungai akan terus terjadi.
Usulan pembangunan sabo dam merupakan langkah strategis yang harus segera direalisasikan agar tidak hanya menanggulangi dampak, tetapi juga mengurangi frekuensi bencana di masa depan. Pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi dengan instansi terkait dan melibatkan masyarakat dalam menjaga lingkungan agar fungsi sungai tetap optimal.
Ke depan, pengawasan rutin dan edukasi mitigasi bencana harus menjadi prioritas untuk mengubah pola risiko bencana yang selama ini terjadi. Warga juga harus selalu siaga dan mengikuti arahan pemerintah terkait potensi bencana, terutama di daerah rawan seperti Jorong Labuah.
Informasi terbaru dan perkembangan situasi dapat dilihat melalui situs resmi ANTARA dan media pemerintah terkait.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0