Matinya Kepakaran di Era Media Sosial: Mengapa Opini Mengalahkan Sains?

Apr 1, 2026 - 21:20
 0  3
Matinya Kepakaran di Era Media Sosial: Mengapa Opini Mengalahkan Sains?

Dalam era digital saat ini, opini di media sosial sering kali dianggap lebih valid ketimbang hasil penelitian ilmiah atau pendapat para ahli. Fenomena ini dikenal sebagai matinya kepakaran yang semakin marak di Indonesia. Kasus terbaru yang menyita perhatian adalah pernyataan seorang ibu pegiat herbal yang mengklaim tuberkulosis (TBC) bisa disembuhkan hanya dengan obat herbal, serta gerakan antivaksin COVID-19 yang menolak sains dan rekomendasi medis resmi.

Ad
Ad

Apa Itu 'Matinya Kepakaran' dan Mengapa Terjadi?

Istilah matinya kepakaran pertama kali populer melalui buku The Death of Expertise karya Tom Nichols. Dalam konteks ini, masyarakat modern mulai kehilangan kepercayaan terhadap para ahli dan pakar di bidangnya. Faktor utama yang mendorong fenomena ini adalah kemudahan akses informasi melalui media sosial. Namun, tidak semua informasi yang tersebar memiliki dasar ilmiah yang kuat, namun tetap dianggap setara oleh pengguna media sosial.

Menurut Tom Nichols, dan dikutip oleh laporan Yoursay Suara.com, matinya kepakaran juga diperparah oleh gerakan anti-intelektualisme yang menolak otoritas resmi seperti lembaga kedokteran dan media massa. Pada saat yang sama, populisme digital membuat suara mayoritas di dunia maya dianggap lebih benar daripada analisis ilmiah yang kompleks.

Contoh Nyata Matinya Kepakaran di Indonesia

Fenomena ini bukan sekadar teori. Pada masa pandemi COVID-19, kita menyaksikan banyak hoaks dan misinformasi yang beredar luas. Mulai dari klaim tak berdasar seperti "COVID-19 hanya akal-akalan pemerintah" hingga penolakan vaksin yang berbahaya. Bahkan, kasus pemukulan dokter di Batam karena membawa jenazah pasien COVID-19 menjadi bukti nyata bagaimana ketidakpercayaan pada pakar bisa berujung pada tindakan kekerasan.

Selain itu, pernyataan kontroversial seorang ibu yang mengklaim TBC sembuh dengan obat herbal dan menyebut dokter sebagai "kumpulan manusia bermain Tuhan" menunjukkan bagaimana opini pribadi bisa menimbulkan kegaduhan dan menurunkan kepercayaan terhadap dunia medis.

  • Kasus antivaksin yang menganggap vaksin sebagai tipu muslihat
  • Penyebaran hoaks tentang vaksin yang menyebabkan kematian
  • Pernyataan pejabat yang menimbulkan kontroversi dan kebingungan
  • Penolakan masyarakat terhadap protokol kesehatan dan pengobatan medis

Faktor Penyebab Matinya Kepakaran

Selain kemudahan akses informasi dan populisme digital, ada beberapa faktor lain yang mendukung fenomena ini:

  1. Trauma dan kecewa pada otoritas: Contohnya, ketika seseorang mengalami kejadian buruk meski mengikuti anjuran medis, seperti kehilangan anak setelah vaksinasi, mereka cenderung mencari penjelasan alternatif dan menolak pakar.
  2. Efek berita negatif berlebihan: Konsumsi berita yang terlalu banyak, terutama berita buruk, membuat orang mudah pesimis dan curiga terhadap otoritas, sebagaimana dijelaskan oleh Rolf Dobelli dalam bukunya Stop Membaca Berita.
  3. Populisme digital: Keyakinan bahwa suara mayoritas di media sosial lebih valid daripada data ilmiah.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena matinya kepakaran adalah tantangan serius yang harus dihadapi bangsa ini, terutama di tengah arus informasi yang deras dan mudah diakses. Ketidakpercayaan terhadap tenaga medis dan ahli tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga merusak fondasi pengetahuan yang dibangun secara ilmiah.

Lebih jauh, ini menunjukkan bahwa masyarakat perlu didorong untuk memiliki literasi digital dan ilmiah yang lebih baik agar mampu memilah informasi valid dan hoaks. Pemerintah dan lembaga terkait harus aktif melakukan edukasi dan klarifikasi agar hoaks dan disinformasi tidak terus merajalela. Jika tidak, konsekuensinya adalah meningkatnya risiko kesehatan masyarakat dan melemahnya kepercayaan pada institusi resmi yang berpotensi menghambat kemajuan bangsa.

Ke depan, kita harus terus mengawasi perkembangan fenomena ini dan mencari solusi inovatif melalui kolaborasi antara pemerintah, media, dan masyarakat agar matinya kepakaran dapat dibalik dan kepercayaan terhadap sains kembali pulih.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad