Produksi Sampah Medan Meningkat Drastis Saat Banjir, TPA Terjun Hampir Penuh
Kota Medan menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah, terutama saat musim banjir. Produksi sampah di Medan yang biasanya berkisar antara 1.300 hingga 1.500 ton per hari, meningkat drastis hingga mencapai 7.000 ton per hari saat banjir—angka yang sangat mengkhawatirkan mengingat kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun yang hampir penuh.
Kondisi Produksi Sampah dan Kapasitas TPA Terjun
Kota Medan, dengan luas wilayah sekitar 265 kilometer persegi dan penduduk yang mencapai 2,5 juta jiwa pada malam hari serta meningkat hingga 4 juta jiwa saat siang hari, menghasilkan volume sampah yang sangat besar. Wali Kota Medan, Rico Waas, menyampaikan bahwa saat banjir, produksi sampah meningkat signifikan akibat banyaknya barang rusak yang menjadi sampah. Pada November 2025 lalu, produksi sampah sempat mencapai 7.000 ton dalam sehari.
Medan hanya memiliki satu TPA, yaitu TPA Terjun seluas 14 hektare. Namun, dari luas tersebut, hanya tersisa 2 hingga 3 hektare yang belum terisi. Sampah yang sudah menumpuk mencapai sekitar 600.000 ton. Jika tidak segera diatasi, diperkirakan TPA Terjun akan mengalami overload pada 2029, yang tentu akan menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Inisiatif Pemerintah Kota Medan dalam Pengelolaan Sampah
Untuk mengatasi persoalan ini, Pemko Medan telah menyiapkan lahan seluas 5 hektare untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah yang juga menghasilkan listrik, yaitu proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Energi listrik yang dihasilkan nantinya akan dijual ke PLN sebagai sumber pendapatan daerah sekaligus solusi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
Pemko juga aktif mendorong gerakan gotong royong berbasis masyarakat, seperti program rutin "Sapa Warga" setiap Minggu dan "Gotong Royong Raya" yang melibatkan sekitar 3.000 personel dari 21 kecamatan untuk membersihkan titik-titik sampah kritis di Medan.
Namun, pembangunan fasilitas pengolahan sampah ini membutuhkan biaya besar. Studi banding ke Jakarta menunjukkan bahwa pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) bisa mencapai biaya sekitar Rp1,7 triliun, yang tentu sangat berat jika hanya mengandalkan APBD Kota Medan sebesar Rp7 triliun. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah pusat sangat diharapkan.
Tantangan Serupa di Jakarta dan Pentingnya Kolaborasi Antar Daerah
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, menegaskan bahwa persoalan sampah juga menjadi tantangan besar di Jakarta meskipun didukung dengan anggaran yang besar. Ia mencontohkan kejadian longsor di tempat pengolahan sampah yang menelan korban jiwa sebagai bukti seriusnya persoalan ini.
Menurut Yuke, pengelolaan sampah harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengurangan sampah di hulu hingga pengelolaan di hilir. Namun, tantangan terbesar adalah perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. Pendekatan regulasi dan sosialisasi menjadi kunci utama untuk mendorong perubahan ini.
Kunjuangan Komisi D DPRD DKI Jakarta ke Medan menjadi momentum penting untuk saling bertukar pengalaman dan mencari solusi bersama menghadapi persoalan sampah yang tidak hanya menjadi masalah lokal, tetapi juga nasional.
Langkah Ke Depan dan Harapan Pemerintah Kota Medan
Wali Kota Rico Waas menegaskan bahwa Pemko Medan terus berusaha menambah ketersediaan lahan untuk pengelolaan sampah jangka panjang dan memperkuat sinergi antar daerah. Ia menekankan pentingnya komunikasi dan kolaborasi antara eksekutif dan legislatif dari berbagai daerah demi mencapai solusi terbaik untuk lingkungan dan masyarakat.
"Tujuan kita sama, yaitu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat," tegas Rico.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, lonjakan produksi sampah hingga 7.000 ton per hari saat banjir di Medan bukan hanya masalah kapasitas TPA saja, melainkan juga cerminan krisis pengelolaan sampah yang membutuhkan pendekatan inovatif dan kolaborasi multi-pihak. Ketergantungan terhadap satu TPA yang hampir penuh menunjukkan kebutuhan mendesak untuk diversifikasi solusi pengelolaan sampah, termasuk teknologi pengolahan modern seperti PSEL dan RDF.
Selain itu, perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak awal menjadi kunci utama yang seringkali terabaikan. Upaya sosialisasi dan regulasi harus terus digalakkan agar pengurangan sampah di hulu dapat terjadi secara signifikan, menekan beban TPA dan meminimalisir dampak lingkungan.
Ke depan, penting pula untuk mengawasi progres pembangunan fasilitas pengolahan sampah dan memastikan adanya dukungan anggaran dari pemerintah pusat agar proyek besar seperti PSEL dapat terealisasi. Kolaborasi antar daerah, seperti yang dilakukan antara Medan dan Jakarta, harus diperluas agar pembelajaran dan solusi terbaik dapat diterapkan secara lebih luas di Indonesia.
Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi sumber asli berita di IDN Times Sumut.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0