Nilai Tukar Rupiah Dekati Rp17.700, DPR Mendesak BI Ambil Langkah Serius

May 19, 2026 - 07:00
 0  5
Nilai Tukar Rupiah Dekati Rp17.700, DPR Mendesak BI Ambil Langkah Serius

Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan signifikan hingga mendekati level Rp17.700 per dolar AS, memicu sorotan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, secara tegas meminta Bank Indonesia (BI) untuk segera mengambil langkah serius guna menstabilkan mata uang Garuda agar kembali sesuai dengan asumsi makro dalam APBN 2026, yaitu di angka Rp16.500 per dolar AS.

Ad
Ad

Desakan DPR kepada Bank Indonesia untuk Stabilkan Rupiah

Dalam pernyataannya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5), Misbakhun menyampaikan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal tahun belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Padahal, biasanya rupiah mengalami penguatan di pertengahan tahun antara Juni hingga September, seperti yang disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya.

"Kita meminta kepada Bank Indonesia melakukan langkah-langkah yang sungguh-sungguh bagaimana melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah kepada kesepakatan politik yang kita punyai, yaitu di asumsi makro APBN 2026 di mana rupiah itu berada pada angka Rp16.500 rata-rata," ujar Misbakhun.

Menurut politikus Partai Golkar ini, pelemahan rupiah kini mulai memberikan tekanan signifikan terhadap kegiatan impor, termasuk impor bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan bahan baku industri yang menjadi lebih mahal akibat penguatan dolar AS.

Dampak Pelemahan Rupiah pada Sektor Industri

Pelemahan nilai tukar rupiah berdampak langsung pada berbagai sektor industri, terutama yang sangat bergantung pada impor bahan baku. Misbakhun mencontohkan sektor plastik yang mulai merasakan dampak negatif dari kenaikan biaya impor akibat kurs dolar yang terus menguat.

Ia menambahkan, "Tinggal bagaimana strategi Bank Indonesia ke depan menjadikan aspirasi yang tadi berada di ruang rapat Komisi XI itu untuk menjadi perhatian, sehingga melakukan upaya stabilisasi untuk mengembalikan nilai tukar rupiah itu kepada kesepakatan politik."

Perdagangan Senin (18/5) sore mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp17.668 per dolar AS, melemah sebesar 71 poin atau 0,40 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Kondisi Pasar dan Respons Pemerintah

Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang beragam, di mana mata uang seperti yuan China, dolar Singapura, dan won Korea Selatan mengalami penguatan terhadap dolar AS. Sementara peso Filipina, yen Jepang, dan ringgit Malaysia justru melemah.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa kondisi rupiah saat ini mirip dengan krisis ekonomi 1997-1998. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini berbeda karena Indonesia belum memasuki fase resesi dan pertumbuhan ekonomi masih berjalan.

"Kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti '97, '98 lagi. Beda, '97-'98 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi," jelas Purbaya.

Pemerintah juga telah mulai mengambil langkah konkret dengan membantu BI melalui intervensi di pasar obligasi menggunakan bond stabilization fund (BSF). Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah mulai masuk pasar obligasi dengan lebih signifikan untuk menjaga harga obligasi agar tidak turun drastis, sehingga investor asing tidak melepas surat utang Indonesia secara besar-besaran.

"Asing yang pegang obligasi nggak keluar, karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," tambahnya.

Tren Pelemahan Rupiah dan Tantangan ke Depan

Tren pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir membuat mata uang Garuda sempat menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp17.600-Rp17.700 per dolar AS. Hal ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kestabilan ekonomi makro Indonesia, khususnya terkait defisit perdagangan dan biaya impor yang terus membengkak.

  • Pelemahan rupiah menambah beban biaya impor BBM dan LPG yang berdampak pada harga energi dalam negeri.
  • Industri yang bergantung bahan baku impor mulai merasakan kenaikan biaya produksi.
  • Investor asing berpotensi menarik modalnya jika harga obligasi terus turun.
  • Pemerintah dan BI harus bersinergi untuk stabilisasi pasar valuta asing dan obligasi.

Menurut laporan CNN Indonesia, langkah intervensi pemerintah dan BI menjadi kunci untuk menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan investor di tengah tekanan global saat ini.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pelemahan rupiah yang mendekati Rp17.700 per dolar AS menjadi alarm serius bagi pemerintah dan Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah yang jauh di atas asumsi makro APBN 2026 sebesar Rp16.500 dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari kenaikan harga energi, inflasi, hingga melemahkan daya saing produk dalam negeri di pasar global.

Langkah stabilisasi rupiah bukan hanya soal intervensi pasar, tetapi juga memerlukan kebijakan ekonomi makro yang terintegrasi, termasuk pengendalian defisit perdagangan dan peningkatan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku.

Kedepan, publik harus mengawasi dengan seksama bagaimana koordinasi antara BI dan Pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global, terutama menjelang kuartal ketiga tahun 2026. Upaya penguatan rupiah akan menjadi indikator penting bagi kesehatan ekonomi nasional dan kepercayaan investor.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad