Israel Serbu Masjid Al Aqsa dan Rusak Sekolah di Yerusalem Timur Palestina
Insiden terbaru di Yerusalem Timur Palestina kembali menegaskan ketegangan yang terus meningkat antara pemukim Israel dan warga Palestina. Pada Rabu pagi, pemukim Israel menyerbu Masjid Al Aqsa di kawasan yang masih diduduki, sambil melantunkan lagu-lagu provokatif dan meneriakkan slogan yang memicu kemarahan umat Muslim setempat.
Menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip Anadolu Agency, kantor Kegubernuran Yerusalem juga merilis video yang memperlihatkan para pemukim berada di dalam kompleks Masjid Al Aqsa saat aksi berlangsung. Kejadian ini bukan yang pertama kali, sebab Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mencatat ada 26 kali penyerbuan ke kompleks Masjid Al Aqsa selama bulan Juni oleh pasukan Israel.
Larangan dan Pelanggaran Status Quo Masjid Al Aqsa
Menurut perjanjian status quo yang berlaku, pemukim Israel, khususnya umat Yahudi, dilarang memasuki Masjid Al Aqsa untuk beribadah. Namun sejak 2003, kepolisian Israel mengizinkan warga Yahudi memasuki kompleks masjid setiap hari kecuali Jumat dan Sabtu. Hal ini dianggap sebagai pelanggaran serius oleh warga Palestina dan dunia internasional.
Menurut Middle East Monitor, warga Palestina menilai Israel secara sistematis meningkatkan upaya "Yahudisasi" terhadap Yerusalem Timur, termasuk kawasan Masjid Al Aqsa, yang berpotensi menghapus identitas Arab dan Islam dari kota suci tersebut. Yerusalem sendiri memang memiliki makna religius bagi tiga agama besar: Islam, Kristen, dan Yahudi. Bagi umat Islam, Masjid Al Aqsa dikenal sebagai al-Haram Al Sharif (The Noble Sanctuary), sementara bagi orang Yahudi disebut Har-ha-Bayit (Temple Mount).
Kerusakan Sekolah Palestina oleh Anggota Knesset Israel
Satu hari sebelum penyerbuan, anggota Knesset Israel, Tzvi Sukkot, melakukan aksi kontroversial dengan menyerbu sebuah sekolah yatim piatu di Kota Tua Yerusalem Timur. Ia merusak papan nama sekolah yang memuat nama institusi dan bendera Palestina. Lebih lanjut, Sukkot mengancam akan menutup sekolah tersebut beserta lembaga pendidikan Palestina lainnya di wilayah tersebut.
Sukkot menyatakan, "Sekolah milik Otoritas Palestina tidak boleh terus beroperasi di wilayah yang berada di bawah kedaulatan Israel. Kami akan menutup sekolah ini dan semua lembaga pendidikan serupa di Yerusalem."
Sukkot juga merupakan Ketua Komite Pendidikan Knesset dan anggota partai sayap kanan Religious Zionism. Dalam beberapa pekan terakhir, ia giat melakukan kunjungan dan penggerebekan ke sekolah-sekolah Arab di Israel dengan alasan mengawasi kurikulum, langkah yang mendapat kecaman dari masyarakat Arab dan orang tua murid sebagai bentuk provokasi.
Menanggapi hal ini, anggota Knesset dari komunitas Arab Israel, Ayman Odeh, mengecam tindakan tersebut sebagai serangan terhadap pendidikan Palestina. Ia menyatakan lewat platform X, "Bagaimana mungkin ketua Komite Pendidikan Knesset masuk ke sebuah sekolah di Yerusalem Timur dan merusaknya hanya karena ada bendera Palestina di sana?" Odeh menekankan bahwa sekolah harus menjadi tempat belajar dan berkembang, bukan arena konflik politik atau ekstremisme.
Situasi Politik dan Masa Depan Yerusalem Timur
Saat ini, sekitar 390.000 warga Palestina tinggal di Yerusalem Timur yang masih terjebak dalam pendudukan ilegal Israel. Sebagian besar sekolah di wilayah ini menggunakan kurikulum Palestina, meski tekanan dari pemerintah Israel, terutama di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, terus meningkat agar sekolah-sekolah tersebut mengadopsi kurikulum Israel.
Di tengah meningkatnya serangan kelompok sayap kanan Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, ketegangan ini semakin memanas menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026.
Warga Palestina menegaskan Yerusalem Timur harus menjadi ibu kota negara Palestina di masa depan, merujuk pada berbagai resolusi internasional yang tidak mengakui pendudukan Israel sejak 1967 maupun aneksasi yang dilakukan pada 1980. Konflik di wilayah ini bukan sekadar soal politik, melainkan juga identitas, agama, dan hak asasi manusia yang terus menjadi perhatian dunia.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, serangan berulang yang dilakukan oleh pemukim Israel di Masjid Al Aqsa dan kerusakan fasilitas pendidikan Palestina bukan hanya sekadar insiden sporadis, melainkan bagian dari strategi sistematis untuk mengukuhkan dominasi Israel di Yerusalem Timur. Upaya "Yahudisasi" yang semakin intensif berpotensi mengubah demografi dan karakter historis kota tersebut, mengancam stabilitas jangka panjang kawasan Timur Tengah.
Selain itu, tindakan anggota Knesset seperti Tzvi Sukkot yang merusak sekolah dan mengancam menutupnya menimbulkan kekhawatiran serius mengenai masa depan pendidikan dan hak-hak sipil warga Palestina di wilayah pendudukan. Pendidikan merupakan fondasi penting untuk keberlangsungan budaya dan identitas Palestina, sehingga tekanan yang terus menerus akan berdampak besar pada generasi muda.
Ke depan, publik internasional perlu mengawasi ketat perkembangan ini dan mendesak pihak-pihak terkait untuk menghormati hak asasi serta menjaga situs-situs suci yang menjadi simbol perdamaian antaragama. Ketegangan yang terus berlanjut tanpa solusi yang adil hanya akan memperdalam konflik dan memperburuk penderitaan warga sipil di Yerusalem Timur.
Untuk informasi terbaru dan analisis mendalam mengenai konflik ini, tetap ikuti perkembangan berita dari sumber terpercaya dan resmi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0