India Raih Unicorn AI Kedua dalam Sebulan, Tanda Kebangkitan di Lomba AI

Jul 16, 2026 - 18:10
 0  2
India Raih Unicorn AI Kedua dalam Sebulan, Tanda Kebangkitan di Lomba AI

India baru saja mencatatkan tonggak penting dalam persaingan kecerdasan buatan (AI) global dengan munculnya startup AI kedua yang mencapai status unicorn dalam waktu sebulan. Setelah Sarvam, sebuah perusahaan AI full-stack di India, berhasil meraih valuasi lebih dari satu miliar dolar AS, kini Emergent, perusahaan pengembang teknologi vibe coding yang berbasis di Bengaluru, juga meraih pencapaian serupa.

Ad
Ad

Emergent Jadi Unicorn AI Kedua India

Emergent baru didirikan sekitar satu tahun lalu dan pada Rabu (16/7/2026) berhasil mengumpulkan dana sebesar 300 juta dolar AS melalui putaran pendanaan Seri C, yang menempatkan valuasi perusahaan ini pada angka 1,5 miliar dolar AS. Pendanaan ini dipimpin oleh perusahaan investasi Bengaluru, Creaegis, bersama dengan Claypond, sebuah kantor keluarga di India, serta Sentinel Global dari California.

Investor lama seperti Khosla Ventures, SoftBank Vision Fund 2, Lightspeed, dan Y Combinator juga turut berpartisipasi dalam pendanaan ini. Mukund Jha, salah satu pendiri sekaligus CEO Emergent, menyatakan bahwa fokus utama mereka adalah membantu para pengusaha non-teknis dan pemilik usaha kecil, dimana 70% penggunanya tidak memiliki pengalaman coding sebelumnya.

"Dalam setahun terakhir, sekitar 12 juta aplikasi telah dibuat menggunakan platform Emergent oleh para pengusaha kecil dan pebisnis solo," kata Jha.

Momentum Positif untuk Ekosistem AI India

Perkembangan ini mengikuti jejak Sarvam yang juga mendapatkan dana sebesar 234 juta dolar AS dan valuasi yang sama, 1,5 miliar dolar AS, hanya sebulan sebelumnya. Menurut Deepika Giri, kepala riset AI, analitik, dan data di IDC Asia Pasifik, ini merupakan indikasi dari "momentum besar yang sedang terjadi" di India.

"Hampir setengah dari perusahaan di India sudah mulai menguji solusi AI agentik," ujar Deepika Giri kepada CNBC.

IDC memproyeksikan bahwa pada 2026, sekitar 45% organisasi di India akan menggunakan layanan cloud khusus untuk memperluas kapasitas komputasi mereka, yang selama ini menjadi hambatan utama dalam pelatihan dan inferensi AI. Selain itu, India memiliki tumpukan akselerator AI terluas di kawasan Asia Pasifik, yang mencakup perangkat keras dari NVIDIA, AMD, serta chip khusus dari hyperscaler, memberikan fleksibilitas yang jarang dimiliki pasar lain.

Faktor-faktor ini, ditambah dengan sumber daya talenta teknik dan AI yang melimpah, berpotensi menghapus stigma India sebagai negara yang tertinggal dalam perlombaan AI. Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa perjalanan ini masih di tahap awal.

Pelajaran dari Sarvam dan Harapan Masa Depan

Mohammad Hassan, kepala divisi prakiraan dividen APAC di S&P Global Market Intelligence, menilai bahwa pendanaan Sarvam menunjukkan kepercayaan investor terhadap kemampuan India untuk mengembangkan intellectual property yang berharga dalam AI multibahasa dan lokal.

Sementara itu, penggalangan dana Emergent menyoroti keunggulan talenta teknologi India, yang menurut Hassan bisa menjadi "kartu as India dalam perlombaan AI jangka panjang." Meski demikian, ia menekankan bahwa pencapaian ini merupakan sinyal positif, bukan bukti perubahan besar yang sudah terjadi.

Tantangan dan Strategi India dalam Lomba AI Global

Secara global, India masih tertinggal dalam beberapa aspek penting AI. Negara ini belum berhasil memproduksi chip AI canggih secara domestik, maupun mengembangkan model dasar AI berskala frontier yang setara dengan model-model terkemuka dari Amerika Serikat atau China. Kapasitas pusat data juga masih jauh di bawah para pemimpin dunia AI.

Meski begitu, India optimistis dengan kemampuannya membangun aplikasi di atas model dasar asing tersebut. Pada konferensi AI global Februari lalu, Perdana Menteri Narendra Modi menegaskan visi India untuk menjadi salah satu dari tiga kekuatan AI teratas di dunia, tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai pencipta teknologi.

Dengan posisi India sebagai eksportir layanan TI utama, negara ini memiliki talenta perangkat lunak yang kuat untuk mengembangkan aplikasi AI global. Namun, akses tanpa hambatan ke model dasar AI tetap menjadi risiko utama, karena teknologi ini semakin dipandang sebagai aset strategis oleh banyak negara.

Neil Shah, wakil presiden riset di Counterpoint Research, memperkirakan bahwa diperlukan minimal tiga sampai empat tahun lagi agar ekosistem AI India tumbuh sampai menciptakan efek berputar yang kuat dalam industri ini.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, keberhasilan dua startup AI India mencapai status unicorn dalam waktu singkat ini bukan hanya soal angka valuasi, tapi sinyal kuat bahwa India mulai serius mengejar ketertinggalannya di bidang AI. Ini menandakan transformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi inovator yang berkontribusi langsung pada ekosistem global AI.

Namun, perlu diingat bahwa pencapaian ini baru langkah awal dalam perlombaan yang jauh lebih kompleks dan kompetitif. India harus terus mengatasi keterbatasan infrastruktur, seperti kapasitas pusat data dan kemampuan produksi chip AI domestik, agar bisa bersaing dengan raksasa teknologi dunia seperti AS dan China.

Ke depan, faktor terpenting yang harus diperhatikan adalah bagaimana pemerintah dan sektor swasta India dapat bekerja sama memperluas akses ke model dasar AI serta memperkuat riset dan pengembangan lokal. Jika berhasil, India tidak hanya akan menjadi pasar AI yang besar, tapi juga akan menjadi pusat inovasi yang berpengaruh secara global.

Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini tentang perkembangan AI di India dan global, kunjungi sumber asli CNBC dan situs resmi riset teknologi lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad