Harga BBM di AS Meroket 35% Gara-gara Perang Iran, Warga Ngamuk
Sejumlah warga Amerika Serikat (AS) mengungkapkan kemarahan mereka setelah harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak hingga 35 persen sebagai dampak langsung dari konflik perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran. Kenaikan ini membuat harga bensin di berbagai wilayah AS melampaui batas US$4 (sekitar Rp68 ribu) per galon, sebuah angka yang sebelumnya dianggap sangat tinggi.
Kenaikan Harga BBM dan Dampaknya bagi Warga
Menurut laporan CNN Indonesia yang mengutip AFP, kenaikan harga bensin ini sangat dirasakan oleh masyarakat di berbagai kota, mulai dari Richmond, Virginia, hingga New York City dan pinggiran Washington.
Jeanne Williams (83), warga Richmond yang sedang dalam perjalanan ke Falls Church, mengaku sangat terkejut dan bingung melihat harga bensin yang melonjak drastis di pom bensin Liberty. "Itu mengerikan. Saya tidak marah, saya hanya bingung, kacau, dan tidak senang. Kami tidak meminta perang ini," tegas Williams yang kini harus menggunakan tabungannya karena biaya hidup yang terus meningkat.
Harga bensin di Falls Church sendiri mulai dari US$3,7 per galon jika membayar tunai, dan bisa mencapai US$4,25 jika menggunakan kartu debit atau kredit di lokasi lain. Kondisi ini membuat banyak warga, terutama lansia dan mereka dengan penghasilan tetap, kesulitan mengatur keuangan.
Tekanan Biaya Hidup dan Inflasi
Meski inflasi di AS sudah menurun dari puncaknya 9,1 persen selama pandemi Covid-19, harga barang dan energi tetap tinggi karena krisis yang dipicu perang. Luis Ramos (26), warga New York City, mengatakan bahwa lonjakan harga bensin sangat membebani biaya hidupnya. "Sungguh tidak masuk akal. Melihat harga bensin meroket, benar-benar luar biasa. Biaya hidup sudah meroket," katanya.
David Lee (39), yang tinggal di pinggiran kota Washington, bahkan mengisi bensinnya dua kali seminggu dan merasakan kenaikan biaya sekitar 10 dolar lebih setiap kali pengisian. Meskipun penghasilannya cukup, Lee melihat banyak rekannya yang mengeluh tidak mampu mengemudi sesering dulu karena harga BBM yang mahal.
Protes dan Kritik Warga terhadap Pemerintah
Banyak warga menganggap pemerintah AS tidak mampu menangani dampak perang ini. Joseph Crouch (77) menyatakan, "Ini konyol. Harganya sangat tinggi. Saya rasa pemerintah tidak tahu apa yang mereka lakukan." Ia menambahkan, "Kami sedang menanggung akibat dari perang ini. Mereka mencoba mengatakan bahwa ini adalah hal lain, tapi ini jelas sebuah perang," keluhnya.
Fred Koester (78) juga mengkritik perang yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran sebagai "perang bodoh" yang tidak perlu dan hanya merugikan rakyat AS sendiri.
Krisis Energi Global dan Respon Negara-negara Lain
Perang yang meletus sejak 28 Februari 2026 ini telah menyebabkan krisis energi global, dengan harga minyak dunia berulang kali menembus US$100 per barel. Krisis ini meluas hingga ke Asia dan Eropa, memaksa beberapa negara menerapkan langkah-langkah preventif seperti kerja dari rumah dan promosi penggunaan transportasi umum.
Situasi ini memperlihatkan betapa konflik geopolitik dapat langsung mempengaruhi ekonomi rakyat biasa di seluruh dunia.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, lonjakan harga BBM di AS akibat perang yang dipicu oleh kebijakan pemerintahan Trump terhadap Iran bukan hanya masalah ekonomi semata, tetapi juga krisis sosial yang memicu ketidakpuasan publik secara luas. Kenaikan harga energi yang drastis memperburuk ketimpangan sosial, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan pekerja berpenghasilan rendah yang kini harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Lebih jauh, konflik ini mengingatkan kita bahwa kebijakan luar negeri yang tidak stabil dan konfrontatif berpotensi menciptakan efek domino negatif yang tidak hanya mengancam keamanan global, tapi juga kesejahteraan domestik. Warga yang merasa "kena apes" dalam peristiwa ini berhak menuntut transparansi dan solusi kebijakan yang lebih manusiawi.
Ke depan, penting bagi pemerintah AS untuk mengantisipasi dampak ekonomi dari konflik geopolitik dan memperkuat program bantuan sosial serta diversifikasi energi agar tidak terlalu bergantung pada minyak impor yang rentan terhadap gejolak pasar dunia.
Warga dan dunia internasional sebaiknya terus mengamati perkembangan situasi ini karena implikasi jangka panjangnya akan sangat menentukan stabilitas ekonomi dan sosial di AS maupun global.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0