Harga Emas dan Perak Tertekan Tajam Menjelang Pekan Kritis 2026

Apr 27, 2026 - 10:42
 0  3
Harga Emas dan Perak Tertekan Tajam Menjelang Pekan Kritis 2026

Harga emas dan perak kembali tertekan tajam memasuki pekan yang diprediksi penuh volatilitas pada 2026. Sejumlah sentimen besar, mulai dari rapat bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed), penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama Iran, menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan logam mulia ini.

Ad
Ad

Tekanan Berat pada Harga Emas di Awal Pekan

Berdasarkan data dari Refinitiv, harga emas pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (24/4/2026), memang sempat mencatat kenaikan tipis sebesar 0,34%. Namun secara mingguan, emas mengalami koreksi cukup dalam sekitar 2,5%, menandakan tekanan jual masih berlangsung dan belum mereda.

Pada Senin (27/4/2026) pagi pukul 06.27 WIB, harga emas langsung ambruk ke level US$ 4.679,32 per troy ons, turun sekitar 0,62%. Pergerakan harga emas juga semakin volatil setelah beberapa pekan gagal menembus level psikologis penting di US$5.000 per troy ons. Dalam periode terakhir, harga emas berfluktuasi di kisaran antara US$4.700-an hingga US$4.800-an.

Analis Saxo Bank menilai, harga emas masih terjebak dalam tarik-menarik antara permintaan aset aman, kekuatan dolar AS, dan dinamika geopolitik Timur Tengah, khususnya konflik Iran. Meski ada upaya akumulasi dari investor yang memanfaatkan harga yang melemah, belum terlihat gelombang pembelian besar seperti saat reli sebelumnya, membuat pasar menjadi lebih sensitif dan sulit diprediksi.

Morgan Stanley pun mengeluarkan pandangan hati-hati dengan memangkas target harga emas untuk semester kedua 2026 menjadi US$5.200 per troy ons dari sebelumnya US$5.700. Revisi ini disebabkan oleh melemahnya permintaan dari institusi resmi, arus keluar dana dari Exchange Traded Fund (ETF), serta berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga AS.

Badai Sentimen dan Rapat Bank Sentral Jadi Penentu

Menurut Pranav Mer, Vice President Commodity & Currency Research di JM Financial Services Ltd, fokus utama pekan ini adalah perkembangan pembicaraan damai antara AS dan Iran yang akan berdampak langsung pada pasar minyak, emas, dan pasar keuangan global. Sampai ada kemajuan nyata menuju perdamaian di Timur Tengah, harga emas dan perak diperkirakan akan tetap bergerak dalam rentang terbatas.

Selain itu, investor juga menantikan keputusan kebijakan moneter dari beberapa bank sentral utama seperti The Fed, Bank of Japan (BOJ), Bank of England (BOE), dan Bank Sentral Eropa (ECB). Khususnya rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 29 April, yang menjadi perhatian besar karena menjadi pertemuan terakhir di bawah kepemimpinan Jerome Powell. Pasar sangat mengincar petunjuk arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Data ekonomi AS juga akan menjadi sorotan, termasuk sektor perumahan, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), kepercayaan konsumen, dan aktivitas manufaktur. Data ini berpotensi mengubah ekspektasi pemangkasan suku bunga serta arah pergerakan dolar AS.

Pranav Mer menyebut, "Harga emas memangkas sebagian kenaikan pekan lalu setelah gagal menembus US$5.000 per ons, serta terbebani aksi ambil untung usai reli 10%-12% dalam empat pekan sebelumnya." Kekuatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury yang didorong oleh data ekonomi AS yang kuat terus menekan logam mulia.

Dengan aktivitas bank sentral global yang beragam dan ketidakpastian waktu pemangkasan suku bunga di tengah inflasi berbasis komoditas, volatilitas harga emas diperkirakan akan berlanjut.

Perak Ikut Bergejolak, Prospek Jangka Panjang Masih Positif

Harga perak juga tidak luput dari tekanan pekan ini. Pada Jumat (24/4/2026), harga perak menguat tipis 0,33% dan secara mingguan naik hanya sekitar 0,02%. Namun, pada Senin pagi, harga perak turun tajam 1,12% ke level US$74,83 per troy ons.

Pasar perak tengah mencerna sikap hawkish The Fed, kenaikan harga minyak, dan membaiknya likuiditas pasar. Dalam jangka pendek, inflasi yang tinggi dapat menunda penurunan suku bunga dan memperkuat dolar AS, yang menjadi tekanan bagi harga perak.

Meski demikian, tren jangka panjang untuk perak masih dianggap positif, terutama jika area support harga di kisaran US$50 hingga US$60 mampu bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa perak masih memiliki potensi untuk kembali menguat ketika sentimen makro mulai membaik.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pekan ini sangat krusial bagi harga emas dan perak karena bertepatan dengan sejumlah peristiwa makroekonomi dan geopolitik yang dapat mengubah arah pasar secara signifikan. Sentimen negatif yang datang dari penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik Timur Tengah bukan hanya menekan harga logam mulia secara sementara, tetapi juga mengingatkan investor akan risiko volatilitas tinggi yang perlu diwaspadai.

Selain itu, reaksi pasar terhadap keputusan The Fed dan bank sentral lain di dunia bisa menjadi indikator kunci untuk tren harga logam mulia dalam beberapa bulan mendatang. Penurunan target harga emas oleh Morgan Stanley mengindikasikan bahwa ekspektasi optimisme terhadap emas mulai terkoreksi, dan investor harus lebih selektif dalam mengambil posisi.

Ke depan, sangat penting untuk memantau perkembangan pembicaraan damai antara AS dan Iran, serta data ekonomi AS yang akan keluar. Jika ketegangan geopolitik mereda dan kebijakan moneter mulai lebih akomodatif, harga emas dan perak bisa mendapatkan momentum penguatan kembali. Namun jika situasi memburuk, tekanan harga bisa berlanjut lebih dalam.

Untuk informasi lengkap dan update terbaru, Anda dapat membaca langsung sumber artikel ini di CNBC Indonesia dan mengikuti berita ekonomi global di Reuters.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad