Berburu Tuah Jokowi, PSI Kebanjiran Politikus Eksodus Menjelang Pemilu 2029
Isu berlabuhnya Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) telah menjadi magnet kuat yang memikat sejumlah politikus untuk pindah ke partai yang belum pernah lolos ke DPR RI ini. Fenomena ini memunculkan dinamika politik baru menjelang Pemilu 2029, di mana Jokowi digadang-gadang sebagai game-changer sekaligus suplemen kekuatan politik mesin partai.
Bergabungnya Tokoh Senior dan Eksodus Politikus ke PSI
Salah satu figur yang mencuat adalah Ahmad Ali, yang mengaku bergabung dengan PSI setelah mendapat ajakan langsung dari Jokowi sekitar empat bulan sebelum masa jabatan presiden berakhir. Ahmad Ali bahkan langsung didapuk menjadi Ketua Harian DPP PSI. Meski demikian, Ahmad Ali menegaskan bahwa dirinya tidak merasa pindah partai melainkan memilih PSI setelah tidak lagi dibutuhkan oleh Partai NasDem.
"Saya tidak pindah ke PSI. Saya karena sudah dibuang oleh NasDem. Tidak dibutuhkan NasDem. Saya punya hak dong untuk memilih partai, kan?" kata Ahmad Ali kepada detikX.
Menurut Ahmad Ali, pertemuan yang mengubah arah politiknya itu berlangsung saat makan siang dengan Jokowi di Istana Negara pada 20 Juni 2024, saat ia masih menjabat Wakil Ketua Umum NasDem. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi tidak memaksa, melainkan menanyakan kenyamanan pilihan partai politik yang ia miliki, termasuk PSI, Golkar, PAN, dan PKB. Ahmad Ali pun memilih PSI karena ingin mendampingi Kaesang Pangarep, anak bungsu Jokowi yang baru saja menjadi Ketua Umum PSI setelah dua hari menjadi anggota.
Selain Ahmad Ali, eksodus politikus dari partai lain juga terjadi. Pada September 2025, Bestari Barus dari NasDem bergabung ke PSI, diikuti Rusdi Masse Mappasessu, anggota DPR RI periode 2019-2024 dari NasDem. Kemudian, pada Rakornas PSI Januari 2026, tujuh anggota baru diperkenalkan, termasuk beberapa mantan kader NasDem, PKS, dan Demokrat seperti Hendra Joni, Lutfi Halide, Resky Mulfiati Lutfi, Vera Firdaus, dan Ikrar Kamaruddin.
Strategi Politik PSI dan Pengaruh "Jokowi Effect"
Wakil Ketua Umum DPP PSI, Andy Budiman, mengakui bahwa kehadiran Jokowi membawa magnet besar bagi PSI. Menurutnya, fenomena yang disebut "Jokowi effect" ini membuat PSI menjadi pilihan menarik bagi para tokoh politik yang ingin memperkuat basis mereka untuk Pemilu 2029.
"Dengan bergabungnya Pak Jokowi, ini memperlihatkan Jokowi efek sebetulnya. Bagaimana kemunculan Pak Jokowi di PSI ini menjadi magnet bagi para tokoh politik untuk bergabung dan ini adalah kabar yang baik buat PSI," ujar Andy Budiman.
Meskipun begitu, Andy menegaskan bahwa tidak ada perencanaan sistematis dalam penggabungan kader dari partai lain. Bergabungnya para politikus terjadi spontan setelah munculnya nama Jokowi di PSI. Partai ini pun terbuka menerima kader baru yang ingin berkontribusi.
Jokowi juga menekankan pentingnya membangun struktur partai yang kuat hingga tingkat desa. Ia secara aktif memantau perkembangan pembentukan mesin politik PSI, bahkan saat bertemu pengurus di Lampung, Jokowi mengingatkan pentingnya organisasi partai yang kokoh dan berakar di masyarakat.
Di Kota Bandar Lampung, Jokowi turut menghadiri Rapat Koordinasi Daerah PSI dan menyambut sejumlah politisi yang baru bergabung, termasuk mantan kader PPP, PKB, dan PDI Perjuangan, seperti Suprianto, Anggi Romando, Gus Mansur, dan Sahlan Sukur. Bahkan eks Bupati Lampung Utara, Agung Ilmu Mangkunegara, yang memiliki rekam jejak kontroversial, juga ikut bergabung.
Dinamika dan Tantangan PSI Menjelang Pemilu 2029
Peneliti politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, melihat perpindahan politikus ke PSI sebagai dinamika yang wajar, tetapi juga menimbulkan tanda tanya, karena PSI belum pernah lolos DPR RI dan biasanya perpindahan terjadi ke partai yang sudah kuat di parlemen.
"Bagi saya, ketika ada tokoh partai politik tertentu pindah ke PSI, ya perkara biasa pindah partai. Meski disertai pertanyaan kritik karena jarang-jarang politisi partai yang sudah solid, partai yang lolos ke parlemen, tapi kadernya justru pindah ke yang tak lolos itu, itu yang selalu menjadi pertanyaan kritik," ujar Adi Prayitno.
Menurutnya, dukungan figur Jokowi saja tidak cukup untuk menjamin PSI lolos ke parlemen. Pemilihan legislatif berbeda dengan pilpres, dan nama Jokowi tidak akan tercantum di surat suara. Oleh karena itu, PSI harus membangun kader yang kuat dan memenangkan suara di daerah pemilihan masing-masing.
Selain itu, PSI menghadapi tantangan lain berupa kasus dugaan korupsi yang menyeret Sekretaris Jenderal PSI, Raja Juli Antoni. Jika berlanjut ke proses hukum, hal ini dapat menjadi beban politik yang berat bagi partai.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, fenomena berbondong-bondongnya politikus senior masuk PSI berkat "Jokowi effect" menandai babak baru dalam persaingan politik Indonesia. PSI yang sebelumnya dipandang sebagai partai kecil dan belum memiliki kursi di DPR kini menjadi magnet politik yang serius. Ini menunjukkan pergeseran kekuatan dan strategi di panggung politik nasional menjelang Pemilu 2029.
Namun, kegembiraan atas masuknya tokoh-tokoh besar ini harus dibarengi dengan kewaspadaan. PSI dihadapkan pada tugas berat membangun mesin politik yang solid dan menghindari potensi konflik internal akibat perbedaan latar belakang kader. Selain itu, kasus hukum yang menimpa pimpinan partai bisa menjadi batu sandungan serius yang berpotensi merusak citra dan kepercayaan publik.
Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana PSI mengelola momentum ini dengan membangun struktur partai yang kuat dan menyusun strategi politik yang matang. Apakah benar Jokowi dapat menjadi jembatan sukses PSI ke parlemen ataukah ini hanya euforia sesaat, akan terlihat dalam dinamika politik beberapa tahun ke depan. Untuk itu, pembaca sebaiknya terus mengikuti perkembangan politik partai ini melalui sumber berita terpercaya seperti detikcom dan media nasional lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0