AS Klaim Hancurkan Sepertiga Rudal Iran Setelah Sebulan Perang
Amerika Serikat mengklaim telah berhasil menghancurkan sekitar sepertiga persenjataan rudal Iran dalam konflik yang telah berlangsung selama satu bulan. Namun, menurut sejumlah sumber intelijen AS yang dikutip Reuters pada Sabtu (28/3), rudal-rudal yang tersisa masih menjadi ancaman yang signifikan bagi operasi militer AS, terutama dalam menjaga jalur vital Selat Hormuz.
Serangan Udara dan Penghancuran Persenjataan Iran
Menurut informasi dari beberapa sumber intelijen AS yang tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan, serangan udara Amerika Serikat telah merusak dan menghancurkan banyak persenjataan rudal Iran. Bahkan, beberapa rudal yang tersisa diduga telah disembunyikan di terowongan bawah tanah dan bunker untuk menghindari serangan lebih lanjut.
"Sekitar sepertiga rudal Iran sudah berhasil dihancurkan," ungkap salah satu sumber tersebut. Selain rudal, kemampuan drone Iran juga mengalami kerusakan cukup signifikan dengan estimasi sepertiga drone sudah dilumpuhkan.
Perbedaan Pernyataan Pemerintah AS dan Realita di Lapangan
Pernyataan ini berbeda dengan klaim sebelumnya dari Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa Iran hanya memiliki sedikit rudal tersisa. Namun, sumber intelijen menyebut bahwa Teheran masih memiliki persediaan besar yang bahkan beberapa rudal yang terkubur dapat dipulihkan kembali setelah konflik usai.
Seorang pejabat Pentagon menyatakan, "Serangan rudal dan drone Iran telah berkurang sekitar 90% sejak perang dimulai," dan lebih dari dua pertiga fasilitas produksi rudal, drone, serta instalasi angkatan laut Iran telah dihancurkan atau rusak.
Operasi "Epic Fury" dan Dampaknya
Operasi militer AS yang dinamakan "Epic Fury" berjalan lebih cepat dari rencana sejak dimulai pada 28 Februari. Komando Pusat AS melaporkan telah menghantam lebih dari 10.000 sasaran militer Iran, termasuk menenggelamkan 92 persen kapal besar angkatan laut Iran.
Militer AS juga merilis foto-foto serangan terhadap pabrik-pabrik senjata Iran, menunjukkan bahwa target operasi bukan hanya persediaan rudal dan drone, tetapi juga industri yang memproduksinya.
Namun, kendala utama yang dihadapi AS adalah sulitnya mengestimasi jumlah pasti rudal yang tersimpan di bunker bawah tanah sebelum perang, sehingga sulit menentukan total kerugian persenjataan Iran secara akurat.
Ancaman yang Masih Mengintai dan Potensi Eskalasi
Meskipun telah mengalami kerugian besar, Iran masih menunjukkan kekuatan dengan meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke Uni Emirat Arab, serta meluncurkan rudal jarak jauh ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia.
Menurut laporan, AS sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan pasukan ke perairan di sekitar Selat Hormuz, namun langkah ini berisiko memperparah konflik yang sudah berlangsung.
"Iran menggunakan jaringan terowongan luas untuk menyembunyikan dan melindungi persenjataannya," kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth, menambahkan bahwa AS terus memburu dan menghancurkan persenjataan tersebut secara sistematis.
Reaksi dan Perkiraan dari Sekutu
Militer Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik sebelum perang, dengan lebih dari 335 peluncur rudal sudah dinetralkan, atau sekitar 70 persen dari kapasitas peluncuran Iran. Namun, menghancurkan sisa 30 persen rudal Iran dinilai akan jauh lebih sulit.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, klaim AS yang menyatakan telah menghancurkan sepertiga rudal Iran memang menunjukkan keberhasilan operasi militer dalam melemahkan kekuatan persenjataan Iran. Namun, fakta bahwa dua pertiga rudal lainnya masih tersembunyi dan dapat diaktifkan kembali menandakan konflik ini belum akan segera usai.
Keputusan AS untuk mengerahkan pasukan ke wilayah Selat Hormuz dapat menjadi titik kritis yang mengubah dinamika konflik menjadi lebih luas dan berisiko eskalasi besar. Ancaman rudal dan drone Iran yang masih tersisa harus menjadi perhatian utama bagi strategi pertahanan AS dan sekutunya.
Selain itu, kemampuan Iran menggunakan jaringan terowongan sebagai perlindungan persenjataannya menunjukkan bahwa perang modern tidak hanya bergantung pada kekuatan udara dan laut, tetapi juga pada intelijen dan operasi darat yang kompleks.
Ke depan, perkembangan situasi di kawasan ini patut terus diwaspadai, terutama mengingat potensi dampak besar bagi keamanan jalur pelayaran internasional dan stabilitas geopolitik di Timur Tengah.
Untuk informasi selengkapnya, kunjungi sumber berita aslinya di CNN Indonesia dan laporan terbaru dari Reuters.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0