Harga Telur AS Melonjak 186% dalam Sebulan, Ini Penyebab dan Dampaknya

Mar 28, 2026 - 19:11
 0  5
Harga Telur AS Melonjak 186% dalam Sebulan, Ini Penyebab dan Dampaknya

Harga telur Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan utama setelah mengalami lonjakan ekstrem dalam hitungan bulan terakhir. Pada Jumat (27/3/2026), harga telur di AS tercatat sebesar US$1,17 per dozen, sedikit turun 0,11% dari hari sebelumnya. Namun, jika dilihat dalam jangka waktu satu bulan, harga telur melonjak hingga 186%, sementara kenaikan sepanjang tahun ini sudah mencapai 97%.

Ad
Ad

Kenaikan harga telur ini berpotensi memberikan tekanan tambahan pada inflasi AS, yang sudah dihadapkan pada tantangan berat akibat kenaikan harga bahan bakar di tengah konflik Iran. Konflik tersebut dipicu oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump, yang kini tengah sibuk mengurusi perang dan geopolitik, sementara warga AS mulai pusing memikirkan harga kebutuhan pokok seperti telur.

Pergerakan Harga Telur dan Faktor Penyebabnya

Menurut data dari CNBC Indonesia Research dan Trading Economics, harga telur global sedang mengalami fase penyesuaian yang tajam, bukan tren satu arah. Di China, misalnya, harga telur naik 2,08% harian dengan kenaikan bulanan 6,81% dan tahunan hampir 12%.

Fase volatilitas ini berakar dari wabah flu burung (highly pathogenic avian influenza/HPAI) yang melanda pada 2024 hingga awal 2025. Wabah ini memukul populasi ayam petelur secara signifikan, menyebabkan pasokan turun drastis dan harga telur melonjak ke level yang membuat telur menjadi barang mewah bagi banyak rumah tangga.

Ketika wabah mulai mereda pada pertengahan 2025, produsen ayam petelur bergerak cepat untuk membangun kembali populasi ayam. Hasilnya, produksi telur pulih secara signifikan. USDA mencatat harga eceran telur turun 34,2% pada awal 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, dan di tingkat peternak harga diproyeksikan turun hingga 44,1% sepanjang tahun ini. Ini merupakan fase koreksi dari lonjakan ekstrem sebelumnya.

Dinamika Pasokan dan Permintaan di Texas dan Dampaknya

Data dari Texas memperkuat gambaran pasokan yang kembali melimpah. Melansir WFAA, harga telur di wilayah ini kini berada di sekitar US$2,50 per dozen, turun 58% dibandingkan tahun lalu. Jumlah ayam petelur meningkat dari 292 juta ekor pada Maret 2025 menjadi 308 juta tahun ini, menandakan suplai yang memadai.

Namun, lonjakan harga telur dalam satu bulan terakhir ini bukan karena masalah pasokan, melainkan dorongan musiman. Permintaan telur meningkat menjelang Paskah, periode ketika konsumsi telur melonjak untuk berbagai kebutuhan kuliner dan tradisi. Meskipun pasokan sudah pulih, peningkatan permintaan jangka pendek ini cukup untuk mengangkat harga telur secara signifikan selama waktu singkat.

Tekanan Biaya di Rantai Pangan dan Pergeseran Konsumsi

Selain faktor musiman, tekanan biaya juga muncul dari sisi hilir, yakni industri makanan olahan berbasis telur seperti cokelat Paskah. Menurut laporan The Guardian, produsen menghadapi kenaikan biaya bahan baku seperti kakao yang sempat melonjak beberapa tahun terakhir. Penyesuaian ukuran produk dan harga menjadi strategi mereka untuk menyiasati tekanan biaya tersebut.

Di saat harga daging sapi dan protein lain tetap tinggi, USDA memproyeksikan kenaikan harga beef dan veal sekitar 5,5% tahun ini. Fenomena ini mendorong konsumen beralih ke telur sebagai sumber protein yang relatif lebih murah, yang turut menahan penurunan harga telur agar tidak terlalu dalam sekaligus menciptakan lonjakan permintaan sesaat saat harga mulai stabil.

Ringkasan Faktor Penyebab Lonjakan Harga Telur

  • Pemulihan pasokan ayam petelur pasca wabah flu burung;
  • Lonjakan permintaan musiman menjelang Paskah;
  • Tekanan biaya bahan baku di industri pengolahan makanan;
  • Pergeseran konsumsi dari protein hewani lain ke telur akibat harga daging yang tinggi.

Interaksi ketiga lapis faktor ini menghasilkan fluktuasi harga telur yang signifikan dalam jangka pendek. Namun, pergerakan ini merupakan bagian dari proses normalisasi pasar setelah periode volatilitas tinggi.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, lonjakan harga telur di AS merupakan cerminan dari kompleksitas interaksi antara faktor kesehatan hewan, geopolitik, dan dinamika pasar konsumen. Kebijakan Presiden Trump yang memicu ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Iran, berkontribusi pada inflasi yang makin menekan daya beli masyarakat, termasuk harga pangan pokok seperti telur.

Selain itu, wabah flu burung yang sempat menghantam sektor peternakan di AS dan global menunjukkan bagaimana krisis kesehatan hewan dapat berdampak luas hingga ke harga kebutuhan sehari-hari masyarakat. Meski pasokan telah pulih, tekanan biaya di rantai pangan dan perubahan pola konsumsi tetap menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.

Ke depan, penting untuk memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan perdagangan yang berpotensi mempengaruhi kestabilan harga pangan. Pemerintah dan pelaku industri harus bersiap dengan strategi mitigasi risiko agar fluktuasi harga tidak semakin membebani konsumen, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Simak terus update terbaru mengenai perkembangan harga pangan dan kebijakan ekonomi di CNBC Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini dan analisis mendalam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad