IRGC Rekrut Remaja 12 Tahun untuk Peran Militer di Tengah Konflik AS-Israel

Apr 2, 2026 - 10:51
 0  4
IRGC Rekrut Remaja 12 Tahun untuk Peran Militer di Tengah Konflik AS-Israel

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dikabarkan melakukan perekrutan terhadap remaja berusia 12 tahun untuk menjalankan berbagai peran keamanan di tengah konflik yang sedang berlangsung melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Langkah ini memicu kecaman dari berbagai organisasi hak asasi manusia karena dinilai melanggar hukum nasional Iran maupun hukum internasional yang melindungi anak-anak dari keterlibatan dalam konflik bersenjata.

Ad
Ad

Perekrutan Anak-anak dalam Perang Iran Lawan AS dan Israel

Menurut laporan Human Rights Watch (HRW), IRGC telah menurunkan batas usia minimum pendaftaran menjadi 12 tahun untuk divisi khusus bernama "Prajurit Pembela Tanah Air Iran". Ini merupakan respons langsung terhadap eskalasi konflik yang melibatkan AS dan Israel yang telah menewaskan sejumlah tokoh penting di Teheran.

Dengan perekrutan ini, anak-anak di bawah usia 15 tahun kini didorong untuk ikut serta dalam operasi militer. Mereka ditempatkan dalam berbagai posisi mulai dari menjaga pos pemeriksaan, patroli operasional dan intelijen, hingga konvoi kendaraan. Selain itu, ada pula peran pendukung seperti memasak dan perawatan medis yang juga diemban oleh para remaja ini.

Implikasi Pelanggaran Hukum dan Hak Anak

HRW menegaskan bahwa perekrutan anak di bawah usia 15 tahun jelas melanggar hukum Iran sendiri, yang secara eksplisit melarang praktik tersebut. Lebih jauh, hal ini juga merupakan pelanggaran serius terhadap hak-hak anak dan dianggap sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional.

Bill Van Esveld, Direktur Hak Anak di HRW, menyatakan,

"Tidak boleh ada alasan apa pun untuk kampanye perekrutan militer yang menargetkan anak-anak, apalagi anak berusia 12 tahun. Jika dilakukan, ini menunjukkan bahwa pihak berwenang Iran bersedia mempertaruhkan nyawa anak-anak demi tenaga kerja tambahan."

Respon dan Klaim dari IRGC

Pejabat IRGC, Rahim Nadali, dalam wawancara dengan Defa Press Iran, mengakui adanya perekrutan remaja dan pemuda untuk mengisi peran militer dan pendukung. Ia menyebutkan bahwa banyak remaja yang secara sukarela datang untuk mendaftar, terutama untuk menjalankan tugas seperti patroli intelijen dan menjaga pos pemeriksaan Basij yang tersebar di berbagai kota.

Nadali menambahkan bahwa usia minimum yang ditetapkan kini adalah 12 tahun, sehingga banyak anak berusia 12 hingga 13 tahun yang sudah terlibat dalam kegiatan tersebut. Perekrutan ini dilakukan di lokasi-lokasi seperti masjid di Teheran yang berfungsi sebagai pusat perekrutan paramiliter Basij.

Namun, lokasi-lokasi tersebut juga menjadi target utama serangan AS dan Israel selama perang, yang semakin membahayakan keselamatan anak-anak yang terlibat.

Dampak dan Konteks Konflik

Perang antara Iran dengan AS dan Israel telah meningkat secara signifikan dengan sejumlah operasi militer yang menargetkan fasilitas militer dan sipil di Iran. Dalam situasi ini, IRGC berusaha memobilisasi ribuan prajurit, termasuk anak-anak dan remaja, sebagai upaya mempertahankan negara.

Perekrutan anak-anak dalam konflik bersenjata ini bukan hanya persoalan hukum dan etika, tetapi juga berpotensi menimbulkan trauma psikologis dan fisik jangka panjang bagi mereka yang terlibat. Selain itu, keberadaan anak-anak di zona konflik memperbesar risiko korban sipil yang tidak berdosa.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah IRGC merekrut remaja berusia sangat muda adalah indikator serius dari eskalasi konflik yang tidak hanya berdampak pada dimensi militer, tetapi juga sosial dan kemanusiaan. Tindakan ini membuka babak baru dalam perang yang semakin mengabaikan batasan-batasan hukum internasional, khususnya perlindungan anak.

Selain itu, keterlibatan anak-anak dalam konflik militer dapat memperburuk citra Iran di mata dunia dan berpotensi menimbulkan sanksi internasional yang lebih ketat. Pada sisi lain, hal ini juga menunjukkan kegentingan yang dirasakan rezim dalam mempertahankan posisi di tengah tekanan militer yang besar dari AS dan Israel.

Ke depan, dunia internasional perlu meningkatkan pengawasan dan tekanan terhadap penggunaan anak-anak dalam konflik bersenjata, khususnya di kawasan Timur Tengah yang sudah sangat dinamis dan berbahaya. Masyarakat global harus aktif menuntut perlindungan hak anak dan menolak normalisasi perekrutan militer anak-anak yang sesungguhnya adalah korban tak berdosa dalam konflik geopolitik.

Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan konflik Timur Tengah dan langkah IRGC, Anda dapat mengikuti laporan terkini dari CNN Indonesia dan sumber berita internasional lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad