Underpass Lebih Realistis Tekan Risiko Kecelakaan di Perlintasan Sebidang
Pengamat transportasi Ki Darmaningtyas menyatakan bahwa pembangunan jalan bawah tanah (underpass) merupakan solusi yang lebih realistis dibandingkan dengan jalur layang (flyover) untuk mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang. Pernyataan ini disampaikan saat wawancara di Jakarta, Senin.
"Kalau ada dananya, mungkin lewat underpass lebih baik," ujar Darmaningtyas menegaskan.
Alasan Underpass Lebih Efektif
Darmaningtyas menjelaskan bahwa pembangunan jalur layang membutuhkan biaya yang sangat besar, sehingga sulit untuk direalisasikan secara luas di berbagai titik perlintasan sebidang. Sebagai alternatif, pembangunan underpass dinilai lebih memungkinkan dari sisi pembiayaan dan pelaksanaan.
"Memang pemerintah perlu menambah tempat penyeberangan untuk perlintasan sebidang itu," tambah dia.
Lebih jauh, selain faktor infrastruktur, Darmaningtyas juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan perlintasan secara aman. Menurutnya, pembangunan fisik harus selalu dibarengi dengan edukasi agar masyarakat tidak melanggar aturan lalu lintas.
Kesadaran Masyarakat dan Pengawasan Pemerintah
Darmaningtyas menilai keberadaan perlintasan liar tidak sepenuhnya tanggung jawab pemerintah, karena banyak perlintasan tersebut muncul akibat kebutuhan akses masyarakat atau pengembangan kawasan sekitar.
"Pemerintah tetap perlu melakukan pengawasan yang konsisten," ujarnya.
Dengan demikian, ia menegaskan bahwa kombinasi antara pembangunan underpass, pengawasan ketat, dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan risiko kecelakaan di perlintasan sebidang.
Data Kecelakaan di Perlintasan Sebidang Tahun 2026
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada tahun 2026, tercatat sebanyak 40 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang. Rinciannya adalah sebagai berikut:
- 57,5 persen insiden terjadi di perlintasan tanpa palang pintu (23 kejadian)
- 42,5 persen insiden terjadi di perlintasan berpalang pintu (17 kejadian)
Adapun pemicu utama kecelakaan didominasi oleh perilaku pengendara yang menerobos palang pintu, yaitu sebanyak 34 kasus. Penyebab lain termasuk kendaraan mogok (4 kasus) dan keterlambatan penutupan palang pintu (3 kasus).
Dampak kecelakaan sangat fatal, dengan 25 nyawa melayang (61 persen), 5 luka berat (12 persen), dan 11 luka ringan (27 persen). Jenis kendaraan yang terlibat meliputi 22 mobil (55 persen) dan 18 sepeda motor (45 persen).
Penyebab Kendaraan Mogok di Perlintasan
Kejadian kendaraan mogok di perlintasan umumnya disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
- Mobil berhenti dan mati mesin saat berada di perlintasan.
- Roda ban belakang sepeda motor tersangkut karena membawa beban berat, seperti dagangan ayam.
- Mobil mengalami gangguan mesin saat berada di tengah rel.
- Truk lowdeck tersangkut akibat elevasi gradien di perlintasan yang tidak sesuai dengan truk.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, wacana pembangunan underpass sebagai solusi utama pengurangan risiko kecelakaan di perlintasan sebidang sangat tepat dan pragmatis. Biaya yang lebih terjangkau dan kemampuan implementasi yang lebih cepat membuat underpass layak menjadi prioritas pemerintah. Namun, perhatian besar harus diberikan pada sisi edukasi masyarakat dan pengawasan ketat agar pembangunan fisik tidak menjadi sia-sia akibat pelanggaran lalu lintas yang terus terjadi.
Sementara itu, data kecelakaan yang masih tinggi menunjukkan bahwa pendekatan infrastruktur saja tidak cukup. Behavior change atau perubahan perilaku pengguna jalan harus menjadi fokus utama. Pemerintah dan stakeholder terkait harus mengintensifkan program sosialisasi dan penegakan hukum secara konsisten di lapangan.
Ke depan, penting juga untuk mengkaji ulang tata letak perlintasan yang rawan kecelakaan serta mengintegrasikan teknologi seperti sistem peringatan dini atau sensor otomatis yang dapat meningkatkan keselamatan. Seluruh upaya ini harus dilakukan secara sinergis agar target pengurangan kecelakaan di perlintasan sebidang dapat tercapai secara signifikan.
Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada sumber resmi melalui ANTARA News dan berita transportasi terkait lainnya.
Luthfia Miranda Putri
Editor: Syaiful Hakim
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0