IHSG dan Rupiah Terpuruk, Purbaya Yudhi Sebut Sentimen Jangka Pendek Bisa Diperbaiki

May 19, 2026 - 11:02
 0  5
IHSG dan Rupiah Terpuruk, Purbaya Yudhi Sebut Sentimen Jangka Pendek Bisa Diperbaiki

Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Senin (18/5/2026) kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah hingga 4% ke level 6.400-an dan akhirnya ditutup di angka 6.599. Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga tertekan hingga menyentuh level terendah di kisaran Rp 17.600-an per US$ 1.

Ad
Ad

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat suara menanggapi kondisi pasar yang terpuruk tersebut. Ia menilai penurunan IHSG dan pelemahan Rupiah merupakan sentimen negatif jangka pendek yang bisa diperbaiki karena pondasi ekonomi Indonesia tetap solid.

Sentimen Negatif Jangka Pendek dan Fondasi Ekonomi Indonesia

Dalam pernyataannya di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Purbaya menegaskan, "Nggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Kan fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek aja. Jadi, saya akan fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu."

Ia juga merespons anggapan yang beredar di pasar keuangan bahwa pelemahan Rupiah saat ini akan mengulangi krisis ekonomi 1998. Menurut Purbaya, situasi saat ini sangat berbeda dengan kondisi krisis puluhan tahun lalu, terutama karena kebijakan ekonomi saat itu salah sehingga menyebabkan kejatuhan yang parah.

"Kalau Rupiah melemah seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda 1998 itu kebijakannya salah," ujarnya.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat dan jauh dari kondisi resesi, berbeda dengan krisis 1997-1998 yang melumpuhkan ekonomi hingga resesi. "Kita kan sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh kencang, jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua." tambahnya.

Kesempatan Investasi di Tengah Pelemahan Pasar Saham

Purbaya mengajak para investor tidak takut untuk masuk dan membeli saham di Bursa Efek Indonesia saat ini. Menurutnya, harga saham yang tertekan justru membuka peluang untuk investasi dengan modal lebih murah.

"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Jadi, jangan lupa beli saham," katanya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal optimisme pemerintah terhadap prospek pasar modal Indonesia, yang dinilai masih memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.

Intervensi Pasar Obligasi untuk Stabilkan Rupiah

Untuk meredam gejolak di pasar keuangan, pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah melakukan intervensi di pasar obligasi dengan menyuntikkan dana senilai Rp 2 triliun per hari. Purbaya menjelaskan bahwa dana ini berasal dari pengelolaan kas pemerintah dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp 420 triliun.

"Kita sudah masuk ke bond market bertahap ya. Asing juga sudah masuk juga, jadi harusnya sih ke depan, minggu-minggu ini akan lebih stabil. Saya akan masuk setiap hari di bond market. Saya minta masuk 2 triliun setiap hari," ujar Purbaya usai dipanggil Presiden Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Purbaya menambahkan bahwa intervensi ini bertujuan menciptakan sentimen positif di pasar obligasi, sehingga investor asing tidak melepas obligasi dan nilai Rupiah tetap stabil. Jika yield obligasi turun, harga obligasi akan naik, memberikan potensi capital gain bagi investor.

"Kalau sentimen positif di situ, biasanya asing juga ikut masuk dan Rupiah cenderung terkendali karena uangnya nggak keluar lagi. Yang asing nggak jual bond dan kabur keluar karena bond-nya stabil harganya," jelasnya.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencerminkan upaya pemerintah untuk menenangkan pasar keuangan di tengah gejolak yang terjadi. Penurunan IHSG dan pelemahan Rupiah memang seringkali dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik yang bersifat sementara, namun respon cepat pemerintah melalui intervensi pasar obligasi menunjukkan keseriusan menjaga stabilitas keuangan.

Meski demikian, risiko eksternal seperti kebijakan moneter AS dan ketegangan geopolitik masih menjadi tantangan yang harus diwaspadai. Para investor harus tetap cermat dalam menilai risiko sekaligus memanfaatkan peluang pasar modal yang kini tengah mengalami koreksi harga. Pemerintah juga perlu terus menjaga komunikasi transparan agar sentimen negatif tidak berlarut-larut.

Ke depan, pantauan ketat terhadap indikator makroekonomi dan respons kebijakan fiskal-moneter akan menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan pasar. Laporan lengkap dari detikFinance menyajikan gambaran menyeluruh tentang dinamika ini dan langkah-langkah yang diambil pemerintah.

Singkatnya, kondisi saat ini adalah momentum penting bagi investor untuk kembali masuk pasar dengan strategi jangka menengah dan panjang, sembari mencermati kebijakan pemerintah yang terus berupaya memperkuat pondasi ekonomi Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad