Alasan Pilot Dilarang Menahan Kentut Saat Terbang yang Jarang Diketahui
Pilot pesawat harus mematuhi berbagai aturan unik demi menjaga keselamatan penerbangan. Salah satu aturan yang sering terdengar unik adalah larangan bagi pilot untuk menahan kentut saat terbang. Meski terdengar lucu, aturan ini sebenarnya punya dasar medis dan keselamatan yang kuat terkait kondisi tubuh di ketinggian.
Tekanan Udara Kabin dan Pengaruhnya pada Tubuh Pilot
Menurut penjelasan pramugari asal Argentina, Barbara Bacilieri, atau yang dikenal dengan Barbie Bac di media sosial, saat pesawat berada pada ketinggian sekitar 30 ribu kaki, tekanan udara di kabin jauh lebih rendah dibandingkan di permukaan tanah. Hal ini menyebabkan gas dalam tubuh mengembang, khususnya gas dalam usus yang bisa bertambah volumenya.
"Pilot harus fokus menjalankan tugasnya, bukan menahan sakit perut karena gas," ujar Bacilieri seperti dikutip Yahoo pada 19 Mei 2026.
Volume gas yang meningkat ini bisa menyebabkan kembung, nyeri perut, dan ketidaknyamanan yang berpotensi mengganggu konsentrasi pilot, terutama pada fase kritis seperti takeoff dan landing. Dalam dunia penerbangan, ada istilah "trapped gas" yang merujuk pada kondisi gas yang terperangkap akibat perubahan tekanan udara.
Aturan Tidak Resmi Tapi Berdasar Studi Medis
Meskipun larangan menahan kentut bukan kebijakan resmi dunia penerbangan, sebuah studi gastroenterologi yang dilakukan oleh para peneliti dari Denmark dan Inggris pada tahun 2013 menyatakan bahwa membuang gas secara teratur dapat membantu menjaga kenyamanan dan kesehatan kru maupun penumpang pesawat.
Hal ini menjadi alasan medis penting mengapa pilot dianjurkan untuk tidak menahan gas berlebihan selama penerbangan. Ketidaknyamanan akibat gas yang terperangkap bisa mengganggu fokus dan performa pilot, sehingga bisa berdampak pada keselamatan penerbangan secara keseluruhan.
Aturan Lain: Pilot dan Kopilot Harus Memilih Menu Makanan Berbeda
Selain aturan soal gas dalam tubuh, Bacilieri juga mengungkap aturan unik lain yang berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi pilot dan kopilot sebelum terbang. Mereka dianjurkan memilih menu berbeda, misalnya satu memilih ayam dan yang lain memilih pasta.
"Kapten dan kopilot memilih menu makanan berbeda. Satu memilih ayam dan yang lain memilih pasta," kata Bacilieri.
Tujuannya adalah mengurangi risiko kedua pilot mengalami keracunan makanan secara bersamaan. Jika kedua pilot terkena keracunan, maka keselamatan penerbangan akan sangat terancam karena kemampuan mengendalikan pesawat bisa terganggu.
Biasanya, kapten akan menentukan pilihan menu duluan, kemudian kopilot memilih menu berbeda. Awak kabin juga bertugas memastikan menu makanan yang tepat sudah tersedia sebelum penerbangan dimulai.
Namun, tidak semua maskapai menerapkan aturan ini dengan ketat. Menurut pilot Boeing Dreamliner, Charlie Page, standar kebersihan katering kini jauh lebih tinggi, membuat beberapa maskapai mulai melonggarkan aturan tersebut. Ia juga menyebut bahwa pilot justru lebih berisiko mengalami gangguan pencernaan akibat makanan lokal yang dikonsumsi sebelum terbang.
Fakta Menarik Lain Tentang Aturan Pilot
- Pilot dan kopilot harus menjaga kondisi fisik dan mental prima agar penerbangan berjalan lancar.
- Pilihan makanan yang berbeda juga bertujuan menghindari risiko keracunan massal dalam kokpit.
- Perubahan tekanan udara kabin dapat memengaruhi fungsi tubuh secara signifikan, termasuk sistem pencernaan.
- Kenyamanan fisik pilot sangat krusial agar fokus tidak terganggu saat mengendalikan pesawat.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, fakta bahwa pilot dianjurkan tidak menahan kentut saat terbang sebenarnya mencerminkan betapa rinci dan kompleksnya upaya menjaga keselamatan penerbangan. Hal ini bukan sekadar soal kenyamanan pribadi, tetapi berkaitan langsung dengan konsentrasi dan kemampuan pilot dalam memimpin penerbangan. Ketidaknyamanan kecil seperti kembung akibat gas bisa berakibat fatal jika mengganggu fokus di saat-saat penting.
Selain itu, aturan pemilihan makanan berbeda bagi pilot dan kopilot juga menunjukkan betapa ketat dan berhati-hatinya dunia penerbangan dalam mengantisipasi risiko yang terkesan sepele namun berpotensi besar. Meski beberapa maskapai mulai melonggarkan aturan ini karena peningkatan standar kebersihan, prinsip kehati-hatian tetap menjadi prioritas utama.
Ke depan, penting bagi industri penerbangan untuk terus mengembangkan dan menyesuaikan protokol keselamatan dengan kondisi modern tanpa menghilangkan esensi utama: menjaga kualitas kinerja pilot di dalam kokpit. Sumber CNBC Indonesia menyajikan wawasan menarik yang bisa membuka mata kita tentang sisi lain keselamatan penerbangan yang jarang dibahas.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0