Viral di Media Sosial Bukan Jaminan Destinasi Wisata Bertahan Lama

Jun 25, 2026 - 11:40
 0  2
Viral di Media Sosial Bukan Jaminan Destinasi Wisata Bertahan Lama

Fenomena destinasi wisata yang mendadak viral di media sosial semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Viralitas seringkali memicu lonjakan jumlah wisatawan dan peningkatan ekonomi lokal yang signifikan. Namun, Agustinus Lis Indrianto, Dekan Fakultas Kuliner, Teknologi Pangan, dan Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya, menegaskan bahwa viralitas bukan jaminan destinasi wisata dapat bertahan lama.

Ad
Ad

Viralitas sebagai Pintu Masuk, Bukan Fondasi Utama

Menurut Agustinus, viralitas memang penting sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi wisata kepada masyarakat luas. Namun, popularitas yang tiba-tiba tidak bisa dijadikan fondasi utama pengembangan pariwisata jangka panjang.

"Viral itu harus dianggap sebagai pintu masuk saja, bukan jangka panjang. Itu penting memang untuk meningkatkan pemahaman dan informasi orang, tapi itu tidak bisa diandalkan agar tempat menjadi sustain (bertahan), harus ada yang dibangun," ujar Agustinus dalam program Wawasan Polling Radio Suara Surabaya, Kamis (25/6/2026).

Ia membedakan dua jenis viralitas dalam dunia pariwisata: viral yang dirancang melalui strategi pemasaran dan viral yang terjadi secara alami karena keunikan suatu tempat yang menarik perhatian publik. Viral alami biasanya memberikan dampak ekonomi positif berupa peningkatan jumlah wisatawan, eksposur destinasi, serta perputaran ekonomi masyarakat sekitar.

Ancaman Overtourism dan Ketidaksiapan Fasilitas

Meskipun membawa efek positif, viralitas mendadak juga dapat menimbulkan masalah, terutama jika destinasi tidak siap menghadapi lonjakan pengunjung. Fasilitas dasar seperti akses jalan, area parkir, toilet, dan tempat sampah sering kali tidak memadai, sehingga menyebabkan overtourism yang mengurangi kenyamanan wisatawan dan masyarakat lokal.

"Banyak tempat tidak siap, over capacity. Lalu kita berbicara tentang akses wisatawan, toilet, tempat sampah dan lain-lain. Itu akan terjadi over tourism sehingga tingkat kenyamanan wisatawan atau masyarakat lokal menjadi kurang nyaman," jelasnya.

Selain itu, suasana lingkungan yang awalnya tenang dapat berubah menjadi ramai, memicu potensi konflik sosial di masyarakat sekitar.

Contoh Kasus dan Pentingnya Keberlanjutan

Fenomena ini pernah terjadi di beberapa destinasi viral, seperti Ranu Manduro di Mojokerto yang sempat viral karena pemandangan savana unik. Namun, lonjakan wisatawan menyebabkan kemacetan dan masalah sampah hingga kawasan tersebut akhirnya ditutup oleh pemilik lahan.

Agustinus menegaskan bahwa keberlanjutan harus menjadi fokus utama dalam pengembangan destinasi, baik yang berbasis alam maupun buatan. Destinasi alam menghadapi risiko lebih besar karena selain aspek ekonomi, kelestarian lingkungan juga dipertaruhkan.

"Kalau bicara alam harus memikirkan sustain alamnya. Kalau buatan sustain bisnisnya. Kalau alam, yang dipertaruhkan bukan hanya dampak ekonomi tapi juga alam," katanya.

Destinasi seperti Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang adalah contoh viral alami yang kini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, khususnya dari China. Viral tersebut bukan karena strategi pemasaran, tapi karena keunikan destinasi. Tantangannya adalah bagaimana mengelola eksposur viral agar menjadi berkelanjutan.

Strategi Mengelola Destinasi Wisata Viral

Untuk destinasi buatan, pengelola harus menciptakan alasan agar wisatawan mau kembali setelah tren viral mereda. Contohnya kawasan wisata HeHa di Yogyakarta yang dibangun dengan konsep khusus, memanfaatkan panorama alam sebagai daya tarik sekaligus menyediakan fasilitas pendukung.

Agustinus mengingatkan bahwa banyak pengelola destinasi terlalu fokus pada popularitas sesaat tanpa strategi pasca-viral yang jelas.

"Faktanya banyak pengelola tidak paham itu. Hanya puas dengan viral, tidak dihitung viral itu berapa lama. Yang sering terlupa setelah viral, what’s next?"

Keberhasilan jangka panjang harus didukung oleh manajemen bisnis yang baik dan pengembangan produk wisata yang berkelanjutan.

Dampak Viralitas Tidak Selalu Sejalan dengan Peningkatan Kunjungan

Agustinus juga menekankan bahwa viral di media sosial tidak selalu diikuti oleh peningkatan kunjungan yang signifikan. Faktor lain seperti aksesibilitas, biaya perjalanan, dan kenyamanan tetap menjadi pertimbangan utama wisatawan.

"Kalau viral ada faktor lain, akses jauh, mahal, ke sana perlu effort, itu beda lagi. Eksposur informasi viral itu penting, tapi meningkatkan kunjungan belum tentu," ujarnya.

Peran Kreator Konten dan Wisatawan

Dalam konteks ini, peran content creator juga menjadi sorotan. Agustinus berharap para pembuat konten wisata mulai mempertimbangkan dampak konten yang mereka unggah terhadap destinasi.

"Kalau content creator memang membutuhkan exposure, viewer, follower. Tapi saya rasa tidak semua berpikir dampaknya bagaimana. Kalau mereka profesional traveller mungkin berbeda," katanya.

Bagi wisatawan, viralitas sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar menentukan tujuan perjalanan, melainkan sebagai salah satu sumber informasi untuk eksplorasi lebih lanjut.

"Viral itu penting untuk menggali informasi," pungkasnya.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena viral destinasi wisata yang kerap terjadi menunjukkan bagaimana kekuatan media sosial mampu mengubah wajah pariwisata Indonesia secara cepat. Namun, viralitas yang tidak diimbangi dengan pengelolaan berkelanjutan dapat menjadi bumerang, menyebabkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial yang justru mengancam keberlangsungan destinasi itu sendiri.

Ke depan, pengelola destinasi harus lebih proaktif membangun infrastruktur pendukung yang memadai dan strategi pemasaran berkelanjutan yang tidak hanya mengejar popularitas sesaat. Pemerintah dan pelaku industri juga perlu mengedepankan edukasi kepada content creator dan wisatawan agar lebih bertanggung jawab dalam menciptakan dampak positif bagi destinasi.

Tren ini juga harus menjadi perhatian dalam konteks pariwisata nasional yang ingin mengoptimalkan potensi sekaligus menjaga kelestarian alam dan budaya lokal. Memantau perkembangan destinasi viral secara berkelanjutan akan menjadi kunci utama agar wisata Indonesia terus tumbuh sehat dan berdaya saing.

Untuk informasi lebih lengkap dan update seputar kondisi destinasi wisata viral dan pengelolaannya, kunjungi sumber asli berita di sini serta berita terkait dari Kompas Travel.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad