Freedom 250 Trump Beri Sentuhan AI pada Para Pendiri Bangsa dengan Gaya Modern
Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-250 kemerdekaan Amerika Serikat, organisasi Freedom 250 yang dipimpin oleh pemerintahan Trump mempersembahkan galeri para pendiri bangsa yang mendapat makeover digital menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Para tokoh Revolusi Amerika yang dikenal selama ini dengan wajah-wajah klasik kini tampil dengan rahang yang lebih tegas, kulit bercahaya, dan pose ala profesional LinkedIn.
Transformasi Digital Para Pendiri Bangsa
Salah satu sosok yang mendapatkan transformasi ini adalah Dr. Benjamin Rush, seorang dokter dan akademisi ternama yang juga salah satu Founding Father. Dalam galeri Freedom 250, wajah Rush tampak sangat berbeda dengan versi aslinya yang dilukis pada abad ke-18. Wajahnya kini nampak halus, bercahaya, dengan rambut keriting yang mengilap dan mata biru cerah yang menatap langsung ke depan dengan senyum tipis.
"Potret asli Rush biasanya memperlihatkan rambut yang rata dan fitur wajah yang panjang dan agak tajam," kata para sejarawan, mengingatkan pada lukisan tahun 1812 karya Thomas Sully yang menggambarkan Rush dengan hidung panjang dan mulut yang sedikit menurun.
Namun versi AI dari Freedom 250 menghadirkan sosok yang hampir seperti orang dari zaman atau dunia lain, dengan watermark digital Google AI sebagai penanda bahwa gambar ini dihasilkan oleh teknologi generatif terbaru.
Keseragaman dan Anomali dalam Galeri Freedom 250
Lebih dari sekadar Benjamin Rush, Freedom 250 memberikan sentuhan serupa pada seluruh puluhan tokoh Revolusi Amerika di galeri tersebut. Beberapa ciri khas yang muncul adalah:
- Tampilan wajah dan gaya rambut yang menyerupai potret George Washington karya Gilbert Stuart, memberikan kesan homogen pada para pendiri.
- Pakaian seragam berwarna biru Amerika yang nyaris sama dipakai oleh hampir semua pria, padahal lukisan asli menunjukkan variasi warna dan gaya busana.
- Pose yang diulang-ulang seperti tangan disilangkan atau jari menyentuh dagu, yang lebih mirip gaya pemotretan CEO modern daripada gaya potret abad ke-18.
- Wanita yang ditampilkan dalam galeri, seperti Dolley Madison dan Abigail Adams, juga mendapat makeover digital yang tidak akurat secara sejarah, dengan wajah yang tampak terlalu mulus, mata besar, dan kulit cerah berlebihan.
Sejarawan Isabelle Roughol mengamati bahwa beberapa wanita yang disebut "Ladies of the Revolution" justru aneh karena usia dan penampilan mereka yang tidak sesuai dengan masa Revolusi. Contohnya, Dolley Madison digambarkan sebagai wanita dewasa padahal saat itu usianya baru 8 tahun.
Potret Abigail Adams dalam galeri ini juga sangat berbeda dari lukisan asli, dengan wajah yang tampak seperti karakter film biografi Hollywood, dengan perubahan bentuk hidung dan bibir yang lebih penuh serta mata yang besar ala karakter anime.
Analisis Sejarawan tentang Implikasi Galeri AI
Zara Anishanslin, sejarawan dari University of Delaware, menyatakan bahwa galeri ini cenderung menyamakan wajah dan pakaian para pendiri sehingga menciptakan "narasi seragam" yang tidak mencerminkan keberagaman dan kompleksitas ideologi mereka pada masa itu.
"Ini seperti citra CEO modern yang dipaksakan kepada figur-figur abad ke-18," ujar Anishanslin, menyoroti anomali fashion dan pose di galeri tersebut.
Perbedaan signifikan lain adalah pemakaian jas biru dengan kerah dan dasi yang lebih mirip pakaian abad ke-19, bukan abad ke-18. Bahkan Thomas Jefferson yang dalam potret aslinya memiliki mata coklat, diubah menjadi biru terang, dan beberapa tokoh memakai gaya rambut ala George Washington yang khas.
Hanya satu figur yang tampil berbeda, yaitu penyair Phillis Wheatley, satu-satunya tokoh kulit hitam dalam galeri ini, yang mengenakan gaun berwarna pastel cerah yang kontras dengan jas biru gelap para pria.
Tujuan Pendidikan dan Politik di Balik Galeri
Galeri ini dirancang sebagai sumber edukasi publik seputar peringatan semiquincentennial, dilengkapi dengan video pendek hasil kerja sama dengan organisasi media konservatif PragerU. Video tersebut memulai dengan potret historis yang kemudian bertransformasi menjadi animasi yang menjelaskan peran setiap tokoh dalam sejarah.
Anishanslin berpendapat bahwa keseragaman dan "glossy uniformity" galeri tersebut mengirimkan pesan bahwa para pendiri adalah satu kesatuan ideologi yang solid, padahal sejarah sebenarnya jauh lebih kompleks dan beragam.
Dalam konteks ini, galeri tersebut lebih mengarah pada "heroicizing" atau mengidealkan masa lalu seperti karya seni bersejarah yang mengaburkan realita demi membangun narasi nasionalis yang romantis.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, galeri Freedom 250 dengan makeover AI ini bisa dilihat sebagai cermin dari keinginan politik dan budaya saat ini untuk menata ulang sejarah bangsa dalam versi yang lebih mudah diterima dan dipromosikan secara visual di era digital. Sementara teknologi AI memberikan kemudahan membuat ulang citra, proses ini juga berpotensi mengaburkan fakta sejarah dan menghilangkan keragaman karakter asli para pendiri.
Selain itu, penggunaan gaya modern dan seragam yang diulang-ulang bisa menimbulkan risiko menghapus kompleksitas ideologi dan personalitas para tokoh sejarah, yang sebenarnya merupakan bagian penting dari pemahaman sejarah yang matang. Hal ini juga berpotensi mempengaruhi cara generasi muda memandang sejarah, yang justru membutuhkan konteks yang lebih kaya dan beragam.
Ke depan, penting untuk memantau bagaimana teknologi seperti AI digunakan dalam ranah edukasi sejarah agar tidak hanya sekadar estetika atau propaganda, melainkan juga menghormati keakuratan dan keragaman sejarah. Pembaca dan pengunjung galeri diharapkan tetap kritis dan mencari informasi dari sumber terpercaya agar tidak terjebak pada narasi yang terlalu disederhanakan atau dimanipulasi.
Untuk informasi lebih lanjut dan melihat galeri lengkap, kunjungi situs resmi Freedom 250 di CNN.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0