Mobil Ferrari Viral Dipakai Bocah Main Perosotan, Pemilik Gugat Orang Tua

Jul 4, 2026 - 19:50
 0  3
Mobil Ferrari Viral Dipakai Bocah Main Perosotan, Pemilik Gugat Orang Tua

Sebuah mobil Ferrari 488 GTB yang bernilai miliaran rupiah menjadi viral di China setelah digunakan empat bocah sebagai wahana bermain layaknya perosotan. Kejadian ini memicu kerusakan serius pada mobil sport tersebut, dan pemiliknya pun mengambil langkah hukum dengan menggugat orang tua anak-anak tersebut.

Ad
Ad

Insiden Ferrari Dipakai Bocah Sebagai Perosotan di China

Peristiwa ini terjadi di Kota Kunming, Provinsi Yunnan, saat pemilik Ferrari sedang melakukan perjalanan dinas. Rekaman CCTV yang tersebar menunjukkan empat bocah berusia di bawah 10 tahun tanpa izin memanjat kap mesin, berdiri di kaca depan, berjalan di atap, lalu meluncur di kaca belakang mobil yang mereka jadikan perosotan.

Tidak hanya bermain, keempat anak tersebut juga terlihat menusuk bodi mobil menggunakan batang bambu, sehingga menyebabkan kerusakan pada beberapa bagian kendaraan. Kerusakan meliputi baret dalam di kap mesin, atap, fender, lampu belakang, dan kaca, serta bemper depan yang retak. Mobil Ferrari 488 GTB ini diperkirakan bernilai sekitar Rp 9,5 miliar.

Upaya Damai dan Biaya Perbaikan Mobil Ferrari

Setelah kembali dari perjalanan, pemilik mobil dibuat terkejut dan kecewa dengan kondisi Ferrari-nya. Ia sempat mencoba menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dan memilih untuk tidak memperbaiki kendaraan di bengkel resmi Ferrari yang biayanya bisa mencapai 100 ribu yuan (sekitar Rp 260 juta). Sebagai alternatif, mobil tersebut diperbaiki di bengkel umum dengan menggunakan komponen aftermarket, sehingga hanya menghabiskan biaya sebesar 29.360 yuan atau sekitar Rp 70 juta.

Gugatan Hukum Karena Orang Tua Bocah Enggan Bertanggung Jawab

Sayangnya, upaya mediasi tidak membuahkan hasil. Menurut laporan, orang tua anak-anak tersebut hanya bersedia mengganti kerugian sebesar 5.000 yuan (sekitar Rp 13 juta) dan tidak meminta anak-anak mereka untuk menyampaikan permintaan maaf.

"Dalam mediasi di kantor polisi, orang tua para bocah hanya bersedia membayar ganti rugi 5.000 yuan dan tidak meminta anak-anaknya menyampaikan permintaan maaf," ujar sumber.

Merasa dirugikan secara materi dan emosional, pemilik Ferrari kemudian mengambil jalur hukum dan menggugat orang tua keempat bocah tersebut untuk menuntut ganti rugi sesuai dengan biaya perbaikan mobil.

Menurut hukum di China, anak di bawah usia 14 tahun tidak dapat dikenai sanksi penahanan administratif, sehingga tanggung jawab ganti rugi atas kerusakan kendaraan harus diajukan melalui jalur perdata kepada orang tua atau wali anak-anak tersebut.

Fakta Penting Tentang Kasus Ini

  • Mobil yang dirusak adalah Ferrari 488 GTB dengan harga sekitar Rp 9,5 miliar.
  • Kerusakan terjadi di kap mesin, atap, fender, lampu belakang, kaca, dan bemper depan.
  • Biaya perbaikan di bengkel umum menggunakan komponen aftermarket sekitar Rp 70 juta.
  • Orang tua anak hanya bersedia mengganti Rp 13 juta dan menolak meminta maaf.
  • Pemilik menggugat orang tua anak ke pengadilan untuk menuntut ganti rugi secara penuh.
  • Hukum China mengatur anak di bawah 14 tahun tidak dapat dikenai sanksi pidana, sehingga tanggung jawab ada pada orang tua.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kasus ini bukan sekadar tentang kerusakan sebuah mobil mewah, tetapi mencerminkan masalah tanggung jawab sosial dan perlindungan aset pribadi di tengah masyarakat urban yang semakin kompleks. Kejadian ini memperlihatkan bagaimana kurangnya pengawasan terhadap anak-anak di ruang publik bisa berujung pada kerugian material yang besar dan konflik hukum yang panjang.

Selain itu, langkah pemilik yang memilih perbaikan di bengkel umum dengan komponen aftermarket menunjukkan pragmatisme dalam menghadapi biaya perbaikan mobil mewah yang sangat tinggi. Namun, sikap orang tua yang enggan bertanggung jawab secara penuh dan tidak meminta maaf menimbulkan pertanyaan tentang nilai edukasi dan tanggung jawab keluarga dalam membina anak-anak mereka di era modern.

Kedepannya, masyarakat dan pemerintah perlu memperhatikan aspek perlindungan kepemilikan pribadi serta pengawasan anak-anak di ruang publik agar insiden serupa tidak terulang. Kasus ini juga membuka diskusi penting mengenai peran orang tua dalam membentuk karakter dan tanggung jawab sosial anak sejak dini.

Untuk informasi lengkap, simak berita asli di detikOto dan pelajari lebih lanjut tentang regulasi perlindungan konsumen serta hukum perdata di China pada sumber resmi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad