Serangan Iran di Selat Hormuz Bikin Kapal Tanker Putar Balik, Lalu Lintas Turun Drastis
Selat Hormuz kembali menjadi titik panas keamanan maritim setelah Iran berulang kali melancarkan serangan terhadap kapal tanker dalam sepekan terakhir. Dampaknya, lalu lintas kapal di selat strategis ini menurun drastis karena para awak kapal semakin ketakutan akan keselamatan mereka.
Serangan Iran dan Dampaknya pada Keselamatan Kapal Tanker
Berdasarkan data dari International Maritime Organization (IMO), sejak 6 Juli 2026 telah terjadi sedikitnya sembilan serangan terhadap kapal-kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Iran diduga berusaha memaksa kapal-kapal untuk melintasi perairan teritorialnya, bukan melalui jalur dekat pantai Oman yang mendapat perlindungan militer dari Amerika Serikat (AS).
"Kita melihat penurunan volume kapal yang melintasi Selat Hormuz, dan sekarang para kru kapal semakin khawatir terhadap keselamatan mereka," ujar Dimitris Maniatis, CEO perusahaan jasa risiko maritim Marisks, dikutip dari CNBC pada Sabtu (18/7/2026).
Insiden tragis terjadi pada Selasa lalu ketika seorang pelaut tewas dan tiga lainnya terluka akibat serangan terhadap kapal tanker minyak Al Bahyah di lepas pantai Oman. Pada hari yang sama, 11 awak kapal tanker Mombasa B juga mengalami luka-luka akibat serangan serupa.
Kepala Keamanan BIMCO, Jakob Larsen, menyatakan bahwa Iran menggunakan rudal antikapal dalam serangan-serangan tersebut. Menurut Maniatis, ketakutan para awak kapal kini menjadi faktor utama yang menghambat pelayaran, menggantikan persoalan insentif atau upah yang sebelumnya menjadi perhatian.
Blokade Laut AS dan Respons Militer
Sementara itu, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa militer AS menghentikan sebuah kapal tanker kosong berbendera CuraƧao yang menuju Pulau Kharg, Iran. Kapal tersebut dihentikan karena mengabaikan sejumlah peringatan di tengah pemberlakuan kembali blokade laut AS terhadap Iran.
Larsen juga menyoroti bahwa jalur pelayaran utama di tengah Selat Hormuz masih sangat berbahaya akibat ancaman ranjau laut. Ledakan ranjau di bawah kapal dapat menyebabkan kerusakan yang sangat besar dan membahayakan nyawa awak kapal.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa Selat Hormuz kini terbuka bagi seluruh kapal kecuali kapal milik Iran. Pernyataan ini menyusul pemberlakuan kembali blokade laut terhadap Iran. Menurut Trump, kapal-kapal dari negara lain tetap dapat melintasi selat tersebut tanpa hambatan.
Lalu Lintas Kapal Meningkatkan Kekhawatiran Meski Selat Dinyatakan Terbuka
Meski Presiden Trump menyatakan Selat Hormuz telah kembali dibuka, data dari perusahaan pelacak kapal menunjukkan lalu lintas kapal di selat tersebut justru merosot tajam. Analis Lloyd's menyebut bahwa secara praktik, Selat Hormuz hampir kembali tertutup. Banyak kapal yang masih melintas memilih untuk mematikan transponder atau sistem identifikasi otomatisnya demi menghindari deteksi.
Data dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah dalam tiga pekan terakhir. Pada Kamis, hanya delapan kapal yang melintas, turun dari 15 kapal sehari sebelumnya. Sebagai perbandingan, sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, lebih dari 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Faktor Risiko dan Implikasi Jangka Panjang
Situasi di Selat Hormuz ini menimbulkan risiko besar bagi perdagangan energi global karena selat tersebut merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia. Penurunan lalu lintas dan meningkatnya ancaman serangan juga dapat memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan.
Berbagai pihak kini mengamati perkembangan situasi tersebut dengan cermat, mengingat potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak luas pada stabilitas regional dan ekonomi global.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, eskalasi serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz bukan hanya sekadar aksi militer terbatas, tetapi merupakan simbol ketegangan geopolitik yang lebih dalam antara Iran dan AS beserta sekutunya. Ancaman ini memaksa pelayaran internasional untuk menyesuaikan rute dan strategi keamanan, yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional dan risiko keselamatan awak kapal.
Lebih jauh, blokade laut yang diberlakukan kembali oleh AS mempertegas sikap keras Washington terhadap Iran, namun juga berpotensi memperburuk situasi kemanusiaan dan ekonomi di kawasan. Penurunan tajam lalu lintas kapal dan perlakuan terhadap awak kapal dapat menjadi indikator awal terjadinya gangguan pasokan minyak global yang lebih besar.
Ke depan, publik dan pelaku industri harus terus memantau langkah diplomasi dan militer yang diambil kedua belah pihak. Upaya mediasi internasional dan peningkatan patroli keamanan di Selat Hormuz akan menjadi kunci dalam meredam ketegangan agar tidak meluas menjadi konflik terbuka yang merugikan banyak negara.
Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi sumber asli berita di detikFinance dan pantau perkembangan terbaru dari media terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0