Daftar Negara dan Kelompok yang Bantu Iran Lawan AS dan Israel di Perang Timur Tengah
Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang kini telah memasuki bulan kedua semakin memanas dengan dukungan dari berbagai negara dan kelompok militan. Berbagai bentuk bantuan mulai dari serangan langsung, intelijen, hingga suplai peralatan militer diberikan kepada Iran, memperpanjang ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Peran Rusia dalam Membantu Iran
Rusia menjadi salah satu negara yang paling disorot karena diduga memberikan bantuan strategis kepada Iran secara tidak langsung. Meskipun Moskow tidak secara terbuka mengakuinya, sejumlah laporan menyebut Rusia menyediakan data intelijen militer yang sangat penting bagi Iran.
"Data mengenai aset militer AS yang diterima Iran kemungkinan besar berasal dari Liana, satu-satunya sistem satelit mata-mata Moskow yang beroperasi penuh," ujar Pavel Luzin, pakar militer Rusia dari Jamestown Foundation, dikutip dari CNN Indonesia.
Sistem satelit Liana ini dirancang untuk memata-matai kelompok kapal induk AS dan armada angkatan laut lainnya, memberikan kemampuan intelijen yang sangat dibutuhkan Iran. Selain itu, Rusia juga memainkan peran penting dalam pengembangan program antariksa Iran, termasuk satelit Khayyam yang berfungsi sebagai satelit penginderaan optik.
China dan Dukungan Tidak Langsung ke Iran
China juga memberikan dukungan tidak langsung kepada Iran dengan mengerahkan kapal-kapal pengintai ke kawasan Timur Tengah di awal 2026. Kapal-kapal ini mampu melacak armada militer AS dan menyediakan data penargetan bagi operasi Iran.
Menurut laporan JINSA, perusahaan-perusahaan asal China bahkan telah mempublikasikan citra satelit aset militer AS di wilayah tersebut, termasuk baterai sistem pertahanan THAAD di Yordania dan pesawat tempur F-22 yang dikerahkan di Israel, menunjukkan bahwa China memantau dengan cermat pergerakan militer AS.
Kelompok Houthi di Yaman Melancarkan Serangan ke Israel
Kelompok militan Houthi di Yaman menjadi aktor baru yang terlibat langsung dalam konflik ini dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel. Serangan ini terjadi sebulan setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai.
Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, menyerang Israel dua kali dalam waktu kurang dari 24 jam pada 28 Maret 2026. Meskipun tentara Israel mengklaim berhasil mencegat serangan tersebut, kelompok Houthi berjanji akan terus mendukung "front perlawanan di Palestina, Lebanon, Irak, dan Iran".
Hizbullah Lebanon dan PMF Irak sebagai Sekutu Iran
Di Lebanon, Hizbullah yang merupakan sekutu erat Iran, terus menghadapi serangan Israel yang meningkat sejak awal Maret 2026. Serangan ini dipicu aksi balasan Hizbullah atas pembunuhan tokoh penting Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Meskipun gencatan senjata resmi antara Israel dan Hizbullah telah berlaku sejak November 2024, PBB mencatat ribuan pelanggaran oleh Israel, dengan korban jiwa yang signifikan di pihak Lebanon.
Sementara itu, di Irak, kelompok bersenjata Popular Mobilisation Forces (PMF) yang pro-Iran mengambil bagian dalam konflik dengan menyerang kepentingan AS di Irak dan wilayah lain. PMF sendiri awalnya dibentuk untuk memerangi ISIS atas perintah Grand Ayatollah Ali Sistani.
Ringkasan Bantuan Iran dalam Perang Melawan AS dan Israel
- Rusia menyediakan data intelijen satelit dan dukungan program antariksa.
- China mengerahkan kapal pengintai dan berbagi citra satelit militer AS.
- Houthi (Yaman) melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel.
- Hizbullah (Lebanon) membalas serangan Israel dan berperan aktif dalam konflik.
- PMF (Irak) menyerang kepentingan AS dan bertindak demi Iran.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, keterlibatan langsung berbagai negara dan kelompok tersebut menandai eskalasi serius dalam konflik Timur Tengah yang selama ini bersifat proxy dan tersembunyi. Bantuan intelijen dari Rusia dan China bukan hanya meningkatkan kapabilitas militer Iran, tetapi juga mengindikasikan perubahan geopolitik yang mengarah pada pembentukan blok kekuatan baru di kawasan.
Lebih jauh, partisipasi kelompok militan seperti Houthi dan Hizbullah memperluas medan pertempuran ke wilayah yang lebih luas, tidak terbatas pada Iran dan Israel saja. Ini berpotensi memicu konflik regional yang jauh lebih kompleks dan sulit dikendalikan.
Ke depan, pengamat dan pembuat kebijakan harus mengantisipasi peningkatan serangan asimetris dan kemungkinan intervensi lebih besar dari kekuatan global, mengingat dinamika yang berkembang saat ini. Konflik ini bukan hanya soal Iran melawan AS dan Israel, tetapi juga tentang perebutan pengaruh antara negara-negara besar seperti Rusia dan China di Timur Tengah.
Untuk perkembangan terbaru dan analisis mendalam lainnya, tetap ikuti berita dan laporan dari sumber terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0