Bed Rotting pada Remaja: Kebiasaan Rebahan dan Scroll Media Sosial yang Bisa Berbahaya

Apr 24, 2026 - 07:13
 0  5
Bed Rotting pada Remaja: Kebiasaan Rebahan dan Scroll Media Sosial yang Bisa Berbahaya

Fenomena bed rotting atau kebiasaan rebahan sambil bermain ponsel dan scroll media sosial kini semakin populer di kalangan remaja. Awalnya dianggap sebagai bentuk kemalasan, namun bed rotting menyimpan dimensi psikologis yang lebih dalam dan kompleks.

Ad
Ad

Apa Itu Bed Rotting dan Mengapa Sering Terjadi pada Remaja?

Bed rotting adalah perilaku dimana seseorang menghabiskan waktu lama di tempat tidur dengan aktivitas pasif seperti menonton video atau menggulir media sosial tanpa melakukan kegiatan produktif. Menurut Dr. Yulina Eva Riany, Pakar Pendidikan Anak dan Remaja dari IPB University, bed rotting bukan sekadar kemalasan, melainkan sebuah bentuk ruang jeda psikologis sekaligus eksplorasi diri bagi remaja.

“Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks,” ujar Yulina.

Remaja yang berada pada fase identity vs role confusion atau pencarian jati diri menggunakan dunia digital sebagai ruang eksplorasi. Oleh karena itu, bed rotting kadang menjadi cara mereka menenangkan diri dan menyesuaikan diri dengan tekanan sosial yang dirasakan.

Ambivalensi Bed Rotting: Self-Care atau Maladaptif?

Bed rotting berada di wilayah abu-abu antara self-care dan perilaku maladaptif. Ketika dilakukan dengan sadar untuk memulihkan energi, bed rotting dapat menjadi strategi regulasi diri yang sehat. Namun, jika berubah menjadi pelarian dari tekanan, maka bed rotting masuk ke dalam pola avoidance coping yang berbahaya.

  • Self-care sehat: bed rotting sebagai waktu istirahat dengan kendali penuh, tahu batas waktu, dan mampu kembali beraktivitas.
  • Maladaptif: bed rotting sebagai pelarian yang tidak terkendali, menghindari masalah, dan berpotensi menimbulkan gangguan mental.

Menurut Yulina, bed rotting yang tidak terkontrol bisa menjadi tanda masalah kesehatan mental seperti burnout, kecemasan berlebih, dan depresi. Gejala yang perlu diwaspadai termasuk kehilangan minat, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, serta penurunan fungsi akademik atau pekerjaan.

Membangun Pola Istirahat yang Sehat untuk Remaja

Dr. Yulina menekankan pentingnya membangun pola istirahat yang sehat dan sadar. Istirahat yang efektif bukan hanya soal berdiam diri, tetapi harus memiliki batas waktu yang jelas dan benar-benar membantu memulihkan energi.

  1. Tetapkan batas waktu istirahat agar tidak berlebihan.
  2. Batasi penggunaan gawai di tempat tidur untuk menghindari paparan berlebihan pada media sosial.
  3. Ganti istirahat pasif dengan aktivitas ringan seperti berjalan santai atau peregangan untuk menyegarkan tubuh dan pikiran.

“Self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita,” pungkas Yulina.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena bed rotting pada remaja merupakan cermin dari tantangan mental dan sosial yang mereka hadapi di era digital saat ini. Media sosial yang menjadi ruang eksplorasi sekaligus sumber tekanan menciptakan kebutuhan untuk sesekali berhenti dan menarik diri. Namun, jika kebiasaan ini dibiarkan tanpa batasan, risiko gangguan kesehatan mental meningkat signifikan.

Yang perlu diawasi bukan sekadar durasi rebahan atau scroll, tetapi bagaimana kontrol diri remaja terhadap kebiasaan tersebut. Orang tua dan pendidik harus aktif mengedukasi pentingnya istirahat yang sehat dan mengenali tanda-tanda awal burnout atau kecemasan berlebih. Bed rotting yang berubah menjadi pelarian bisa menjadi alarm penting untuk intervensi lebih dini.

Ke depan, pemahaman terhadap bed rotting harus lebih mendalam dan tidak hanya menghakimi sebagai kemalasan. Pendekatan psikologis yang tepat serta pengelolaan waktu digital menjadi kunci agar remaja dapat memanfaatkan ruang jeda ini sebagai self-care alih-alih jebakan masalah mental. Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi sumber asli di Liputan6 dan baca juga laporan kesehatan mental remaja di CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad