Penanganan Tanah Longsor di Jalur Transportasi Utama Lok Binh dan Dinh Lap 2026
Tanah longsor di jalur transportasi utama di wilayah Loc Binh dan Dinh Lap menjadi perhatian serius sejak akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Tiga proyek peningkatan infrastruktur transportasi utama yang telah selesai dan mulai beroperasi menghadapi tantangan berupa longsor di banyak titik, yang langsung berdampak pada keselamatan pengguna jalan dan keamanan struktur jalan itu sendiri.
Investasi dan Dampak Tanah Longsor pada Proyek Transportasi
Selama periode 2021-2025, Komite Rakyat Provinsi bersama Kementerian Konstruksi menginvestasikan dan mengelola tiga proyek transportasi penting di distrik Loc Binh dan bekas distrik Dinh Lap, yaitu:
- Renovasi dan peningkatan Jalan Raya Nasional 4B dari Km 3+700 hingga Km 18;
- Peningkatan ruas Jalan Raya Nasional 4B dari Km 18 hingga Km 80;
- Penghubungan Jalan Raya Nasional 4B dengan Jalan Raya Nasional 18.
Namun, sejak Mei 2026, bencana alam memicu banyak kejadian tanah longsor yang mengganggu manajemen pemeliharaan dan keselamatan lalu lintas di proyek-proyek tersebut.
Lokasi dan Kondisi Tanah Longsor
Pada tanggal 1 Juli 2026, survei lapangan mengungkapkan adanya sejumlah titik tanah longsor dan penurunan permukaan jalan, antara lain:
- Di ruas Km 18 hingga Km 80 di komune Loc Binh dan Loi Bac terdapat 8 lokasi longsor dan 1 lokasi penurunan permukaan jalan;
- Di jalur penghubung Jalan Raya Nasional 4B dan 18 di komune Chau Son terdapat 5 titik longsor terkonsentrasi antara Km 5-6 dan Km 8-10;
- Di proyek peningkatan Jalan Raya Nasional 4B dari Km 3+700 hingga Km 18 terdapat 1 lokasi longsor di Km 14+700.
Situasi ini memperlihatkan risiko tinggi bagi pengguna jalan. Seorang warga desa Lam Phu, Bapak Chu Van Hung, mengungkapkan bahwa tanah longsor yang terjadi sejak Mei 2026 di jalur Km 8 hingga Km 10 sangat membahayakan keselamatan lalu lintas.
Langkah Penanganan dan Tanggap Darurat
Untuk menghadapi kondisi tersebut, unit manajemen pemeliharaan dan kontraktor konstruksi telah mengambil langkah cepat dan terkoordinasi:
- Penempatan penghalang dan rambu peringatan di kedua ujung lokasi longsor;
- Penggunaan alat berat untuk membersihkan tanah dan bebatuan agar jalan tetap dapat dilalui;
- Siaga penuh personel di lokasi untuk memastikan kelancaran lalu lintas dan mencegah kemacetan lokal;
- Penyusunan rencana teknis jangka panjang untuk penanganan komprehensif area rawan longsor.
Menurut Bapak Nguyen Viet Lan, komandan konstruksi dari Anh Duong Co., Ltd., pemindahan material longsor hanya solusi sementara. Oleh karena itu, investor diarahkan untuk segera mengembangkan rencana perbaikan permanen.
Rencana Investasi dan Pemeliharaan
Wakil Direktur Badan Pengelola Investasi dan Konstruksi Lang Son, Bapak Nguyen Anh Tuan, menyatakan bahwa survei lapangan telah dilakukan dan pengembangan rencana perbaikan sudah dalam tahap persiapan estimasi biaya untuk disetujui dan dilaksanakan pada kuartal ketiga tahun 2026. Target penyelesaian adalah akhir tahun 2026 untuk memastikan keselamatan rute secara menyeluruh.
Selain itu, proyek peningkatan dari Km 3+700 hingga Km 18 menghadapi longsor besar sepanjang hampir 70 meter di Km 14+700 dengan kondisi geologis yang kompleks, menurut Bapak Hoang Duc Thuan, Direktur Badan Manajemen Pemeliharaan Konstruksi. Unit pemeliharaan jalan pun selalu siaga untuk menangani tahap awal dan menjaga keselamatan pengguna jalan.
Untuk ruas yang belum diuji penerimaan (Km 18 hingga Km 80), penanganan longsor masih menjadi tanggung jawab kontraktor. Komite juga memantau secara intensif agar penanganan dilakukan efektif dan tepat waktu.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, masalah tanah longsor ini bukan hanya sekadar tantangan teknis, melainkan juga cerminan pentingnya perencanaan mitigasi risiko bencana dalam pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. Lokasi proyek yang berada di daerah rawan longsor menuntut pendekatan desain yang lebih adaptif dan responsif terhadap kondisi geologi dan iklim setempat.
Langkah cepat dalam penanganan darurat patut diapresiasi, namun solusi jangka panjang harus menjadi prioritas utama untuk mencegah gangguan berulang yang dapat merugikan masyarakat dan ekonomi lokal. Keterlibatan aktif investor dan badan pengelola menunjukkan komitmen yang baik, tetapi transparansi dan komunikasi kepada publik juga penting agar masyarakat bisa lebih memahami risiko dan upaya mitigasi yang sedang dijalankan.
Ke depan, sektor pembangunan infrastruktur di daerah rawan bencana harus mengintegrasikan teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini tanah longsor. Hal ini akan menjadi kunci dalam memastikan keamanan jalur transportasi utama yang vital bagi mobilitas dan pertumbuhan daerah.
Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca laporan asli dari Báo Lạng Sơn.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0