Biaya Lewat Selat Hormuz Dipatok Iran Rp34 Miliar, Ini Faktanya

Apr 10, 2026 - 18:51
 0  4
Biaya Lewat Selat Hormuz Dipatok Iran Rp34 Miliar, Ini Faktanya

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran internasional terpenting yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Namun, wilayah strategis ini kini menjadi pusat perhatian dunia karena konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memengaruhi aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.

Ad
Ad

Iran Tetapkan Biaya Lewat Selat Hormuz Sekitar Rp34 Miliar per Kapal

Dalam upaya mengendalikan perairan Selat Hormuz, Iran mengusulkan tarif hingga US$2 juta atau sekitar Rp34,19 miliar per kapal untuk sekali melintas. Tarif ini diajukan sebagai bagian dari proposal perdamaian yang diajukan Iran dalam konflik dengan AS dan sekutunya. Namun, usulan tarif ini belum diakui oleh Amerika Serikat.

Sejak serangan oleh AS dan Israel pada akhir Februari 2026, Iran memperketat pengawasan dengan membatasi lintasan kapal dan mewajibkan koordinasi militer bagi kapal-kapal yang ingin melintas. Beberapa kapal bahkan harus membayar biaya agar dapat memperoleh jalur yang aman melewati Selat Hormuz.

Rencana pungutan biaya ini mendapatkan penolakan dari komunitas internasional karena dianggap melanggar hukum laut internasional (Unclos). Meski demikian, operator kapal diperkirakan tetap mematuhi aturan tersebut demi keselamatan pelayaran.

Peran Strategis Selat Hormuz dalam Pelayaran dan Konflik Regional

Selat Hormuz adalah jalur vital yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Karena perannya yang sangat strategis, setiap gangguan di Selat Hormuz langsung berdampak pada pasar energi global dan geopolitik kawasan.

Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Lloyd's dan dikutip oleh situs Kementerian Perdagangan China, kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz telah membayar biaya hingga US$2 juta per perjalanan. Beberapa kapal yang diizinkan melintas adalah milik negara tertentu seperti China, sementara kapal dari negara lain diwajibkan membayar biaya tertentu, yang kadang dilaporkan dalam mata uang Yuan.

Gencatan Senjata dan Dampaknya pada Lalu Lintas Kapal

Perkembangan terbaru dalam konflik ini adalah kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang memungkinkan pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Kesepakatan ini terjadi saat konflik memasuki hari ke-40 dan perundingan damai dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada 10 April 2026.

Namun, data pelacakan kapal menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Menurut perusahaan intelijen pasar Kpler, hanya lima kapal yang melintas pada Rabu, turun dari 11 kapal sehari sebelumnya, dan tujuh kapal pada Kamis.

"Meski beberapa pergerakan kapal sudah mulai dilanjutkan, lalu lintas masih sangat terbatas. Pemilik kapal akan tetap berhati-hati, dan kapasitas transit aman diperkirakan maksimal 10 sampai 15 pelayaran per hari jika gencatan senjata bertahan, tanpa mempertimbangkan biaya tol," kata analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic, dikutip dari Al Jazeera.

Selain itu, data dari Lloyd's List Intelligence mencatat lebih dari 600 kapal, termasuk 325 kapal tanker, masih tertahan di Teluk karena penyumbatan jalur di Selat Hormuz.

Ketegangan Politik dan Reaksi Para Pihak

Pada hari yang sama dengan pengumuman gencatan senjata, Presiden AS Donald Trump menuduh Iran tidak memenuhi komitmen membuka "jalur aman" untuk pelayaran selama masa gencatan senjata. Trump menyatakan di media sosial bahwa Iran melakukan "pekerjaan yang sangat buruk dan tidak terhormat" dengan membiarkan minyak melewati Selat Hormuz, yang menurutnya bukan bagian dari kesepakatan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai AS yang tidak menghormati kesepakatan tersebut. Ia juga memperingatkan bahwa Washington harus memilih antara mempertahankan gencatan senjata atau membiarkan konflik berlanjut, merujuk pada serangan Israel di Lebanon.

"Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon," tulis Araghchi dalam unggahan media sosialnya.

Daftar Fakta Penting Biaya dan Situasi Selat Hormuz

  • Tarif yang dipatok Iran: US$2 juta atau sekitar Rp34,19 miliar per kapal sekali jalan.
  • Peran Selat Hormuz: Melalui jalur ini, sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia dipasok.
  • Pengawasan ketat: Iran membatasi lintasan dan memberlakukan koordinasi militer pasca serangan AS-Israel.
  • Penolakan internasional: Tarif dianggap melanggar hukum laut internasional (Unclos).
  • Gencatan senjata: Kesepakatan dua pekan membuka akses pelayaran, tetapi lalu lintas masih terbatas.
  • Jumlah kapal tertahan: Lebih dari 600 kapal, termasuk 325 kapal tanker, masih terjebak di Teluk.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pengenaan biaya tinggi oleh Iran untuk melewati Selat Hormuz merupakan taktik geopolitik yang strategis namun berisiko. Iran berupaya memanfaatkan posisi geografisnya untuk mendapatkan leverage ekonomi dan politik dalam konflik dengan AS dan sekutunya. Namun, langkah ini bisa memperburuk ketegangan internasional dan mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Selain itu, penetapan tarif yang dianggap ilegal oleh komunitas internasional berpotensi menciptakan preseden baru dalam pengelolaan jalur pelayaran internasional. Operator kapal yang harus memilih antara keselamatan dan biaya tinggi akan menghadapi dilema besar, yang bisa berdampak pada kenaikan harga energi dan barang di seluruh dunia.

Ke depan, perkembangan gencatan senjata dan perundingan damai menjadi sangat krusial. Jika solusi diplomatik tidak tercapai, risiko eskalasi konflik dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz akan terus mengancam ekonomi global. Oleh karena itu, publik dan pelaku industri pelayaran harus terus memantau dinamika di kawasan ini dengan seksama.

Untuk informasi lebih lengkap dan perkembangan terbaru, kunjungi sumber asli artikel ini di CNN Indonesia dan berita internasional terpercaya lain seperti Al Jazeera.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad