Ngemil Gorengan dan Risiko Kanker Usus Besar di Indonesia, Waspadai Sekarang

May 20, 2026 - 16:30
 0  5
Ngemil Gorengan dan Risiko Kanker Usus Besar di Indonesia, Waspadai Sekarang

Kebiasaan ngemil gorengan di Indonesia ternyata bukan hal sepele karena dapat meningkatkan risiko terkena kanker usus besar atau colorectal cancer (CRC), khususnya pada kelompok usia produktif 20 hingga 49 tahun. Tren peningkatan kasus kanker di kalangan muda ini menjadi perhatian penting bagi kesehatan masyarakat.

Ad
Ad

Tren Peningkatan Kasus Kanker Usus Besar pada Usia Produktif

Berdasarkan sejumlah studi, kanker usus besar menjadi jenis kanker yang paling banyak menyerang orang dewasa muda. Faktor genetik memang berperan, tetapi gaya hidup dan pola makan yang kurang sehat menjadi penyebab utama yang bisa dicegah. Di Indonesia, kebiasaan ngemil makanan gorengan seperti bakwan, tahu isi, cimol, keripik singkong, dan kentang goreng sangat populer dan mudah ditemukan mulai dari pedagang kaki lima hingga kafe dan restoran mewah.

Akrilamida: Senyawa Berbahaya dalam Makanan Gorengan

Makanan yang digoreng pada suhu tinggi akan menghasilkan akrilamida, senyawa kimia alami yang terbentuk dari reaksi asam amino dan gula dalam makanan kaya karbohidrat. Senyawa ini bukan bahan tambahan pangan melainkan hasil samping proses memasak yang berpotensi berbahaya.

Kandungan akrilamida meningkat seiring lama dan kegelapan penggorengan. Studi keamanan pangan menunjukkan kadar akrilamida dalam keripik kentang bisa berkisar antara 300 hingga lebih dari 2000 µg/kg, sedangkan kentang goreng antara 200 hingga 700 µg/kg.

Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), akrilamida diklasifikasikan sebagai zat yang probably carcinogenic to humans (kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia) karena paparan dosis tinggi dapat merusak DNA dan meningkatkan pembentukan tumor dalam penelitian laboratorium pada hewan.

Senayawa Karsinogenik Lain pada Makanan Gorengan dan Bakar

Tidak hanya akrilamida, senyawa lain seperti Heterocyclic amines (HCAs) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) juga berpotensi memicu kanker. Kedua senyawa ini lebih sering muncul pada daging yang digoreng atau dibakar dengan suhu sangat tinggi hingga gosong.

Hal ini mengindikasikan risiko kanker tidak hanya berasal dari makanan ringan gorengan tapi juga dari kebiasaan memasak makanan dengan cara yang tidak sehat.

Kebiasaan Sehari-hari yang Perlu Dihindari

Berikut adalah beberapa kebiasaan yang sebaiknya dihindari untuk menurunkan risiko kanker:

  • Sering mengonsumsi gorengan dengan tingkat kematangan yang terlalu gelap atau gosong.
  • Mengonsumsi daging bakar atau gorengan dengan suhu tinggi yang berlebihan.
  • Kebiasaan ngemil makanan yang kaya karbohidrat digoreng seperti keripik dan kentang goreng secara berlebihan.
  • Kurangnya variasi pola makan yang sehat dan kaya serat.

Mengganti gorengan dengan pilihan makanan yang lebih sehat seperti buah, sayur, atau camilan rendah lemak dan antioksidan dapat membantu mengurangi risiko ini.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, informasi tentang bahaya akrilamida dan senyawa karsinogenik lain pada makanan gorengan serta bakar harus menjadi peringatan bagi masyarakat Indonesia yang masih gemar mengonsumsi makanan tersebut tanpa memperhatikan dampaknya bagi kesehatan jangka panjang. Kanker usus besar yang meningkat terutama di usia produktif merupakan sinyal bahwa perubahan gaya hidup dan pola makan harus menjadi prioritas.

Lebih jauh, pemerintah dan pelaku usaha makanan harus aktif mengedukasi publik dan menerapkan standar pengolahan yang lebih aman untuk menekan kadar zat berbahaya dalam makanan. Masyarakat juga perlu semakin sadar untuk mengurangi konsumsi gorengan dan beralih ke pola makan yang lebih sehat demi mencegah risiko kanker yang semakin meningkat.

Ke depan, pemantauan dan penelitian lebih dalam terkait konsumsi makanan gorengan serta kaitannya dengan kanker harus terus didorong agar kebijakan dan program pencegahan dapat lebih tepat sasaran dan efektif.

Untuk informasi lanjut, Anda dapat membaca artikel asli di CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad