Putin dan Xi Jinping Peringatkan Dunia Menuju 'Hukum Rimba' Global

May 21, 2026 - 14:20
 0  4
Putin dan Xi Jinping Peringatkan Dunia Menuju 'Hukum Rimba' Global

Rusia dan Cina mengeluarkan peringatan serius bahwa dunia kini bergerak menuju kondisi "hukum rimba" di tengah kian meningkatnya fragmentasi global dan rivalitas geopolitik yang membuat tatanan internasional semakin rapuh. Pernyataan ini disampaikan dalam deklarasi bersama usai pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Presiden Xi Jinping di Beijing, yang dirilis oleh Kremlin.

Ad
Ad

Situasi Global yang Kian Kompleks dan Risiko "Hukum Rimba"

Dalam pernyataan resmi tersebut, kedua negara menyoroti bahwa dunia menghadapi tantangan serius terhadap agenda perdamaian dan pembangunan. Mereka menilai komunitas internasional berpotensi terpecah dan kembali ke pola hubungan yang hanya mengandalkan kekuatan dan dominasi, yang dikenal sebagai "law of the jungle" atau hukum rimba.

Rusia dan Cina mengkritik beberapa negara yang dianggap berusaha mengendalikan urusan dunia secara sepihak dan bermentalitas kolonial, membatasi perkembangan negara lain demi kepentingan sendiri. Menurut mereka, model dominasi semacam ini telah terbukti gagal dan justru memperburuk ketegangan global.

Komitmen Rusia-Cina dalam Kebijakan Luar Negeri

Dalam konferensi pers bersama, Putin dan Xi Jinping menegaskan bahwa kedua negara akan menjalankan kebijakan luar negeri yang independen dan berdaulat. Putin mengatakan:

"Yang paling penting adalah Rusia dan Cina berkomitmen pada kebijakan luar negeri yang independen dan berdaulat, bekerja sama erat dalam kemitraan strategis, serta memainkan peran penting sebagai kekuatan penstabil di panggung global."

Putin juga menyampaikan kesiapan Rusia untuk bekerja sama dengan berbagai mitra internasional, termasuk Amerika Serikat, meski belum menjelaskan apakah kerjasama itu akan mencakup negosiasi terkait perang di Ukraina.

Seruan Perdamaian Ukraina di Tengah Tekanan Barat

Terkait konflik di Ukraina, Rusia dan Cina menyerukan solusi damai jangka panjang dan mendukung semua upaya yang mendukung perdamaian berkelanjutan. Dokumen resmi yang dikutip oleh Interfax menyebutkan bahwa posisi Cina dalam konflik Ukraina dianggap "objektif dan tidak memihak" oleh Rusia.

Rusia menekankan bahwa akar penyebab perang adalah ambisi Ukraina untuk bergabung dengan NATO, sebuah narasi yang sering diperdebatkan secara internasional. Sementara itu, negara-negara Barat menuduh Cina secara tidak langsung membantu Rusia melalui hubungan ekonomi yang tetap berjalan meski banyak negara memberlakukan sanksi.

Sejarah dan Dinamika Hubungan Rusia-Cina

Hubungan antara Moskow dan Beijing memiliki perjalanan panjang dan dinamis, berikut garis waktu penting:

  1. 1949: Mao Zedong mengunjungi Uni Soviet setelah berdirinya Republik Rakyat Cina.
  2. 1961: Terjadi perpecahan Sino-Soviet yang menimbulkan ketegangan meski keduanya memiliki antagonisme terhadap Barat.
  3. 1991: Setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia dan Cina mempererat kembali hubungan mereka.
  4. 2011: Penandatanganan Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Bertetangga Baik yang menandai kemitraan strategis.
  5. 2022: Deklarasi kemitraan "tanpa batas" atau no limits partnership, menjelang invasi Rusia ke Ukraina.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, peringatan bersama Putin dan Xi ini bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan indikasi nyata bahwa dunia sedang menghadapi polarisasi kekuatan yang semakin tajam, yang dapat mengancam tatanan internasional yang selama ini dibangun atas dasar hukum dan kerjasama multilateral. Hukum rimba yang dimaksud mencerminkan kekhawatiran bahwa kekuatan besar akan kembali mengedepankan kepentingan nasional dan dominasi tanpa memperhatikan mekanisme hukum internasional.

Hal ini berpotensi memperumit upaya perdamaian, khususnya dalam konflik seperti di Ukraina, di mana kepentingan geopolitik bertabrakan dengan aspirasi keamanan regional. Kerjasama Rusia-Cina yang semakin erat juga menunjukkan pergeseran kekuatan global menuju multipolaritas baru, yang menantang dominasi Barat selama beberapa dekade terakhir.

Masyarakat dan pengamat internasional perlu mengamati perkembangan ini dengan seksama karena implikasinya sangat luas, mulai dari keamanan global, ekonomi, hingga tatanan diplomasi dunia. Kerjasama strategis antara Moskow dan Beijing bisa menjadi faktor penentu dalam dinamika politik dunia, sementara tekanan terhadap tatanan internasional yang berbasis hukum dapat memicu ketidakpastian dan konflik lebih lanjut.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi berita asli di detikNews dan simak juga analisis dari BBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad