Keluarga Korban Kecelakaan Perlintasan Ketapang Sebut Minim Pengamanan Jadi Penyebab
Kecelakaan tragis yang menimpa sebuah mobil di Perlintasan Kereta Api Ketapang, Jalan Sentot Alibasah, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung, masih menyisakan kontroversi seputar penyebab insiden tersebut. Keluarga korban mengeluarkan hak jawab terkait pemberitaan yang beredar, menegaskan bahwa minimnya pengamanan di lokasi menjadi faktor utama kecelakaan, bukan kelalaian pengemudi seperti yang sebelumnya diberitakan.
Minimnya Pengamanan Perlintasan Jadi Sorotan Utama
Reni Antika, kakak kandung pengemudi mobil, mengungkapkan bahwa kondisi perlintasan sangat berbahaya. Ia menilai bahwa perlintasan tersebut tidak dilengkapi dengan pengamanan memadai seperti palang pintu, petugas penjaga, maupun rambu-rambu peringatan yang jelas. Selain itu, penerangan di lokasi juga sangat terbatas sehingga menyulitkan pengendara untuk melihat potensi bahaya kereta yang melintas.
“Tidak ada tanda-tanda kereta melintas. Kami baru mengetahui saat sudah berada di tengah rel,” kata Reni saat dihubungi pada Sabtu, 3 April 2026.
Lokasi perlintasan memiliki kontur jalan yang berbelok dan menurun, serta terhalang oleh bangunan warga, yang menurut Reni membuat pengendara seolah-olah buta terhadap potensi datangnya kereta api.
Kronologi Kecelakaan dan Klarifikasi Keluarga Korban
Insiden terjadi pada malam takbiran, Jumat, 20 Maret 2026 sekitar pukul 23.30 WIB. Mobil Mitsubishi Xpander bernomor polisi BE 1129 AAM yang dikemudikan Reki Ferdiyansyah melaju dari Jalan Soekarno Hatta menuju jalan tembusan Yos Sudarso. Ketika bagian depan mobil sudah memasuki rel, cahaya lokomotif kereta muncul tiba-tiba dari tikungan. Pengemudi sempat mengerem dan berusaha mundur, namun tabrakan dengan kereta yang melaju dari arah Rajabasa menuju Tarahan tidak dapat dihindari.
“Informasi yang beredar itu tidak benar, bukan seperti itu peristiwa di lapangan,” tegas Reni, mengoreksi sejumlah laporan yang menyebut pengemudi lalai menerobos perlintasan.
Bantahan Soal Dugaan Pemblokiran dan Perusakan Rel
Keluarga korban juga membantah kabar yang menyatakan adanya pemblokiran jalur kereta api pada 25 Maret 2026. Reni menegaskan bahwa tidak ada penutupan jalur dan arus lalu lintas di lokasi tetap berjalan normal. Tuduhan perusakan rel juga ditepisnya. Potongan besi yang sempat viral di media sosial, menurutnya, adalah sisa rel lama yang sudah tidak digunakan lagi.
Reni mengakui sempat ada aktivitas pengangkatan potongan besi tersebut, namun berlangsung singkat, kurang dari satu menit, dan bukan untuk memblokade jalur. Aktivitas tersebut dilakukan sebagai bentuk protes agar ada perhatian serius dari pihak terkait terhadap keselamatan di perlintasan itu.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, insiden kecelakaan di Perlintasan Ketapang ini menggarisbawahi masalah klasik yang sering diabaikan dalam pengelolaan perlintasan kereta api di Indonesia, yaitu minimnya pengamanan dan fasilitas keselamatan. Keberadaan perlintasan tanpa palang pintu, tanpa petugas pengawas, dan tanpa rambu peringatan yang memadai sangat berpotensi menyebabkan kecelakaan fatal. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan operator kereta api.
Selain itu, klaim keluarga korban yang mengkritik minimnya pengamanan menantang narasi umum yang sering kali menyalahkan pengemudi sepenuhnya. Ini membuka diskusi penting tentang tanggung jawab bersama antara pengelola perlintasan dan pengguna jalan. Jika akses menuju rel memang memiliki kontur berbahaya dan keterbatasan visibilitas, maka pengamanan ekstra wajib dipasang untuk mencegah tragedi serupa.
Kedepannya, pembenahan sistem pengamanan perlintasan kereta api harus diprioritaskan, termasuk pemasangan palang pintu otomatis, peningkatan penerangan, dan rambu peringatan yang jelas. Masyarakat juga perlu diberi edukasi tentang bahaya melewati perlintasan kereta tanpa pengamanan. Kami akan terus memantau perkembangan respon pemerintah kota Bandar Lampung dan pihak terkait setelah keluarnya hak jawab ini.
Untuk informasi lebih lengkap dan kronologi resmi kecelakaan, Anda dapat membaca sumber asli di VIVA Lampung serta update dari CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0