Harga Emas Stagnan di Tengah Pelemahan Minyak, Bandar Bosan dengan Janji Trump
Harga emas pada Mei 2026 menunjukkan pergerakan yang sangat terbatas di tengah ketidakpastian pasar global akibat konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran dan fluktuasi harga minyak dunia. Pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi turut menjadi faktor penopang bagi harga logam mulia ini, meskipun sentimen pasar masih dipenuhi kehati-hatian karena janji-janji diplomasi yang sulit dipenuhi.
Harga Emas dan Minyak Terjebak Ketidakpastian Konflik AS-Iran
Menurut data Refinitiv, pada perdagangan Kamis (21/5/2026), harga emas ditutup di US$4544 per troy ons, hanya menguat tipis 0,01%. Kenaikan ini melanjutkan tren positif setelah hari sebelumnya naik 1,4%. Namun, pada Jumat pagi (22/5/2026) pukul 06.45 WIB, harga emas kembali melemah 0,24% ke posisi US$4532,89 per troy ons.
Harga minyak, yang cenderung berfluktuasi, mengalami penurunan karena prospek penyelesaian konflik dengan Iran masih belum jelas. Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran demi memberi waktu bagi proses diplomasi, atas permintaan sekutu Arab Teluk AS. Namun, kemajuan kesepakatan antara AS dan Iran sejak gencatan senjata bulan lalu dinilai sangat minim.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 2%, ditutup di US$96,35 per barel, sementara harga minyak Brent melemah lebih dari 2% ke US$102,58 per barel. Penurunan harga minyak ini berdampak langsung pada sentimen pasar emas.
Peran Imbal Hasil Obligasi dan Dolar AS
Selain harga minyak, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun dan 30 tahun juga menunjukkan penurunan. Imbal hasil tenor 10 tahun turun kurang dari 1 basis poin ke 4,564%, dan tenor 30 tahun turun lebih dari 2 basis poin ke 5,09%. Turunnya imbal hasil obligasi ini biasanya membuat emas lebih menarik sebagai aset lindung nilai.
Namun, pasar tetap berhati-hati karena beberapa kali janji diplomasi yang diumumkan tidak membuahkan hasil konkret.
"Turunnya harga minyak dan pelemahan dolar AS dari level tertinggi enam minggu seharusnya menjadi sentimen positif bagi emas dalam jangka pendek, dan harga emas pun mulai menguat. Namun, saya memperkirakan perdagangan masih akan cenderung berhati-hati pada awalnya. Kita sudah beberapa kali melihat kesepakatan gagal tercapai,"ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.
Dinamika Harga Emas di Tengah Tekanan Suku Bunga
Logam mulia ini telah mengalami penurunan lebih dari 14% sejak awal perang pada akhir Februari 2026, yang mengganggu lalu lintas maritim di Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga energi serta kekhawatiran inflasi. Namun, kenaikan suku bunga yang dipertahankan oleh bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), menjadi sentimen negatif bagi emas.
"Kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi membuat bank sentral berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya. Karena itu, kondisi tersebut masih menjadi sentimen negatif bagi emas dalam jangka pendek,"kata Giovanni Staunovo, analis UBS.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 58% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga minimal 25 basis poin tahun ini, naik dari 48% sehari sebelumnya, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool. Suku bunga yang tinggi biasanya membebani harga emas karena mendorong imbal hasil aset berbunga lainnya.
Pergerakan Harga Perak yang Sejalan
Harga perak juga menunjukkan pergerakan yang terbatas dan cenderung naik tipis. Pada Kamis (21/5/2026), harga perak ditutup di US$76,69 per troy ons atau naik 0,94%, memperpanjang kenaikan setelah lonjakan 2,92% pada Rabu. Namun, pada Jumat pagi, harga perak melemah 0,18% ke posisi US$76,56 per troy ons.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, stagnasi harga emas saat ini mencerminkan kebosanan pasar terhadap janji diplomasi yang belum terealisasi dan ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan. Walaupun turunnya harga minyak dan pelemahan dolar AS biasanya menjadi katalis positif bagi emas, pelaku pasar enggan mengambil posisi besar karena risiko resolusi konflik yang belum jelas. Hal ini menunjukkan bahwa emas saat ini lebih diperlakukan sebagai aset safe haven pasif daripada sebagai instrumen spekulatif.
Selain itu, tekanan dari kebijakan moneter yang ketat oleh The Fed, dengan kemungkinan kenaikan suku bunga yang masih terbuka, menjadi penghambat utama bagi kenaikan harga emas. Ini mengindikasikan bahwa meskipun emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kondisi saat ini sangat kompleks karena adanya kompetisi dengan aset berbunga tinggi di pasar keuangan.
Ke depan, pasar akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan keputusan The Fed. Jika ketegangan mereda dan suku bunga mulai stabil atau turun, harga emas berpotensi kembali menguat. Namun, jika konflik berkepanjangan dan kebijakan moneter ketat berlanjut, emas kemungkinan akan tetap dalam rentang harga yang terbatas.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terbaru terkait harga emas dan dinamika pasar global, Anda dapat membaca laporan lengkapnya di CNBC Indonesia serta sumber terpercaya lainnya seperti CNBC International.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0