China Ancam Balas Larangan Robot Humanoid AS yang Merusak Hubungan Bilateral

Jul 30, 2026 - 11:00
 0  3
China Ancam Balas Larangan Robot Humanoid AS yang Merusak Hubungan Bilateral

Kementerian Perdagangan China pada Kamis mengancam akan melakukan tindakan balasan setelah Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) memberlakukan larangan impor robot humanoid asing dengan alasan risiko keamanan siber. Langkah ini dinilai menyebabkan kerusakan serius pada hubungan ekonomi dan perdagangan antara China dan Amerika Serikat.

Ad
Ad

Larangan Impor Robot Humanoid oleh FCC AS

Pada Selasa lalu, FCC mengumumkan penambahan perangkat robotik canggih, termasuk robot humanoid buatan asing, ke dalam daftar produk yang dibatasi impor ke Amerika Serikat. Meskipun tidak secara eksplisit menyebut negara asal, langkah ini jelas menargetkan produk teknologi tinggi dari China. Namun, FCC menegaskan bahwa model-model robot yang sebelumnya telah disetujui masih diperbolehkan untuk diimpor.

Dalam pernyataannya, Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan eskalasi pembatasan terhadap barang-barang China yang "sangat merusak stabilitas ekonomi dan perdagangan China-AS". Kementerian tersebut mendesak pemerintah AS agar segera menarik keputusan ini dan memperingatkan akan adanya langkah balasan jika kebijakan tersebut tetap dijalankan.

Dampak dan Ancaman Balasan dari China

Menurut Marc Einstein, Direktur Riset di Counterpoint Research, kebijakan ini memberikan pukulan berat bagi produsen robot humanoid China yang tengah bersiap melantai di bursa saham dalam beberapa bulan mendatang. Ia mengungkapkan:

"Dua kartu utama yang bisa dimainkan China adalah memperketat penjualan logam tanah jarang kepada perusahaan AS dan membatasi akses pasar China bagi perusahaan Amerika seperti Tesla dan NVIDIA."

China saat ini menjadi pemimpin pasar dalam bidang robot humanoid, dengan perusahaan seperti Agibot, Unitree, dan UBTech menempati peringkat teratas berdasarkan pangsa pasar instalasi tahun lalu, menurut data Counterpoint. Sementara itu, robot humanoid Tesla, Optimus, berada di posisi kelima.

Saham UBTech yang terdaftar di Hong Kong sempat turun lebih dari 6% pada perdagangan pagi Kamis, sementara Unitree dan Agibot sedang dalam proses pengajuan untuk menjadi perusahaan publik.

Persiapan dan Reaksi Pasar

Robostore, distributor robot humanoid China di Amerika Utara, menyatakan bahwa mereka tengah memperkuat kapabilitas berbasis AS sebagai persiapan menghadapi situasi ini. CEO Robostore, Teddy Haggerty, menyampaikan dalam pernyataan kepada CNBC bahwa ekspansi ini merupakan langkah strategis, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Kebijakan pembatasan ini muncul di tengah persiapan pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan pada September mendatang. Ketegangan dalam persaingan teknologi semakin meningkat, terutama setelah pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang menyebut kemungkinan sanksi terhadap China terkait pencurian model kecerdasan buatan (AI).

Dalam komentar publik terbaru, Presiden Trump juga menyinggung kemungkinan AS akan mengambil sikap lebih hati-hati dalam mengatur AI agar tetap mempertahankan keunggulan teknologi Amerika atas China.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah FCC yang melarang impor robot humanoid asal China bukan hanya sekadar isu perdagangan, tetapi juga bagian dari persaingan strategis antara dua kekuatan ekonomi besar dunia dalam penguasaan teknologi tinggi. Teknologi robotik dan AI adalah sektor kunci yang menentukan dominasi masa depan di ranah industri dan pertahanan, sehingga setiap kebijakan yang membatasi akses teknologi ini berpotensi memicu reaksi berantai yang berdampak luas.

Ancaman balasan China terkait pembatasan ini juga harus dipandang sebagai sinyal bahwa ketegangan di sektor perdagangan dan teknologi akan terus memanas. Pembatasan pasokan logam tanah jarang, misalnya, dapat mengganggu rantai pasok global yang selama ini sangat bergantung pada China, sehingga akan ada konsekuensi yang tidak ringan bagi perusahaan AS dan sekutunya.

Ke depan, publik dan pelaku industri harus mengamati dengan seksama perkembangan kebijakan kedua negara, terutama menjelang pertemuan Presiden Trump dan Presiden Xi. Apakah kedua negara mampu meredam ketegangan atau justru memperkuat pembatasan, akan sangat menentukan arah hubungan ekonomi dan teknologi global selama beberapa tahun mendatang.

Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini, terus ikuti berita di CNBC dan sumber berita terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad