Gen Z di China Pilih Tinggal di Kota Mati, Ini Alasan Harga Sewa Murah
Fenomena unik kini terjadi di China, di mana generasi muda yang dikenal sebagai Gen Z semakin banyak memilih untuk tinggal di kota mati atau kota-kota sepi yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou.
Alasan Gen Z Pilih Tinggal di Kota Mati China
Alasan utama mereka memilih kota mati sebagai tempat tinggal adalah harga sewa rumah dan apartemen yang sangat murah. Fenomena ini berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya yang justru berlomba-lomba pindah ke kota besar demi mengejar karier dan status sosial.
Salah satu contoh nyata adalah Sasa Chen, wanita muda yang memutuskan meninggalkan pekerjaannya di bidang keuangan di Shanghai karena tekanan pekerjaan dan biaya hidup yang tinggi. Dengan penghasilan mencapai US$ 100 ribu per tahun, ia tetap memilih pindah ke pinggiran kota dan tinggal di sebuah apartemen di kawasan tiruan "Venesia-nya China" di Provinsi Jiangsu, China Timur.
Chen hanya membayar uang sewa sekitar 1.200 RMB (sekitar Rp 2,9 juta) per bulan, jauh lebih murah dibandingkan rata-rata sewa apartemen di Shanghai yang bisa mencapai 3.000 RMB hingga 8.000 RMB per bulan.
"Saya kini punya banyak waktu luang, kebebasan untuk melakukan apa pun yang saya inginkan. Saya benar-benar menjalani hidup seperti yang saya inginkan," kata Chen dikutip dari AP News.
Perbedaan Pandangan Generasi Z dan Sebelumnya
Berbeda dengan orang tua mereka, para Gen Z di China saat ini lebih mengutamakan kesehatan mental dan kualitas hidup dibandingkan hanya mengejar karier. Chen misalnya, memilih bangun siang, mengisi hari dengan memasak, bersantai, dan berjalan-jalan, daripada bekerja keras tanpa henti di gedung pencakar langit Shanghai.
Fenomena ini juga didukung oleh fakta bahwa banyak kota mati di China, seperti Tianducheng yang dikenal sebagai "Life in Venice," kini banyak memiliki hunian kosong akibat harga properti yang anjlok pasca pandemi COVID-19.
Kota Mati di China: Peluang dan Tantangan
Selain Tianducheng, kota seperti Hegang di Provinsi Heilongjiang yang dulunya ramai sebagai pusat tambang batu bara kini berangsur menjadi kota sepi karena penurunan aktivitas tambang dan migrasi penduduk ke kota besar.
Banyak agen properti di kota-kota mati ini memanfaatkan hunian kosong dengan menawarkan rumah dan apartemen dengan harga yang jauh lebih murah daripada membeli mobil. Promosi melalui media sosial juga menarik minat tidak hanya penduduk lokal, tetapi juga warga asing untuk membeli properti di sana.
Menurut Chen Zhiwu, profesor keuangan di Universitas Hong Kong, tingginya biaya hidup dan rendahnya peluang kerja di kota besar menjadi pendorong utama perpindahan generasi muda ke kota kecil dengan biaya hidup yang lebih terjangkau.
"Generasi muda zaman sekarang sedang menghadapi kenyataan dan berpikir keras tentang masa depan mereka yang tidak pasti," ujarnya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, tren Gen Z memilih tinggal di kota mati bukan sekadar soal mencari harga sewa murah, tetapi juga merupakan refleksi perubahan nilai hidup dan prioritas generasi muda. Mereka mulai menolak tekanan sosial untuk mengejar karier di kota besar yang penuh stres dan biaya hidup tinggi. Hal ini menandai pergeseran signifikan dalam pola migrasi dan penggunaan ruang urban di China.
Selanjutnya, fenomena ini bisa menjadi early indicator bagi kebijakan pemerintah terkait pengelolaan kota mati. Pemerintah perlu memikirkan bagaimana menghidupkan kembali kota-kota ini agar tidak menjadi beban ekonomi, sekaligus menyediakan infrastruktur dan lapangan kerja yang memadai untuk menarik kembali penduduk.
Selain itu, tren ini juga membuka peluang bagi pengembangan model hunian alternatif yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan, cocok untuk generasi muda yang mengutamakan kualitas hidup. Pembaca sebaiknya terus mengikuti perkembangan ini karena bisa menjadi game-changer dalam dinamika sosial dan ekonomi di China dan bahkan negara lain yang menghadapi masalah serupa.
Ke depan, kita perlu mengamati apakah tren ini akan meluas ke generasi lain dan bagaimana dampaknya terhadap pasar properti, ekonomi lokal, serta kesejahteraan masyarakat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0