Ledakan Video Perang Iran Berbasis AI: Kreator Online Raup Untung dari Misinformasi

Mar 7, 2026 - 10:20
 0  5
Ledakan Video Perang Iran Berbasis AI: Kreator Online Raup Untung dari Misinformasi

Gelombang video perang Iran yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) kini meningkat drastis, dengan para kreator online yang memanfaatkan teknologi generatif AI untuk mendapatkan keuntungan finansial dari misinformasi terkait konflik antara AS-Israel dan Iran. Hal ini diungkapkan oleh para ahli kepada BBC Verify, yang juga menemukan berbagai contoh video dan citra satelit palsu yang digunakan untuk menyebarkan klaim palsu dan menyesatkan tentang perang tersebut.

Ad
Ad

Perkembangan Cepat Teknologi AI dalam Menciptakan Konten Perang Palsu

Menurut Timothy Graham, pakar media digital dari Queensland University of Technology, "Skalanya sungguh mengkhawatirkan dan perang ini telah membuat masalah ini tak bisa diabaikan." Ia menjelaskan bahwa dulu pembuatan video profesional memakan waktu dan biaya besar, namun sekarang semua itu dapat dilakukan dalam hitungan menit dengan alat AI. Batas untuk membuat rekaman konflik sintetis yang meyakinkan kini hampir tidak ada.

Perang yang dimulai dengan serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari ini segera memicu balasan berupa serangan drone dan rudal dari Iran ke Israel, beberapa negara Teluk, serta aset militer AS di kawasan tersebut. Kecepatan perkembangan situasi membuat masyarakat banyak beralih ke media sosial untuk mencari dan membagikan informasi terbaru.

Monetisasi dan Moderasi Konten AI di Media Sosial

Platform media sosial X baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan sementara kreator dari program monetisasi jika memposting video AI tentang konflik bersenjata tanpa label yang jelas. Program ini memberikan imbalan kepada pengguna dengan konten yang mendapatkan banyak interaksi melalui tayangan, suka, dan komentar.

Mahsa Alimardani, peneliti Iran dari Oxford Internet Institute, menilai bahwa ini merupakan sinyal penting bahwa platform mulai memperhatikan masalah besar ini. Namun, upaya serupa dari TikTok dan Meta (Facebook dan Instagram) hingga kini belum mendapat tanggapan.

Salah satu contoh video AI yang terdeteksi BBC Verify menunjukkan serangan rudal ke kota Tel Aviv dengan suara ledakan latar, tersebar dalam ratusan posting dan puluhan ribu kali dibagikan. Beberapa pengguna bahkan meminta chatbot AI X, Grok, untuk memverifikasi video tersebut, namun Grok sering keliru menyatakan video palsu itu asli.

Contoh lain yang viral adalah video AI yang menunjukkan gedung Burj Khalifa di Dubai terbakar dan kerumunan orang berlari, yang beredar luas di masa kekhawatiran terhadap serangan drone dan rudal di kota tersebut. Alimardani menegaskan, "Video palsu seperti ini merusak kepercayaan masyarakat terhadap informasi terverifikasi dan menyulitkan pendokumentasian bukti nyata."

Munculnya Citra Satelit Palsu Berbasis AI

Selain video, BBC Verify juga mengidentifikasi citra satelit palsu yang dihasilkan AI. Misalnya, foto palsu yang mengklaim menunjukkan kerusakan besar akibat serangan Iran terhadap markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. Foto ini sebenarnya merupakan manipulasi dari citra satelit asli yang tersedia secara publik dan dianalisis menggunakan alat deteksi watermark AI dari Google.

Beberapa kendaraan yang sama persis terlihat di posisi yang sama pada kedua foto yang seharusnya diambil dengan jarak waktu satu tahun, menegaskan bahwa ini adalah rekayasa AI. Teknologi AI populer seperti Google Veo, OpenAI Sora, Seedance dari China, dan Grok di X kini semakin mudah diakses dan murah digunakan.

Menurut Henry Ajder, pakar AI generatif, "Jumlah alat yang tersedia untuk membuat manipulasi AI sangat realistis ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kita belum pernah melihat alat-alat ini begitu mudah, murah, dan mudah digunakan."

Victoire Rio, direktur eksekutif organisasi nirlaba What To Fix, menambahkan bahwa lonjakan konten AI ini terjadi karena jalur distribusi ke media sosial hampir bisa otomatis sepenuhnya.

Motivasi Monetisasi di Balik Penyebaran Misinformasi

Kepala produk X mengungkapkan bahwa sekitar 99% akun yang menyebarkan video AI palsu ini bertujuan "memanfaatkan monetisasi" dengan mengunggah konten yang menarik banyak interaksi demi mendapatkan pembayaran melalui program Creator Revenue Sharing.

Meski jumlah akun dan nilai pembayarannya tidak dipublikasi, Graham memperkirakan pembayaran sekitar $8 hingga $12 per juta tayangan pengguna terverifikasi. Syaratnya adalah kreator harus mendapatkan lima juta tayangan organik dalam tiga bulan dan memiliki langganan premium X.

Graham menilai, "Setelah masuk, konten AI viral ini bagaikan mesin pencetak uang. Mereka telah membangun perusahaan misinformasi terbesar."

Kesulitan Menangani Penyebaran Konten AI

Para ahli menyatakan bahwa meskipun banyak perusahaan media sosial berupaya memperbaiki sistem moderasi dan deteksi untuk menghadapi penyebaran konten AI yang cepat dan masif, solusi sederhana belum ditemukan.

Graham menegaskan, "Masalah yang lebih dalam adalah bahwa monetisasi yang berbasis keterlibatan dan informasi yang akurat secara fundamental bertentangan, dan belum ada platform yang mampu menyelesaikan ketegangan ini, mungkin tidak akan pernah."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena ledakan video perang Iran yang dihasilkan AI ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan sudah menjadi tantangan serius bagi integritas informasi global dan stabilitas geopolitik. Monetisasi konten AI yang menyesatkan memperparah penyebaran misinformasi yang dapat memperkeruh situasi konflik dan memanipulasi opini publik secara masif.

Selain itu, ketergantungan platform pada pendapatan dari konten viral berdampak negatif pada kualitas informasi. Kebijakan suspensi yang diterapkan X adalah langkah awal yang baik, namun belum cukup tanpa dukungan transparansi dan tindakan tegas dari platform besar lain seperti Meta dan TikTok.

Kedepannya, publik dan regulator harus mengawasi dengan ketat penggunaan teknologi AI dalam media sosial dan mendorong pengembangan alat deteksi yang lebih canggih. Tanpa itu, ancaman misinformasi AI akan terus meningkat dan mengganggu kestabilan sosial dan politik di era digital ini.

Terus ikuti perkembangan terbaru agar tidak terjebak dalam informasi palsu dan dapat mengambil sikap tepat di tengah dinamika konflik yang cepat berubah ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad