Yovie Widianto: Budaya Indonesia Bisa Jadi Mesin Ekonomi Seperti K-Pop
Yovie Widianto, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, menegaskan bahwa budaya Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi mesin ekonomi kreatif yang kuat, serupa dengan kesuksesan yang diraih Korea Selatan melalui K-Pop dan industri hiburannya. Dalam acara Musical Talks di Jogja Financial Festival 2026, Yovie menyampaikan bahwa budaya bukan hanya ekspresi seni, melainkan aset ekonomi dan alat diplomasi global jika dikelola dengan serius dan kreatif.
Inspirasi dari Korea Selatan dan K-Pop
Yovie mencontohkan bagaimana Korea Selatan sukses mengembangkan industri musik dan budaya popnya menjadi identitas nasional sekaligus mesin ekonomi yang menggerakkan negara. K-Pop, film, drama, fesyen, dan gim menjadi bagian dari creative soft power yang memberikan pengaruh global besar serta membuka peluang ekonomi baru.
"Jika dikelola dengan baik, karya kreatif bisa menjadi identitas nasional, instrumen diplomasi, mesin ekonomi, sampai pengaruh global," kata Yovie.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal budaya yang sangat kaya dan beragam, bahkan melebihi banyak negara lain. Dengan lebih dari 550 simpul budaya dari Sabang sampai Merauke, perbedaan budaya bahkan bisa ditemukan dalam satu wilayah yang sangat berdekatan, seperti perbedaan gaya antara Jogja Selatan dan Jogja Utara.
Potensi Budaya Lokal sebagai Produk Ekonomi Kreatif
Yovie menegaskan bahwa kekayaan budaya lokal tersebut bisa diolah menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi dengan memanfaatkan teknologi, branding, storytelling, dan distribusi digital. Melalui pendekatan ini, nilai budaya Indonesia dapat melampaui batas ruang, waktu, dan pasar.
"Melalui branding, storytelling, dan distribusi digital, nilai budaya dapat melintas batas ruang, waktu, dan pasar," ujarnya.
Selain itu, Yovie juga mengingatkan pentingnya menjaga kebanggaan berbahasa Indonesia di tengah gempuran globalisasi. Ia menegaskan bahwa bahasa Indonesia adalah modal utama dalam membangun ekonomi kreatif nasional.
"Kalau masuk rumah saya, enggak ada lagi bahasa Inggris. Bahasa Indonesia adalah modal utama ekonomi kreatif Indonesia," tuturnya.
Perlindungan Ekonomi bagi Pelaku Industri Kreatif
Selain mengangkat potensi budaya, Yovie juga menyoroti aspek perlindungan ekonomi bagi para pelaku industri kreatif, khususnya musisi dan pencipta lagu. Ia mengungkapkan bahwa meskipun lagunya telah diputar lebih dari 6,3 miliar kali di Spotify, royalti yang diterima pencipta lagu di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Korea Selatan.
- Di Indonesia, satu stream lagu dihargai sekitar satu rupiah dibagi 200.
- Sementara di Korea Selatan, nilai royalti bisa mencapai 27 kali lipat dari angka tersebut.
Yovie menilai sistem ekonomi yang menopang kreator di Korea Selatan menjadi kunci keberhasilan industri kreatif mereka. Oleh karena itu, ia mendorong adanya perbaikan regulasi dan pendekatan yang lebih baik terhadap platform digital agar karya kreatif Indonesia mendapatkan nilai ekonomi yang lebih adil dan layak.
Pengakuan Global dan Tantangan ke Depan
Salah satu bukti kemampuan karya kreatif Indonesia bersaing di panggung global adalah penghargaan yang pernah diraih oleh lagu ciptaan Yovie di Mnet Asian Music Awards (MAMA) di Korea Selatan, di mana karya tersebut bersaing dengan grup K-Pop besar seperti BTS dan NCT.
"Indonesia itu salah satu negara terkaya dari sisi budaya. Tinggal bagaimana sekarang kita menghargainya secara ekonomi," ujar Yovie.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pernyataan Yovie Widianto membuka perspektif penting tentang bagaimana kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam harus dikelola secara strategis agar tidak hanya menjadi bagian dari warisan seni, tetapi menjadi game-changer dalam perekonomian nasional. Dengan memanfaatkan teknologi digital, branding, serta perlindungan hukum yang memadai, Indonesia bisa mencontoh keberhasilan Korea Selatan dalam membangun ekonomi kreatif yang solid dan berkelanjutan.
Namun, tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah bagaimana merumuskan regulasi yang mampu mengakomodasi kepentingan kreator lokal dan memastikan nilai ekonomi karya mereka dihargai secara adil di platform digital internasional. Selain itu, edukasi dan pembinaan terhadap pelaku industri kreatif juga penting agar mereka semakin profesional dan mampu bersaing di pasar global.
Kedepannya, pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya bukan hanya soal meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kancah dunia. Masyarakat dan pemerintah harus terus mendukung ekosistem ini agar budaya Indonesia tidak hanya dikenal, tapi juga menjadi sumber kekuatan ekonomi dan pengaruh global yang nyata.
Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca berita asli di CNBC Indonesia dan mengikuti perkembangan industri kreatif di CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0