Warga Lebanon Tuding Israel Ingin Hapus Kota-Kota Mereka dari Peta Dunia
Sejumlah warga Lebanon menuduh Israel berniat menghapus kota-kota tempat tinggal mereka dari peta dunia melalui serangan yang menghancurkan secara sistematis wilayah-wilayah di Lebanon selatan. Tuduhan ini muncul setelah serangkaian serangan yang dilakukan Israel sejak pecahnya konflik dengan kelompok milisi Hizbullah pada 2 Maret 2026.
Penghancuran Kota-Kota di Lebanon Selatan
Hala Farah, ibu dua anak yang tinggal di Yarun, sebuah kota yang berjarak kurang dari satu kilometer dari perbatasan Israel, mengungkapkan bahwa rumahnya kini hancur tak berbekas akibat serangan Israel. Ia menyampaikan kesedihan mendalam karena anak-anaknya tidak lagi bisa tinggal di rumah keluarga mereka.
"Yang tersisa hanyalah kenangan dan beberapa foto yang kami dan para tetangga coba kumpulkan ... agar kami bisa menceritakan kepada anak-anak kami seperti apa Yarun itu," kata Farah kepada AFP.
Serangan Israel telah menghancurkan banyak kota dan desa di sepanjang perbatasan Lebanon selatan. Kesaksian warga, pejabat setempat, citra satelit, serta dokumentasi jurnalis menunjukkan kehancuran meluas di puluhan wilayah sejak konflik antara Israel dan Hizbullah merebak.
Gencatan Senjata dan Serangan yang Terus Berlanjut
Meskipun kedua belah pihak sepakat untuk gencatan senjata sejak 17 April 2026, serangan dan perataan tanah di wilayah selatan justru semakin intensif. Kota Yarun, yang dulu berdiri kokoh di garis depan pertempuran, kini hampir sepenuhnya hancur.
Citra satelit menunjukkan bahwa kota tersebut mengalami kehancuran signifikan sejak perang sebelumnya di awal 2025, dan kini telah dihancurkan total oleh serangan terbaru yang dilakukan Israel sebagai respons terhadap keterlibatan Hizbullah dalam konflik baru mendukung Iran.
"Israel berusaha melenyapkan semua unsur penting kehidupan yang diperlukan untuk pulang," ujar Farah. "Apa yang terjadi selama gencatan senjata menegaskan bahwa tujuan Israel adalah penghancuran kota-kota di selatan, termasuk Yarun."
Yarun dihuni oleh umat Kristen dan Muslim, dengan mayoritas penduduknya adalah muslim Syiah. Serangan Israel juga menghancurkan gereja dan sekolah umat Kristen di kota tersebut, menandakan dampak luas dari konflik ini terhadap komunitas beragam di Lebanon.
Bint Jbeil: Kota Kuno yang Nyaris Rata dengan Tanah
Tak jauh dari Yarun, sekitar enam kilometer ke utara, terdapat Bint Jbeil, sebuah kota kuno yang menjadi benteng Hizbullah. Sebelum Mei 2026, citra satelit tidak menunjukkan kerusakan besar di Bint Jbeil. Namun, dalam waktu singkat, kota ini nyaris rata dengan tanah akibat serangan berkelanjutan.
Chadi Abdallah, Direktur Penelitian di Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah (CNRS), memperlihatkan perbandingan gambar sebelum dan sesudah serangan yang memaparkan kehancuran besar-besaran di Bint Jbeil.
"Sebagian besar bangunan di Bint Jbeil hancur," kata Abdallah. "Sebagian besar penghancuran terjadi sejak gencatan senjata."
Menurut data CNRS, sejak 2023 lebih dari 290.000 unit rumah telah hancur, dengan 61.000 unit rumah rusak selama perang 2026 dan sekitar 12.000 unit hancur total atau sebagian sejak gencatan senjata. Abdallah menegaskan bahwa Israel berusaha menghapus ingatan dan sejarah masyarakat Lebanon di wilayah tersebut.
Tuduhan Urbisida dan Dampak Kemanusiaan
Menteri Lingkungan Hidup Lebanon, Tamara Zein, menuduh Israel melakukan "urbisida" — penghancuran sengaja wilayah perkotaan — di Lebanon selatan. Serangan ini telah menewaskan lebih dari 3.000 orang menurut pejabat Lebanon.
Peneliti Hanaa Jaber menyatakan bahwa ini merupakan kehancuran terbesar yang pernah dialami Lebanon dalam sejarahnya, dengan lebih dari satu juta orang mengungsi akibat perang ini. Kondisi ini dianggap sebagai "pengusiran paksa dengan dampak yang mengerikan." Imad Bazzi dari Bint Jbeil menambahkan bahwa seluruh aspek kehidupan di kota tersebut hancur mulai dari bangunan, infrastruktur listrik, rumah sakit, sekolah, hingga fasilitas publik seperti pom bensin.
"Apa yang terjadi hari ini adalah perubahan geografi yang terang-terangan. Ini adalah penghancuran sistematis," ujar Bazzi.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, tuduhan warga Lebanon terhadap Israel yang berusaha menghapus keberadaan kota-kota mereka dari peta dunia bukan sekadar retorika dalam konflik politik, melainkan sebuah realita yang sangat mengkhawatirkan. Penghancuran sistematis yang terjadi sejak sebelum dan bahkan setelah gencatan senjata menunjukkan bahwa konflik ini telah melampaui sekadar pertempuran militer biasa dan berubah menjadi upaya untuk menghilangkan jejak budaya, sosial, dan sejarah masyarakat Lebanon Selatan.
Ini bukan hanya soal kehilangan tempat tinggal, melainkan juga kehilangan identitas komunitas yang telah ada selama berabad-abad. Upaya penghapusan seperti ini berpotensi menimbulkan ketegangan berkepanjangan dan sulit dipulihkan, karena dampak psikologis dan sosialnya sangat dalam. Dunia internasional harus memberikan perhatian serius terhadap isu ini dan mendorong penyelesaian konflik yang adil dan berkelanjutan.
Kedepannya, yang perlu diwaspadai adalah apakah upaya rekonstruksi dan pemulihan akan dilakukan secara adil dan menyeluruh, serta bagaimana peran komunitas internasional dalam memberikan tekanan agar hak-hak warga Lebanon terlindungi. Konflik yang berlangsung dan dampak penghancuran ini juga berpotensi memengaruhi stabilitas regional secara luas.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca langsung laporan lengkapnya di CNN Indonesia dan mengikuti perkembangan terbaru dari media internasional.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0