Data Center AI Picu Lonjakan Suhu Tanah hingga 16 Derajat, Studi Ungkap Dampaknya

Apr 2, 2026 - 02:20
 0  4
Data Center AI Picu Lonjakan Suhu Tanah hingga 16 Derajat, Studi Ungkap Dampaknya

Data center yang menjadi pusat perkembangan kecerdasan buatan (AI) ternyata menghasilkan panas dalam jumlah besar sehingga menyebabkan lonjakan suhu tanah hingga 16 derajat Fahrenheit di area sekitarnya, menurut penelitian terbaru yang belum melewati proses peer-review.

Ad
Ad

Fenomena ini cukup signifikan sehingga para peneliti menyebutnya sebagai "pulau panas", yaitu area lokal yang suhunya jauh lebih tinggi karena aktivitas manusia, dalam hal ini akibat operasional data center raksasa yang semakin tumbuh pesat.

Dampak Panas dari Data Center Besar atau Hyperscalers

Penelitian ini menyoroti sekitar 8.400 hyperscalers, istilah untuk data center dengan kapasitas luar biasa besar yang menyediakan layanan komputasi awan dan AI. Dalam 10 tahun terakhir, pembangunan fasilitas ini meningkat drastis, seiring dengan lonjakan kebutuhan AI. Contohnya, data center "Hyperion" milik Meta yang dibangun dengan biaya 27 miliar dolar AS dan diperkirakan memiliki kapasitas komputasi hingga lima gigawatt, setara dengan kebutuhan energi dari sepuluh pembangkit listrik berbasis gas.

Untuk mengisolasi pengaruh data center terhadap suhu, para peneliti memilih lokasi yang relatif terpencil dari pengaruh lingkungan lain. Dengan membandingkan lokasi data center dengan data suhu permukaan tanah dari satelit selama 20 tahun terakhir, ditemukan pola jelas: suhu tanah meningkat rata-rata 3,6 derajat Fahrenheit setelah data center beroperasi, dan dalam kasus ekstrim hingga 16 derajat.

Skala dan Jangkauan Dampak Suhu

Meskipun efek ini bersifat lokal, dampaknya cukup luas, dengan peningkatan suhu masih terdeteksi hingga 6,2 mil dari pusat data. Secara keseluruhan, lebih dari 340 juta orang tinggal di wilayah yang terdampak kenaikan suhu ini.

Fenomena ini juga tercatat secara global, misalnya di pusat data baru di Bajio, Meksiko, dan Aragon, Spanyol, yang keduanya mengalami kenaikan suhu sekitar 3,6 derajat Fahrenheit dalam dua dekade terakhir.

Pandangan Para Ahli dan Mekanisme Pemanasan

Andrea Marinoni, penulis utama studi sekaligus associate professor di Earth Observation Group Universitas Cambridge, mengatakan kepada CNN: "Data center dapat memiliki dampak dramatis terhadap masyarakat, baik dari sisi lingkungan, kesejahteraan manusia, maupun ekonomi."

Namun, beberapa ahli lain mengingatkan perlunya verifikasi lebih lanjut. Ralph Hintemann dari Borderstep Institute for Innovation and Sustainability menilai angka kenaikan suhu tersebut "menarik tapi sangat tinggi" dan menekankan perlunya penelitian lanjutan.

Chris Preist dari Universitas Bristol, Inggris, menyatakan kepada New Scientist bahwa mekanisme kenaikan suhu ini belum jelas sepenuhnya. Ia menduga pemanasan bisa berasal dari panas yang dihasilkan proses komputasi atau panas yang berasal dari bangunan itu sendiri, termasuk efek sinar matahari yang memantul dan memanaskan bangunan. Fenomena ini dikenal sebagai "urban heat island" atau pulau panas perkotaan.

Di sisi lain, kritik keras datang dari Andy Masley, penulis yang sering membantah klaim dampak lingkungan AI. Ia menyebut studi ini "penelitian dan tulisan terburuk tentang AI dan lingkungan yang pernah saya baca", berargumen bahwa efek panas yang terdeteksi mungkin hanya refleksi sinar matahari pada bangunan, bukan panas nyata yang berasal dari tanah.

Dampak Lingkungan Lebih Luas dari Data Center

Terlepas dari kontroversi mengenai besarnya kenaikan suhu lokal, penting untuk tidak mengabaikan dampak lingkungan yang lebih besar dari data center, terutama terkait emisi gas rumah kaca akibat konsumsi energi mereka yang masif.

Menurut Hintemann: "Dari perspektif perubahan iklim, emisi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik untuk data center tetap menjadi aspek yang lebih mengkhawatirkan."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, temuan ini membuka dimensi baru dalam diskusi dampak lingkungan dari ekosistem AI dan data center. Selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada emisi karbon dan konsumsi listrik, namun kenaikan suhu lokal akibat operasi fasilitas ini juga berpotensi menimbulkan efek negatif yang kurang disadari, seperti gangguan ekosistem lokal, kenyamanan termal penduduk sekitar, dan tekanan pada sistem energi pendingin.

Meski perlu penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi mekanisme pastinya, fakta bahwa puluhan juta orang tinggal di daerah yang terdampak harus menjadi alarm bagi pembuat kebijakan dan industri teknologi untuk mempercepat inovasi hemat energi dan desain ramah lingkungan.

Ke depan, pengawasan terhadap lokasi dan desain data center harus semakin ketat, termasuk memanfaatkan teknologi pendinginan yang lebih efisien dan sumber energi terbarukan. Masyarakat dan pelaku industri juga harus mewaspadai potensi dampak lingkungan tersembunyi selain emisi karbon, agar solusi AI tidak justru memperburuk krisis iklim global.

Untuk informasi lebih lengkap terkait riset ini, Anda dapat membaca laporan aslinya di Futurism dan berita terkait di CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad