20% Pekerja Penuh Waktu di AS Mengaku AI Gantikan Sebagian Tugas Mereka
20% pekerja penuh waktu di Amerika Serikat melaporkan bahwa kecerdasan buatan (AI) telah mengambil alih sebagian tugas pekerjaan mereka, menurut survei terbaru yang dirilis pada 9 April 2026. Data ini mengungkap bahwa penggunaan AI semakin meluas di lingkungan kerja, sekaligus memunculkan dinamika baru terkait otomatisasi dan perubahan jenis pekerjaan.
Penggunaan AI di Kalangan Pekerja Amerika
Survei yang dilakukan oleh Ipsos bekerja sama dengan Epoch AI, sebuah lembaga riset nonprofit yang fokus pada dampak dan perkembangan AI, melibatkan 2.000 orang dewasa Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar setengah dari orang dewasa di AS menggunakan AI dalam satu minggu terakhir, baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan.
Dari sisi pekerja penuh waktu, 20% menyatakan AI menggantikan sebagian tugas pekerjaan mereka. Sementara itu, 15% lainnya mengatakan bahwa mereka mulai melakukan tugas-tugas baru yang sebelumnya tidak mereka jalankan, berkat dukungan AI. Margin kesalahan survei ini sekitar 2,5%.
"Ketika kami melihat laporan penggunaan AI, terlihat efek augmentasi dan otomatisasi yang nyata," ujar Caroline Falkman Olsson, yang memimpin riset di Epoch AI. "Namun, kami butuh penelitian lebih mendalam untuk memahami perubahan spesifik dalam pekerjaan dan tugas yang terdampak."
Tren dan Intensitas Penggunaan AI
Survei dilakukan secara online dari 3 hingga 5 Maret 2026. Di antara pengguna AI dalam seminggu terakhir, hampir 50% menggunakan AI antara dua hingga lima hari dalam seminggu. Namun, mayoritas (62,5%) hanya mengerjakan satu hingga dua tugas singkat menggunakan AI pada hari mereka paling intens menggunakan teknologi ini. Sebaliknya, sekitar 6% pengguna memakai AI secara berat sepanjang hari.
Menariknya, sekitar setengah dari pengguna AI yang memanfaatkannya untuk pekerjaan menggunakan langganan pribadi atau versi gratis, bukan langganan dari perusahaan tempat mereka bekerja.
Penggunaan Agen AI dan Layanan Populer
Survei juga menyoroti penggunaan agen AI—sistem AI yang mampu menjalankan tugas secara mandiri. Meski teknologi ini baru mendapatkan perhatian luas dalam beberapa bulan terakhir, sekitar 8% pengguna AI melaporkan telah menggunakan agen AI dalam seminggu terakhir, dibandingkan 49% yang menggunakan AI untuk mencari informasi di web.
"Satu dari 12 orang Amerika telah menggunakan agen AI otonom, yang tidak hanya menjawab pertanyaan tapi juga melakukan tindakan atas nama pengguna," kata Renan Araujo dari Institute for AI Policy and Strategy. "Kemampuan ini belum tersedia dua tahun lalu, dan pertumbuhannya sangat cepat."
Dari sampel 2.000 orang, ChatGPT menjadi layanan AI paling populer dengan 31% pengguna, disusul Google Gemini (21%) dan Microsoft Copilot (10,5%).
Dampak Ekonomi dan Kebijakan
Temuan Epoch AI muncul bersamaan dengan laporan dari bank investasi terkemuka seperti Goldman Sachs dan Morgan Stanley yang juga memantau dampak AI pada tenaga kerja. Menurut analis Goldman Sachs, AI telah menghilangkan sekitar 16.000 pekerjaan per bulan dengan memperhitungkan otomatisasi dan augmentasi. Sebelumnya, mereka memperkirakan AI dapat mengotomatisasi 25% dari total jam kerja.
"Ketika 1 dari 5 pekerja mengatakan AI sudah menggantikan bagian dari pekerjaan mereka, ini sinyal bahwa restrukturisasi pasar tenaga kerja sudah terjadi secara nyata," ujar Nicholas Miailhe, ahli kebijakan AI dari Global Partnership on Artificial Intelligence. "Fakta bahwa penggantian tugas lebih cepat daripada augmentasi harus menjadi perhatian besar. Jendela kebijakan untuk mengatur transformasi AI ini mungkin menutup lebih cepat dari yang diperkirakan pemerintah."
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, survei ini menandai titik kritis dalam evolusi hubungan manusia dan teknologi di dunia kerja. Angka 20% pekerja penuh waktu yang merasakan penggantian tugas oleh AI bukan sekadar statistik, tapi alarm bagi semua pihak—mulai dari pekerja, perusahaan, hingga pembuat kebijakan. Ini menandakan bahwa otomatisasi tidak lagi sebatas teori, tapi sudah nyata dan berimplikasi luas.
Selain itu, fenomena 15% pekerja yang melakukan tugas baru berkat AI menunjukkan ada peluang baru yang juga harus digarap serius. Transformasi pekerjaan ini bukan hanya soal kehilangan pekerjaan, tapi juga pergeseran keterampilan dan tanggung jawab. Pemerintah dan sektor swasta perlu segera mengantisipasi kebutuhan pelatihan ulang (reskilling) dan penyesuaian regulasi agar perubahan ini dapat berjalan adil dan berkelanjutan.
Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana penggunaan agen AI yang semakin meningkat akan mengubah cara kerja, terutama dalam hal efisiensi dan tanggung jawab profesional. Data ini juga mengingatkan kita bahwa akses dan kontrol teknologi AI harus diatur dengan cermat agar manfaatnya maksimal sekaligus meminimalkan risiko sosial dan ekonomi.
Untuk informasi lebih lengkap dan data riset AI terbaru, Anda dapat mengunjungi sumber resmi survei Epoch AI dan Ipsos serta laporan ekonomi dari Goldman Sachs.
Perkembangan AI yang begitu cepat ini menandai era baru di dunia kerja dan memaksa kita semua untuk terus belajar dan beradaptasi. Tetap pantau berita ini agar Anda tidak ketinggalan perubahan yang akan terus bergulir.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0