Pembicara Wisuda Kerap Diboikot Gara-Gara Bicara tentang Kecerdasan Buatan

May 23, 2026 - 22:20
 0  5
Pembicara Wisuda Kerap Diboikot Gara-Gara Bicara tentang Kecerdasan Buatan

Di berbagai universitas di seluruh Amerika Serikat, para pembicara wisuda kembali mendapat boos dari para lulusan baru saat membahas kecerdasan buatan (AI). Alih-alih membangun optimisme tentang teknologi ini, sejumlah kalangan mahasiswa justru menyampaikan kegeraman mereka secara terbuka.

Ad
Ad

Reaksi Negatif Terhadap Pembicara yang Membahas AI

Contohnya, saat Scott Borchetta, seorang eksekutif musik, berbicara di Middle Tennessee State University, ia mengatakan, "Ini adalah alat. Gunakan untuk keuntunganmu." Namun, para mahasiswa justru menyambutnya dengan ejekan. Begitu pula di University of Central Florida, ketika eksekutif real estate Gloria Caulfield menyebut AI sebagai "revolusi industri berikutnya," hadirin yang mengenakan toga langsung menanggapi dengan sorakan negatif.

Namun, yang mendapat reaksi paling keras adalah mantan CEO Google, Eric Schmidt, saat menyampaikan pidato wisuda di University of Arizona pada 15 Mei. Pidatonya diboo nyaris tanpa henti selama beberapa menit.

"Itu benar-benar pengalaman yang paling surreal," kata Bailey Ekstrom, 21 tahun, lulusan ekonomi dan ilmu politik yang hadir saat itu. "Saya belum pernah melihat opini kampus sebersatu itu. Ini seperti referendum mini yang menunjukkan bahwa generasi kami tidak terlalu antusias dengan AI."

Kecemasan Lulusan Baru Terhadap AI dan Masa Depan Karier

Schmidt mendorong para lulusan agar menjadi pengambil keputusan dan membantu membentuk arah perkembangan AI.

"Ketika seseorang menawarkanmu tempat di roket, jangan tanya tempat duduk mana. Langsung naik saja," ujar Schmidt.

Namun, Ekstrom mengingat ada seorang mahasiswa beberapa baris di depan berdiri dan berkata, "F*** this guy" tanpa ditujukan kepada siapa pun secara khusus.

Upaya Schmidt untuk memenangkan hati audiens, dengan mengangkat jari layaknya guru dan menekankan pentingnya imigran serta keberagaman perspektif untuk AI Amerika, justru gagal membalikkan suasana.

Selain itu, sentimen negatif ini juga dipicu oleh kontroversi yang mengelilingi Schmidt, termasuk keterkaitannya dalam file Epstein dan tuduhan pelecehan seksual dari mantan pasangannya, yang ia bantah keras. Sebelum pidato, beberapa kelompok di kampus sudah ingin menggantikan Schmidt sebagai pembicara.

Ketidakpercayaan pada Kebijakan AI dan Kekhawatiran Lulusan

Menurut Ekstrom, sekitar setengah dari lulusan baru percaya AI akan mengurangi jumlah pekerjaan tingkat pemula. Ia menyoroti bahwa generasinya merasa tidak diwakili oleh para pembuat kebijakan AI yang ada.

"Kami merasa para pembuat kebijakan AI saat ini tidak memikirkan kepentingan kami atau bahkan tidak tahu apa yang mereka lakukan," ujarnya.

Ekstrom juga mengingat pengalaman magangnya di Washington, di mana para legislator bahkan tidak bisa mengeja ChatGPT, apalagi memahami teknologi tersebut.

Salah satu lulusan baru lainnya dari Arizona, yang memilih anonim, menambahkan, "Memang ada program AI hebat yang membantu di bidang medis. Tapi itu bukan yang kami keluhkan. Kami kesal karena banyak lamaran kerja tidak lagi dibaca oleh manusia. Kami merasa kami lulus tepat waktu saat AI mulai mengambil alih prospek kerja kami."

Dia menuturkan bahwa sepanjang perkuliahan, AI justru membuat cara berpikir manusia menjadi lebih dangkal, menghasilkan tulisan yang seragam dan berbantuan mesin, bahkan membuat beberapa mahasiswa menangis karena AI tidak memberikan jawaban yang mereka harapkan.

Universitas dan Respon terhadap Protes

Seorang staf University of Arizona mengatakan kepada The Independent bahwa nada pidato Schmidt menunjukkan universitas tidak memahami aspirasi mahasiswa.

Seorang penasihat Schmidt menyampaikan bahwa mantan CEO Google tersebut sangat mendukung kebebasan berbicara dan diskusi terbuka, terutama soal AI, dan menganggap bahwa pidatonya berhasil memicu percakapan, meskipun ada yang tidak setuju.

Dampak Lebih Luas dari Kekhawatiran soal AI

Tidak hanya di kampus, ketidakpuasan terhadap AI juga meluas ke Silicon Valley. Beberapa pekerja teknologi yang membantu mengembangkan AI justru mengalami pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran, bahkan setelah pekerjaan mereka digunakan untuk melatih AI.

"Mereka tidak bisa mendapat pekerjaan. 30-40 persen menganggur, dan mereka menyalahkan AI. Mungkin mereka benar," kata Senator Josh Hawley kepada Fox Business, menanggapi protes keras lulusan 2026.

"Kita ingin teknologi baru menciptakan lapangan kerja, bukan menghancurkannya."

Ketidakpastian Masa Depan dan Harapan Lulusan

Ekstrom berencana pindah ke Seattle untuk menjadi asisten hukum dengan tujuan melanjutkan ke sekolah hukum. Namun, ia mengakui masa depan karier di era AI sulit diprediksi.

"Saya benar-benar tidak tahu seperti apa nanti praktik hukum dengan adanya AI," katanya. "Saya yakin banyak dari kami merasa seperti kelinci percobaan."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, insiden booing terhadap pembicara yang membahas AI di acara wisuda ini mencerminkan kegelisahan mendalam generasi muda terhadap perubahan cepat yang dibawa teknologi ini. Alih-alih menjadi alat pemberdayaan, AI justru dipandang sebagai ancaman nyata terhadap lapangan pekerjaan dan masa depan karier mereka.

Ketidaksiapan pembuat kebijakan dan ketidakpahaman pejabat publik seperti yang disaksikan di kongres semakin memperparah ketidakpercayaan mahasiswa. Ini mengindikasikan perlunya dialog yang lebih inklusif dan kebijakan yang benar-benar memperhatikan aspirasi generasi penerus.

Ke depan, penting untuk mengawasi bagaimana institusi pendidikan dan pemerintah merespon tuntutan mahasiswa serta mengelola perkembangan AI agar tidak semakin memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi. Lulusan yang kini merasa seperti "kelinci percobaan" berhak mendapatkan kepastian dan perlindungan dalam menghadapi revolusi teknologi ini.

Untuk informasi lebih lanjut tentang dinamika AI dan reaksi publik, lihat laporan lengkapnya di sumber asli serta analisis dari CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad