47% Mahasiswa Pertimbangkan Ganti Jurusan Karena Kekhawatiran AI di Dunia Kerja

Apr 10, 2026 - 03:00
 0  3
47% Mahasiswa Pertimbangkan Ganti Jurusan Karena Kekhawatiran AI di Dunia Kerja

Sekitar 47% mahasiswa di Amerika Serikat mempertimbangkan untuk mengganti jurusan kuliah mereka karena kekhawatiran terhadap dampak Artificial Intelligence (AI) pada dunia kerja, menurut survei terbaru dari Lumina Foundation-Gallup 2026 State of Higher Education Study.

Ad
Ad

Survei yang dilakukan secara daring pada Oktober 2025 ini melibatkan 3.801 mahasiswa berusia 18 hingga 59 tahun yang tengah menempuh pendidikan strata satu (S1) maupun diploma (associate degree). Hasil survei menunjukkan bahwa 13% mahasiswa S1 dan 19% mahasiswa diploma sudah mengganti jurusan mereka secara nyata terkait kekhawatiran akan pengaruh AI di lapangan kerja.

Lebih jauh, sekitar 47% keseluruhan mahasiswa—42% mahasiswa S1 dan 56% mahasiswa diploma—mengaku telah memberi pertimbangan cukup serius untuk mengganti jurusan karena AI.

Kekhawatiran Mahasiswa soal Masa Depan Karier

AI telah mengubah cara mahasiswa memandang masa depan mereka, ujar Courtney Brown, Ph.D., Wakil Presiden Impact dan Perencanaan di Lumina Foundation. "Mereka mendengar banyak pemberitaan bahwa AI akan menggantikan banyak pekerjaan," katanya. Hal ini membuat mahasiswa mempertanyakan apakah waktu dan biaya yang mereka investasikan untuk kuliah akan memberikan hasil yang sepadan di masa depan.

Alasan utama mahasiswa mengganti jurusan adalah kekhawatiran bahwa gelar mereka tidak menjamin peluang kerja yang baik. Mereka bertanya, "Jurusan apa yang harus saya ambil agar bisa mendapat pekerjaan setelah lulus?" kata Brown. Kekhawatiran ini lebih besar di kalangan mahasiswa diploma, karena gelar mereka biasanya lebih terkait langsung dengan kebutuhan pasar kerja saat ini.

Ketidakpastian Jurusan yang Relevan di Era AI

Brown menegaskan bahwa mahasiswa merasa bingung menentukan jurusan yang akan tetap relevan di masa depan yang didominasi AI. Survei juga menunjukkan bahwa mahasiswa di bidang teknologi dan vokasi paling banyak mempertimbangkan perubahan jurusan secara signifikan, masing-masing sebesar 27% dan 17%.

Menariknya, mereka juga adalah kelompok yang paling banyak sudah berpindah ke jurusan teknologi dan vokasi. Brown mengakui hal ini tampak kontradiktif, namun sesungguhnya mencerminkan ketidakpastian mereka: "Mereka tidak yakin harus ke teknologi atau menghindarinya," ujarnya. "Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana AI akan mengubah dunia kerja."

AI dan Keputusan Melanjutkan Pendidikan

Tidak hanya jurusan, AI juga memengaruhi keputusan mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Sekitar 1 dari 7 mahasiswa menyebut persiapan menghadapi kemajuan teknologi termasuk AI sebagai alasan utama mereka masuk kuliah, sementara 12% menyatakan kekhawatiran terhadap dampak AI di pasar kerja sebagai faktor penentu.

Namun, tidak semua perguruan tinggi menawarkan pelatihan terkait AI yang memadai. Brown mencatat, "Kebijakan dan kurikulum AI bervariasi di tiap kampus," dan 29% mahasiswa merasa kampus mereka tidak cukup mempersiapkan mereka menggunakan AI setelah lulus.

Akibatnya, mahasiswa membuat keputusan penting terkait karier dan AI tanpa panduan yang jelas dari institusi mereka.

Fokus pada Keterampilan yang Bertahan Lama

Meski demikian, Brown menekankan nilai pendidikan tinggi yang tak tergantikan, seperti keterampilan komunikasi, berpikir kritis, bekerja dalam tim, serta kemampuan menganalisis dan mensintesis informasi.

"Kita tahu teknologi dan dunia kerja akan terus berubah," katanya. "Orang akan terus perlu meningkatkan dan memperbaharui keterampilan mereka, bahkan setelah lulus. Namun, memiliki keterampilan yang 'durable' ini akan sangat membantu."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, tingginya persentase mahasiswa yang mempertimbangkan ganti jurusan akibat AI menandakan kekhawatiran nyata terhadap ketidakpastian dunia kerja di masa depan. Ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan refleksi dari perubahan fundamental yang sedang terjadi di pasar tenaga kerja global.

Ketidakjelasan arah AI terhadap berbagai profesi membuat mahasiswa bingung menentukan jalur pendidikan yang tepat, yang berpotensi berdampak pada penurunan minat di jurusan-jurusan tertentu dan pergeseran besar pada pilihan studi di bidang teknologi dan vokasi. Perguruan tinggi perlu segera merespons dengan kebijakan dan kurikulum yang adaptif agar dapat membekali mahasiswa dengan keterampilan relevan sekaligus memberikan kepastian dan panduan karier yang jelas.

Ke depan, peran perguruan tinggi dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi era AI akan menjadi kunci sukses mereka dalam memenangkan persaingan di pasar kerja. Mahasiswa dan calon mahasiswa harus terus memantau perkembangan kebijakan pendidikan dan tren industri, agar dapat membuat keputusan studi dan karier yang lebih matang dan strategis.

Untuk informasi lebih lengkap, Anda bisa mengakses sumber aslinya di CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad