Salesforce Tetap Relevan di Era AI, Tapi Cara Perusahaan Menggunakannya Berubah

Apr 10, 2026 - 06:20
 0  6
Salesforce Tetap Relevan di Era AI, Tapi Cara Perusahaan Menggunakannya Berubah

Perusahaan tidak akan meninggalkan Salesforce sepenuhnya di tengah ledakan kecerdasan buatan (AI), tetapi cara mereka menggunakan dan apa yang mereka harapkan dari Salesforce kini berubah signifikan. Morgan DeBaun, CEO sekaligus co-founder Blavity, sebuah grup media digital yang fokus melayani audiens kulit hitam, menyoroti penghematan biaya yang didorong AI sebagai faktor utama dalam mempertimbangkan masa depan penggunaan Salesforce.

Ad
Ad

Blavity menghabiskan sekitar US$1 juta per tahun untuk perangkat lunak enterprise dari sekitar belasan vendor, termasuk Salesforce. Namun, setelah kontrak enam digitnya berakhir pada awal 2027, DeBaun berencana mengganti platform manajemen hubungan pelanggan (CRM) Salesforce dengan solusi AI yang lebih hemat biaya. Dia memperkirakan penghematan tersebut bisa mencapai 50% hingga 60%.

Meskipun begitu, DeBaun tidak berniat memutus hubungan sama sekali dengan Salesforce. Dia ingin tetap menggunakan Slack, platform pesan tempat kerja yang dibeli Salesforce senilai hampir US$28 miliar pada 2021. Menurutnya, membangun ulang platform pesan internal yang setara terlalu mahal dan rumit, bahkan dengan bantuan AI. Baru pekan lalu, Salesforce mengumumkan fitur AI terbaru untuk Slack, menyusul pembaruan besar pada Januari 2026. Namun, DeBaun menegaskan dia tidak ingin membayar lebih untuk fitur AI dari Salesforce atau vendor perangkat lunak lain. "Saya berharap fitur AI mereka sudah termasuk dalam paket dasar mereka," katanya. "Yang mereka lakukan adalah mencoba mengenakan biaya tambahan untuk menggunakan fitur AI, padahal seharusnya fitur itu menjadi bagian alami dari produk mereka." DeBaun juga menilai kenaikan harga untuk fitur AI tidak berbanding lurus dengan peningkatan efisiensi yang didapatkan.

Perubahan Paradigma Penggunaan Salesforce di Era AI

Perdebatan di Wall Street terus berlanjut terkait apakah aplikasi yang dibangun dengan asisten pengkodean AI dari perusahaan baru seperti Anthropic dan OpenAI akan menggantikan perusahaan perangkat lunak enterprise tradisional seperti Salesforce. Kekhawatiran terhadap gangguan AI telah menekan saham perangkat lunak sepanjang tahun ini karena investor lebih memilih menjual terlebih dahulu dan bertanya kemudian.

Meskipun alat AI memudahkan perusahaan membangun sistem CRM dan manajemen data kustom, banyak bisnis, seperti Blavity, masih bergantung pada ekosistem produk Salesforce yang lebih luas. Ini menunjukkan bahwa alat AI baru akan lebih mengubah bisnis perangkat lunak enterprise daripada menghilangkannya.

"Gagasan bahwa perangkat lunak dan layanan perangkat lunak sebagai layanan (SaaS) bisa diabaikan di era AI sangat tidak masuk akal," tegas Marc Benioff, CEO dan co-founder Salesforce, dalam wawancara dengan Jim Cramer di "Mad Money" pekan lalu.

Benioff menekankan paradigma baru adalah bagaimana AI dan perangkat lunak dapat bekerja bersama untuk membantu perusahaan, dengan Slack sebagai contoh nyata. "Lima tahun lalu, kami membeli Slack, yang sudah merupakan perusahaan luar biasa, dan sekarang produk itu menjadi lebih baik. Pendapatan kami juga meningkat tiga kali lipat selama lima tahun itu, dengan perkiraan mencapai sekitar US$3 miliar tahun ini," katanya.

Dua Tantangan Utama untuk Perangkat Lunak Enterprise

Tantangan utama bagi perangkat lunak enterprise adalah:

  • Efisiensi lebih tinggi berkat AI yang dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan jumlah lisensi perangkat lunak per pengguna.
  • Perusahaan dapat membuat perangkat lunak sendiri menggunakan alat AI, sehingga mengurangi atau menghilangkan kebutuhan menggunakan Salesforce.

Namun, Benioff menunjukkan panduan pendapatan Salesforce untuk tahun fiskal 2027 sebesar US$45,8 miliar dan hasil kuartal keempat tahun fiskal 2026 yang melebihi ekspektasi sebagai bukti bahwa AI tidak merugikan bisnis mereka. Produk Agentforce Salesforce, yang diluncurkan pada September 2024, telah menutup lebih dari 29.000 kesepakatan dan kini menjadi bisnis dengan pendapatan berulang tahunan sebesar US$800 juta.

Dalam panggilan pendapatan Q4, Benioff menyebut sejumlah merek global seperti Amazon, Ford, General Motors, AT&T, Moderna, dan Pfizer yang memilih Salesforce untuk memimpin transformasi agentiknya. Meski ada antusiasme dari pengguna awal Agentforce, pertanyaan besarnya adalah apakah penjualan Agentforce akan cukup cepat menggantikan bisnis platform legacy yang stagnan.

Kondisi Saham dan Strategi Buyback Salesforce

Saham Salesforce telah turun hampir 15% dalam satu bulan terakhir dan lebih dari 35% sejak awal tahun, diperdagangkan di sekitar US$170 per saham. Setelah pengumuman pendapatan bulan Februari, saham sempat naik 4% dan sempat menembus US$200 pada Maret sebelum kembali turun.

Dengan harga saham jauh di bawah rekor tertinggi hampir US$368 pada Desember 2024, Salesforce memanfaatkan kesempatan ini untuk meluncurkan program pembelian kembali saham senilai US$25 miliar yang didanai dengan utang, bagian dari rencana buyback sebesar US$50 miliar. Ini merupakan jumlah besar untuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar sekitar US$162 miliar.

"Harga ini sangat rendah," kata Benioff saat panggilan pendapatan Februari.

Meski optimistis, Salesforce tetap waspada terhadap risiko. Valmik Desai, wakil presiden hubungan investor Salesforce, menyatakan kepada CNBC bahwa mereka memiliki "paranoia sehat" terhadap kemungkinan gangguan teknologi. Namun, Desai juga mencatat bahwa banyak perusahaan yang sempat bereksperimen membuat alat sendiri kini kembali ke Salesforce.

Prediksi Analis dan Masa Depan Salesforce

Banyak analis Wall Street tetap optimis terhadap Salesforce yang beradaptasi dengan lanskap yang berubah. Citizens mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga US$315 setelah acara Slack terbaru. Asisten AI dalam Slack menyediakan solusi serba ada yang memungkinkan pengguna mengambil data, menyetujui alur kerja, dan menyelesaikan tugas tanpa harus menggunakan antarmuka tradisional.

Pat Walravens, kepala riset ekuitas teknologi di Citizens, menjelaskan bahwa meskipun alat AI memudahkan pembangunan perangkat lunak kustom, opsi ini lebih cocok untuk perusahaan kecil atau baru. Untuk perusahaan besar dengan tata kelola data yang kompleks dan penting, membangun sistem dari awal berisiko tinggi.

"Jika salah, konsekuensinya sangat besar," ujarnya. Oleh karena itu, Walravens percaya perusahaan besar akan tetap menggunakan vendor besar seperti Salesforce, ServiceNow, dan Workday yang semakin menyediakan solusi agentik.

Saat ini, 74% rumah riset memberikan rekomendasi beli atau setara pada saham Salesforce, 24% merekomendasikan tahan, dan hanya 2% yang menjual, menurut FactSet.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, perubahan sikap perusahaan terhadap Salesforce di era AI bukan berarti perusahaan akan meninggalkannya, melainkan menuntut evolusi dalam penawaran produk dan model harga. Teknologi AI membuka peluang efisiensi dan kustomisasi, namun risiko dan kompleksitas membangun sistem sendiri menjadi penghalang bagi banyak perusahaan besar.

Salesforce harus mampu menyesuaikan produk mereka agar fitur AI menjadi bagian integral tanpa menambah biaya signifikan, sesuai keinginan pelanggan seperti Blavity. Strategi buyback besar-besaran menunjukkan keyakinan perusahaan terhadap nilai jangka panjang dan potensi adaptasi mereka di pasar.

Ke depan, penting untuk mengamati bagaimana Salesforce dan pesaingnya mengintegrasikan AI secara seamless ke dalam ekosistem mereka dan merespons tekanan harga serta ekspektasi pelanggan. Perusahaan yang bisa menggabungkan kekuatan AI dengan produk yang mudah diadopsi dan hemat biaya akan memenangkan pasar perangkat lunak enterprise di masa depan.

Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca langsung artikel sumber dari CNBC.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad